Yield SBN Naik, Rupiah Kembali Tertekan dan IHSG Volatil
- 11 Jun 2026 10:05 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax mulai memberikan dampak terhadap pasar keuangan domestik. Salah satu indikator yang mencerminkan kondisi tersebut adalah meningkatnya imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun.
Menurutnya, yield SBN 10 tahun naik menjadi 7,48 persen setelah pemerintah menaikkan harga Pertamax sebesar Rp3.950 per liter. Angka tersebut mendekati level psikologis 7,6 persen yang berpotensi menjadi posisi tertinggi dalam lima tahun terakhir.
"Kenaikan yield SBN menunjukkan adanya perubahan persepsi risiko di pasar dan menjadi salah satu indikator yang perlu dicermati pelaku pasar," kata Gunawan, Kamis, 11 Juni 2026.
Pada perdagangan pagi ini, nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan dan ditransaksikan di level Rp17.960 per dolar AS. Pelemahan rupiah terjadi setelah rilis data inflasi Amerika Serikat yang sesuai dengan ekspektasi pasar.
Gunawan menjelaskan inflasi tahunan Amerika Serikat tercatat naik menjadi 4,2 persen secara tahunan (year on year). Kondisi tersebut memperkuat spekulasi bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut.
"Data inflasi yang masih tinggi membuat pasar memperkirakan kebijakan moneter The Fed tetap ketat dalam waktu dekat," ujarnya.
Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah ke level 5.899. Namun hingga sesi pagi, pergerakan indeks terpantau cukup fluktuatif karena bergerak bergantian di zona merah dan zona hijau.
Menurut Gunawan, volatilitas IHSG tidak terlepas dari tekanan yang juga dialami mayoritas bursa saham di kawasan Asia.
Meski demikian, kenaikan yield SBN berpotensi menjadi faktor pendukung bagi pasar karena dapat menarik tambahan likuiditas, baik dalam bentuk rupiah maupun valuta asing.
"Hanya saja kondisi global saat ini belum sepenuhnya mendukung penguatan rupiah karena imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun masih bertahan tinggi di kisaran 4,548 persen," katanya.
Selain itu, indeks dolar AS (USD Index) juga masih bertahan di sekitar level 99,91 sehingga membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, tetap menghadapi tekanan.
Sementara itu, harga emas dunia kembali melemah dan ditransaksikan di kisaran 4.090 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,37 juta per gram.
Gunawan menilai tekanan terhadap harga emas lebih banyak dipicu ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga global yang berpotensi tetap tinggi dalam waktu dekat.
"Prospek kenaikan atau bertahannya suku bunga tinggi menjadi sentimen utama yang menekan harga emas saat ini," ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....