MSCI Pertahankan Status Indonesia, IHSG Ditutup Menguat Tipis

  • 19 Jun 2026 20:21 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG berhasil ditutup menguat tipis 0,08 persen ke level 6.177,139 pada perdagangan Jumat, 19 Juni 2026. Penguatan tersebut terjadi setelah IHSG sempat mengalami tekanan cukup dalam selama sesi perdagangan berlangsung.

Menurut Gunawan, IHSG sempat menyentuh level 6.117 sebagai posisi terendah pada perdagangan hari ini sebelum akhirnya berbalik arah dan ditutup di zona hijau. Sejumlah emiten yang berkontribusi terhadap penguatan indeks antara lain BMRI, DSSA, ASII, UNVR, dan ISAT.

Gunawan menjelaskan, sentimen positif datang setelah Morgan Stanley Capital International atau MSCI memastikan pasar saham Indonesia tetap masuk dalam kategori emerging market. Keputusan tersebut dinilai mampu menghindarkan pasar domestik dari potensi koreksi yang lebih dalam.

"Setelah MSCI memastikan bahwa pasar saham di tanah air tetap masuk dalam kategori emerging market, pada dasarnya kabar tersebut bisa menghindarkan potensi koreksi besar pada IHSG," kata Gunawan Benjamin.

Meski demikian, penguatan IHSG masih dibayangi pelemahan nilai tukar rupiah. Pada perdagangan hari ini, rupiah sempat menyentuh level Rp17.850 per dolar Amerika Serikat sebelum akhirnya mengurangi tekanan dan ditutup melemah di level Rp17.775 per dolar AS.

Menurut Gunawan, pelemahan rupiah sempat menyeret IHSG ke zona merah pada sesi perdagangan pagi. Namun kondisi pasar mulai membaik memasuki sesi kedua perdagangan seiring berkurangnya tekanan terhadap mata uang domestik.

"Di sesi perdagangan pagi, IHSG sempat mengalami koreksi besar sejalan dengan pelemahan rupiah. Namun memasuki sesi perdagangan kedua, mata uang rupiah mulai mengurangi kerugiannya meskipun tetap ditutup melemah," ujarnya.

Sementara itu, harga emas dunia kembali mengalami tekanan dan ditransaksikan di level 4.153 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,38 juta per gram. Pelemahan harga emas terjadi di tengah munculnya spekulasi mengenai potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed.

Meskipun demikian, Gunawan menilai harga emas masih mendapat dukungan dari membaiknya situasi geopolitik menyusul tercapainya perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat yang berpotensi meredakan tekanan inflasi global.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....