Rupiah Melemah Lagi usai The Fed Tahan Suku Bunga, IHSG Turun

  • 18 Jun 2026 16:41 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75 persen kembali memberi tekanan pada pasar keuangan domestik.

Menurut Gunawan, The Fed tidak hanya menahan suku bunga, tetapi juga memproyeksikan tekanan inflasi di Amerika Serikat, khususnya melalui indikator Personal Consumption Expenditure (PCE), masih akan tetap tinggi hingga tahun 2028.

"Kondisi ini mengindikasikan bahwa The Fed masih berpeluang mengambil kebijakan yang lebih hawkish ke depan," kata Gunawan.

Ia menjelaskan keputusan tersebut mendorong penguatan indeks dolar Amerika Serikat (USD Index) ke level 100,24. Dampaknya, nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan dan melemah ke level Rp17.850 per dolar AS pada perdagangan pagi.

"Rupiah tertekan karena pasar melihat peluang The Fed untuk tetap mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan masih terbuka kemungkinan kenaikan satu hingga dua kali lagi pada tahun ini," ujarnya.

Selain kebijakan The Fed, tekanan terhadap rupiah juga datang dari langkah Bank Sentral Jepang (BoJ) yang menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1 persen. Kenaikan ini menjadi level tertinggi Jepang dalam 31 tahun terakhir.

Menurut Gunawan, kebijakan BoJ turut memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, karena yen selama ini menjadi salah satu mata uang utama dalam transaksi carry trade.

Di tengah pelemahan rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pembukaan perdagangan ikut bergerak turun ke level 6.191.

Gunawan menilai pelemahan IHSG terjadi meski mayoritas bursa saham Asia bergerak mixed dengan kecenderungan menguat. Hal itu menunjukkan pasar domestik lebih dipengaruhi sentimen internal dan tekanan kurs.

Selain itu, investor juga cenderung berhati-hati menjelang pengumuman hasil review MSCI (Morgan Stanley Capital International) yang dijadwalkan berlangsung pada sesi perdagangan Eropa.

"Pasar menunggu apakah Indonesia tetap bertahan sebagai emerging market atau justru turun menjadi frontier market," katanya.

Sementara itu, harga emas dunia relatif tertahan di level 4.318 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,49 juta per gram. Menurut Gunawan, emas masih mendapat dukungan dari tingginya ketidakpastian global meskipun tekanan dari kebijakan suku bunga tinggi masih membatasi ruang penguatan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....