Harga Minyak Tembus $113, IHSG Anjlok dan Rupiah Dekati Rp17.000
- 09 Mar 2026 10:34 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai lonjakan harga minyak mentah dunia di atas 100 dolar AS per barel pada Senin, 9 Maret 2026 menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia.
Menurutnya, kenaikan harga minyak dipicu oleh gangguan produksi di sejumlah negara penghasil minyak di Timur Tengah, terutama setelah ketegangan konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel semakin memanas.
“Lonjakan harga minyak mentah dunia terjadi di tengah kabar penurunan produksi minyak di kawasan Timur Tengah. Bahkan Irak menyatakan produksinya turun sekitar 70 persen dibandingkan sebelum konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel,” ujar Gunawan.
Ia menjelaskan, penurunan produksi tersebut salah satunya dipicu oleh penutupan Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur distribusi energi penting bagi pasar global.
Harga minyak mentah jenis Brent maupun West Texas Intermediate (WTI) saat ini ditransaksikan di kisaran 113 dolar AS per barel. Kondisi ini langsung memberikan tekanan terhadap pasar saham di kawasan Asia.
“IHSG pada pembukaan perdagangan langsung melemah sangat dalam. Indeks bahkan sempat turun sekitar lima persen hingga berada di bawah level psikologis 7.200,” ucapnya.
Selain pasar saham, tekanan juga terjadi pada nilai tukar rupiah. Mata uang Rupiah pada perdagangan hari ini terpantau melemah hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS, dan sempat diperdagangkan di kisaran Rp16.980 per dolar AS.
Gunawan menilai memburuknya konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama melemahnya kinerja pasar keuangan global dalam beberapa waktu terakhir.
Di tengah tekanan tersebut, komoditas emas justru cenderung diuntungkan oleh meningkatnya ketidakpastian global. Namun, ia menilai arah harga emas dalam jangka pendek masih dipengaruhi oleh respons kebijakan moneter bank sentral dunia terhadap lonjakan inflasi akibat kenaikan harga minyak.
“Jika harga minyak mentah dunia bertahan tinggi atau terus naik, maka kebijakan moneter global berpotensi kembali ketat. Hal ini bisa memberikan tekanan sementara pada harga emas,” katanya.
Meski demikian, secara fundamental emas dinilai masih cukup kuat sebagai aset lindung nilai. Saat ini harga emas dunia berada di kisaran 5.091 dolar AS per ons troy, atau sekitar Rp2,79 juta per gram.
“Tekanan yang muncul pada emas saat ini juga dipicu oleh aksi jual dari beberapa negara yang tengah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan eskalasi konflik,” kata Gunawan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....