Pengamat Nilai Pernyataan Prabowo Soal Rupiah Hanya Gaya Komunikas

  • 19 Mei 2026 10:52 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai pernyataan Presiden Prabowo yang menyatakan "orang desa tak butuh dolar" bukan bentuk ketidakpahaman terhadap kondisi ekonomi. Pernyataan itu menurutnya merupakan gaya komunikasi yang digunakan kepala negara.

“Saya yakin sekali mustahil Presiden tidak paham akan hal tersebut. Dampak pelemahan rupiah terhadap mata uang US Dolar jelas akan berpengaruh terhadap kinerja perekonomian secara menyeluruh, termasuk masyarakat yang ada di pedesaan,” ujar Gunawan, Selasa, 19 Mei 2026.

Gunawan menjelaskan dampak sederhana yang bisa dirasakan masyarakat adalah kenaikan harga tempe. Menurutnya, bahan baku kedelai yang masih diimpor akan membuat harga tempe semakin mahal saat nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS.

Berdasarkan wawancaranya dengan pedagang, harga tempe saat ini masih dijual dengan harga yang sama, namun bobotnya mulai dikurangi. Kondisi tersebut menunjukkan harga tempe sebenarnya mengalami kenaikan.

Menurut Gunawan, komentar Presiden terkait pelemahan rupiah merupakan bagian dari gaya komunikasi politik.

“Tidak mungkin istana tidak mengetahui dampak buruk dari pelemahan rupiah tersebut,” ucapnya.

Selain itu, ia mengatakan pelaku pasar di sektor keuangan sejauh ini juga tidak terlalu merespons pernyataan Presiden. Kinerja pasar keuangan seperti IHSG dan rupiah masih bergerak mengikuti dinamika geopolitik dan ekonomi global.

“Pelaku pasar akan tetap fokus pada upaya pemerintah untuk meredam gejolak mata uang rupiah melalui kebijakan moneter dan fiskal,” kata Gunawan.

Menurutnya, rupiah sejauh ini masih terus mengalami tekanan. Kondisi tersebut sejalan dengan kenaikan imbal hasil US Treasury 10 tahun, kenaikan harga minyak mentah dunia, eskalasi perang yang meningkat, penurunan outlook credit rating Indonesia, hingga masalah defisit anggaran dan ancaman inflasi tinggi di dalam negeri.

“Saya tidak yakin pernyataan Presiden akan berpengaruh terhadap kondisi perekonomian. Karena pelaku ekonomi akan lebih cenderung fokus pada faktor fundamental maupun sentimen yang berkembang di lapangan,” ucapnya.

Meski demikian, Gunawan mengatakan kebijakan pengelolaan anggaran yang menekankan belanja besar-besaran dan memicu kenaikan defisit, justru akan membuat rupiah semakin mudah melanjutkan tren pelemahan.

“Jika pemerintah tetap bertahan dengan kebijakan saat ini, maka kinerja ekonomi sangat mudah ditebak arahnya,” kata Gunawan.

Ia menjelaskan defisit anggaran memang tidak selalu buruk bagi perekonomian. Namun di tengah situasi saat ini, kebijakan anggaran pemerintah akan membuat ekonomi nasional cenderung bergerak mengikuti dinamika geopolitik.

“Semakin memburuk tensi geopolitik, maka dampak negatifnya akan dirasakan perekonomian domestik secara instan,” ucap Gunawan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....