Rupiah Kembali Melemah, Pasar Waspadai Kebijakan The Fed

  • 17 Jun 2026 17:40 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan pelaku pasar keuangan global saat ini tengah menanti keputusan penting dari Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) terkait arah kebijakan suku bunga acuannya.

Menurutnya, mayoritas pasar saham Asia pada perdagangan pagi, Rabu, 17 Juni 2026 bergerak mixed dengan kecenderungan melemah. Fokus investor tertuju pada rapat kebijakan moneter The Fed yang akan digelar pada malam hari waktu Amerika Serikat.

"Sejauh ini The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,75 persen. Namun pasar masih melihat nada kebijakan The Fed cenderung hawkish," kata Gunawan.

Ia menjelaskan sikap hawkish dari The Fed berpotensi memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, terutama jika disertai sinyal kebijakan moneter ketat untuk periode berikutnya.

Di sisi lain, perkembangan geopolitik juga menjadi perhatian pasar. Amerika Serikat dikabarkan akan menyampaikan rincian kesepakatan perdamaian dengan Iran kepada Kongres AS. Hal itu membuat tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai mereda, meski pasar masih menunggu kepastian resmi dari kedua pihak.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pembukaan perdagangan bergerak menguat di level 6.321 dan masih bertahan di zona hijau.

Menurut Gunawan, penguatan IHSG terjadi di tengah minimnya sentimen negatif dari pasar domestik. Namun penguatan tersebut masih dibayangi pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali turun ke level Rp17.750 per dolar AS.

"Tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat menjelang keputusan suku bunga The Fed," ujarnya.

Gunawan menyebut ada dua skenario yang dapat memperburuk pelemahan rupiah. Pertama, jika The Fed mempertahankan suku bunga namun memberikan pandangan yang lebih hawkish untuk ke depan. Kedua, jika The Fed justru mengejutkan pasar dengan menaikkan suku bunga.

Menurutnya, kedua skenario tersebut sama-sama berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan menekan mata uang emerging market.

Di pasar komoditas, harga emas dunia masih bertahan di kisaran 4.343 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,27 juta per gram.

Gunawan menilai harga emas saat ini masih mendapat dukungan dari rencana kesepakatan damai antara Iran dan AS. Namun, prospek emas tetap dibayangi potensi kebijakan moneter ketat dari The Fed.

"Untuk sementara waktu pelaku pasar masih memilih wait and see sambil menanti hasil rapat The Fed malam ini," ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....