Yield SRBI Tembus 7 Persen, Rupiah, IHSG, dan Emas Kompak Menguat
- 15 Jun 2026 19:43 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan penguatan pasar keuangan domestik pada perdagangan Senin, 15 Juni 2026 didorong oleh membaiknya sentimen geopolitik global, serta meningkatnya minat investor terhadap instrumen surat berharga di Indonesia. Kabar kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama beberapa bulan, turut mendorong optimisme pelaku pasar.
Mayoritas bursa saham di Asia diperdagangkan di zona hijau. Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dibuka menguat pada level 6.118. Sementara itu, nilai tukar rupiah juga mencatat penguatan ke posisi Rp17.745 per dolar Amerika Serikat pada sesi perdagangan pagi.
Menurut Gunawan, penguatan rupiah tidak hanya ditopang sentimen geopolitik, tetapi juga dipengaruhi meningkatnya daya tarik instrumen surat utang domestik. Imbal hasil Surat Berharga Negara atau SBN tenor 10 tahun yang sebelumnya sempat mendekati 7,5 persen kini berada di kisaran 7,165 persen.
Selain itu, yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI tenor 12 bulan yang mencapai sekitar 7,5 persen, turut menjadi magnet bagi investor asing untuk menempatkan dananya di Indonesia.
"Kenaikan yield SRBI tenor 12 bulan setelah Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebelumnya, menjadi daya tarik bagi investor asing untuk masuk ke instrumen surat utang. Kondisi ini turut mendorong penguatan mata uang rupiah," kata Gunawan.
Gunawan menilai IHSG dan rupiah berpeluang bertahan di zona positif sepanjang perdagangan, karena masih didukung sentimen yang relatif kondusif. Selain itu, minimnya agenda rilis data ekonomi penting juga membuat tekanan terhadap pasar keuangan cenderung terbatas.
Sementara itu, harga emas dunia juga mengalami penguatan. Pada perdagangan hari ini, emas ditransaksikan di level 4.335 dolar AS per ons troy atau setara sekitar Rp2,48 juta per gram.
"Harga emas punya potensi untuk menguat lebih tinggi. Meskipun saat ini pelaku pasar masih mengkhawatirkan kemungkinan memburuknya laju tekanan inflasi yang berpotensi memicu respons kenaikan suku bunga acuan The Fed," ujarnya.
Gunawan menambahkan, selama sentimen geopolitik tetap kondusif dan arus dana asing masih mengalir ke instrumen keuangan domestik, pasar keuangan Indonesia berpeluang melanjutkan penguatan dalam jangka pendek.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....