Sampuraga, Legenda Anak Durhaka yang Menjadi Cerita Rakyat Mandailing

  • 25 Mei 2026 22:53 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – Sumatera Utara memiliki banyak cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun dan sarat nilai moral. Salah satunya adalah legenda Sampuraga, kisah yang hidup di tengah masyarakat Mandailing dan hingga kini masih dikaitkan dengan keberadaan Kolam Sampuraga di wilayah Kabupaten Mandailing Natal.

Dilansir dari budaya-indonesia.org, cerita Sampuraga berkisah tentang seorang pemuda yang hidup bersama ibunya dalam kondisi serba kekurangan di daerah Padang Bolak. Meski miskin, Sampuraga dikenal rajin bekerja dan jujur. Bersama ibunya, ia bekerja sebagai buruh ladang demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Keinginan mengubah nasib kemudian mendorong Sampuraga merantau ke negeri Mandailing setelah mendengar cerita tentang daerah yang subur dan masyarakat yang hidup makmur. Dengan restu sang ibu, ia meninggalkan kampung halaman untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Di tanah perantauan, nasib Sampuraga perlahan berubah. Berkat kerja keras dan kejujurannya, ia mendapat kepercayaan dari seorang pedagang kaya. Sampuraga kemudian diberi modal usaha hingga berhasil menjadi saudagar muda yang kaya dan terpandang.

Kesuksesan tersebut membuat majikannya tertarik menjadikannya menantu. Sampuraga pun menikahi putri sang pedagang dalam pesta besar yang digelar meriah sesuai adat Mandailing, lengkap dengan iringan Gordang Sambilan dan berbagai persiapan adat lainnya.

Kabar mengenai pesta pernikahan itu akhirnya sampai ke telinga ibu Sampuraga. Meski ragu apakah pengantin pria tersebut benar anaknya, perempuan tua itu tetap memutuskan berjalan kaki menuju Kerajaan Pidoli untuk memastikan kabar tersebut.

Sesampainya di lokasi pesta, sang ibu terkejut melihat Sampuraga duduk bersanding dengan istrinya. Dengan penuh haru, ia memanggil dan berusaha memeluk anak yang telah lama dirindukannya. Namun pertemuan yang seharusnya penuh kebahagiaan justru berubah menjadi pilu.

Karena malu kepada para tamu undangan, Sampuraga menolak mengakui perempuan tua tersebut sebagai ibunya. Ia bahkan mengusir dan memerintahkan pengawal menyeret sang ibu keluar dari pesta.

Dalam kesedihannya, perempuan tua itu berdoa kepada Tuhan agar anaknya diberi pelajaran jika benar telah durhaka kepada ibu kandungnya. Menurut cerita rakyat yang berkembang, doa itu kemudian diikuti hujan deras, petir, dan banjir besar yang menenggelamkan lokasi pesta beserta seluruh isinya.

Masyarakat setempat meyakini tempat tenggelamnya pesta tersebut kemudian berubah menjadi Kolam Sampuraga, sebuah kolam air panas yang hingga kini dikenal sebagai salah satu lokasi wisata di Mandailing Natal. Di sekitar kolam terdapat batu dan gundukan tanah yang dipercaya berkaitan dengan peristiwa dalam legenda tersebut.

Terlepas dari benar atau tidaknya peristiwa tersebut secara historis, legenda Sampuraga tetap hidup sebagai bagian dari khazanah budaya masyarakat Mandailing dan Sumatera Utara. Cerita ini diwariskan bukan sekadar sebagai hiburan, tetapi juga sebagai pengingat tentang pentingnya kerja keras, kejujuran, serta bakti kepada orang tua.

Legenda Sampuraga menjadi salah satu cerita rakyat yang menunjukkan bagaimana masyarakat masa lampau menyampaikan nilai moral melalui kisah-kisah yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....