IHSG dan Rupiah Menguat Bersamaan, Harga Emas Bertahan Ditengah Tekanan Hebat

  • 10 Jun 2026 19:57 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah kembali mencatat penguatan pada perdagangan Rabu, 10 Juni 2026, ditopang sentimen positif dari kebijakan moneter Bank Indonesia serta rencana aksi buyback saham oleh sejumlah emiten.

Menurutnya, kabar rencana pembelian kembali saham atau buyback yang mencuat dalam beberapa hari terakhir berhasil meningkatkan optimisme pelaku pasar dan mendorong pemulihan IHSG.

"Selain sentimen buyback saham, pasar juga masih merespons positif keputusan Bank Indonesia yang sebelumnya menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,5 persen," kata Gunawan.

IHSG pada penutupan perdagangan tercatat menguat 2,71 persen ke level 5.902,376. Penguatan tersebut terjadi di tengah mayoritas bursa saham Asia yang justru mengalami pelemahan.

Gunawan menilai pergerakan IHSG kali ini lebih banyak dipengaruhi sentimen domestik dibandingkan faktor eksternal. Bahkan pasar cenderung mengabaikan data Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) yang turun ke level 120 pada Mei 2026.

Menurutnya, penurunan IKK sebenarnya mencerminkan masih adanya tekanan terhadap daya beli masyarakat dan menjadi indikasi bahwa konsumsi rumah tangga belum sepenuhnya pulih.

"Turunnya indeks kepercayaan konsumen menunjukkan masyarakat masih berhati-hati dalam melakukan belanja," ujarnya.

Di pasar valuta asing, rupiah juga menunjukkan penguatan dan ditutup pada level Rp17.950 per dolar AS. Penguatan tersebut didukung oleh pelemahan indeks dolar AS (USD Index) yang bergerak di bawah level 100.

"Meski masih relatif kuat di kisaran 99,9, pelemahan USD Index memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat," katanya.

Sementara, harga emas dunia masih berada dalam tekanan dan ditransaksikan di kisaran 4.178 dolar AS per ons troy. Dalam 24 jam terakhir, harga emas turun cukup tajam dari level sekitar 4.350 dolar AS per ons troy.

Gunawan menjelaskan tekanan terhadap emas terjadi setelah Amerika Serikat melakukan serangan terhadap Iran yang memicu perubahan sentimen di pasar global.

"Serangan tersebut menunjukkan bahwa harapan tercapainya perdamaian antara kedua pihak masih jauh dari kenyataan," ujarnya.

Saat ini harga emas berada di kisaran Rp2,41 juta per gram. Menurut Gunawan, prospek pemulihan emas masih menghadapi tantangan karena pasar dibayangi ketidakpastian geopolitik serta kekhawatiran terhadap potensi kenaikan inflasi global.

"Kekhawatiran terhadap inflasi dan memburuknya ketegangan geopolitik membuat pergerakan emas masih sangat fluktuatif dalam jangka pendek," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....