Kesultanan Kota Pinang: Warisan Melayu yang Bertahan setelah Revolusi Sosial 1946
- 19 Jun 2026 23:04 WIB
- Medan
RRI.CO.iD, Medan – Jejak sejarah Kesultanan Kota Pinang di Kabupaten Labuhanbatu Selatan kembali diangkat dalam Program Resam Melayu RRI Pro 4 Medan bertema "Menyingkap Jejak Kesultanan Kota Pinang di Labuhan Batu Selatan". Dalam dialog yang dipandu Host Datok Yan Djuna tersebut, zuriat Kesultanan Kota Pinang sekaligus Ketua Asosiasi Seniman Tari Indonesia (ASETI) Kota Medan, Tengku Asri, mengulas sejarah, perkembangan, hingga warisan budaya kesultanan yang masih bertahan hingga saat ini.
Tengku Asri menjelaskan bahwa Kesultanan Kota Pinang merupakan salah satu kerajaan Melayu bersejarah yang pernah berperan penting dalam perkembangan wilayah yang kini menjadi Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Kesultanan tersebut diperkirakan berdiri sekitar tahun 1637 dan menjadi bagian dari jaringan kerajaan Melayu yang berkembang di Sumatera.
Menurutnya, sejarah Kesultanan Kota Pinang memiliki keterkaitan dengan Kerajaan Pagaruyung di Sumatera Barat. Hubungan tersebut menunjukkan adanya ikatan budaya dan kekeluargaan yang kuat antarkerajaan Melayu pada masa lalu.
"Kalau kita melihat sejarahnya, Kesultanan Kota Pinang ini memiliki hubungan dengan Pagaruyung dan juga Aceh. Ini menunjukkan bahwa Kota Pinang menjadi bagian dari perkembangan peradaban Melayu di Sumatera," ujar Tengku Asri.
Selain memiliki hubungan dengan Pagaruyung, Kesultanan Kota Pinang juga memiliki keterkaitan dengan Kesultanan Aceh melalui hubungan perkawinan dan politik. Keterhubungan tersebut menunjukkan bahwa Kota Pinang pernah menjadi bagian dari jaringan kerajaan Melayu yang cukup berpengaruh di kawasan Sumatera.
Tengku Asri menuturkan bahwa wilayah Kota Pinang berkembang sebagai pusat perdagangan yang memanfaatkan jalur Sungai Bila menuju Selat Malaka. Posisi strategis tersebut membuat kesultanan memiliki peran penting dalam aktivitas ekonomi masyarakat pada masanya.
Selain menjadi pusat perdagangan, Kesultanan Kota Pinang juga berperan dalam penyebaran ajaran Islam. Jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan melalui keberadaan Masjid Raya Al-Mustafa, kompleks makam para sultan, serta puing-puing Istana Bahrain yang menjadi saksi perjalanan panjang kesultanan tersebut.
Dalam kesempatan itu, Tengku Asri juga menyinggung dampak Revolusi Sosial Sumatera Timur 1946 yang menjadi titik balik perjalanan Kesultanan Kota Pinang. Peristiwa tersebut menyebabkan terputusnya garis suksesi yang selama ini berlangsung melalui tradisi Raja Mangkat Raja Menanam.
"Kalau Kota Pinang kan jelas terpotong karena revolusi itu," katanya.
Ia menjelaskan bahwa sultan terakhir beserta sejumlah anggota keluarganya menjadi korban dalam peristiwa tersebut sehingga proses pergantian kepemimpinan tidak lagi dapat dilakukan sebagaimana tradisi yang berlaku sebelumnya.
"Ketepatan pada saat revolusi itu, sultan terakhir juga dibunuh beserta juga anak-anaknya, ada beberapa orang. Nah kan putus tuh, tidak bisa dilaksanakan tradisi itu," ujarnya.
Akibat kondisi tersebut, hingga saat ini Kesultanan Kota Pinang belum memiliki sultan yang ditabalkan kembali. Tradisi pergantian kepemimpinan yang telah berlangsung turun-temurun tidak dapat dilanjutkan setelah terputusnya garis suksesi pada masa revolusi.
"Jadi tidak ada lagi proses Raja Mangkat Raja Menanam itu," kata Tengku Asri.
Meski demikian, zuriat Kesultanan Kota Pinang masih tersebar di berbagai daerah. Menurutnya, keberadaan zuriat menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan sejarah dan budaya kesultanan di tengah perubahan zaman.
"Untuk mengangkat dan menabalkan sultannya kembali, otomatis itu adalah peran besar dari zuriat," ujarnya.
Tengku Asri berharap berbagai peninggalan sejarah Kesultanan Kota Pinang dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya Melayu di Sumatera Utara. Selain memiliki nilai sejarah yang tinggi, berbagai situs tersebut juga dinilai berpotensi menjadi sarana edukasi dan wisata budaya bagi masyarakat.
Melalui Program Resam Melayu Setiap hari Jumat Pukul 20.30 WIB sampai pukul 21.30 WIB, berbagai khazanah budaya dan sejarah Melayu Sumatera Utara terus diperkenalkan kepada masyarakat luas. Program tersebut menunjukkan komitmen RRI Pro 4 FM Medan Suara Budaya Sumatera Utara yang kini hadir melalui platform digital sebagai media nasional pemersatu bangsa dalam melestarikan tradisi budaya Melayu Sumatera Utara serta memperkuat eksistensi budaya Nusantara melalui siaran dan pemberitaan kebudayaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....