Sleep Tourism, ketika Liburan Bukan Lagi Mengejar Destinasi, tetapi Mengejar Tidur

  • 25 Sep 2026 07:46 WIB
  •  Mataram

Bagi sebagian orang, liburan identik dengan mengunjungi banyak tempat, mencoba kuliner, atau mengejar berbagai aktivitas. Namun, kini muncul tren perjalanan yang justru menawarkan sesuatu yang lebih sederhana, tidur dan beristirahat. Tren ini dikenal sebagai Sleep Tourism.

Sleep tourism merupakan bentuk perjalanan yang secara khusus dirancang untuk membantu wisatawan mendapatkan tidur yang lebih berkualitas. Hotel dan Resort mulai menawarkan kamar dengan suasana yang mendukung tidur, pilihan bantal, pengaturan pencahayaan, kasur pintar, konsultasi tidur, hingga program relaksasi dan mindfulness.

Menurut Dr. Nicola Cann seorang educational psychologist dan kontributor The Travel Psychologist, meningkatnya sleep tourism dapat dilihat sebagai perubahan cara masyarakat memandang liburan. Jika sebelumnya perjalanan sering dikaitkan dengan aktivitas sebanyak mungkin, kini sebagian orang menggunakan liburan sebagai kesempatan untuk melakukan reset dan memprioritaskan kesejahteraan.

Namun, Dr. Cann juga memberikan catatan penting. Liburan khusus tidur tidak serta-merta menyelesaikan masalah tidur dalam jangka panjang. Jika seseorang mengalami gangguan tidur yang terus-menerus, penyebab dan kebiasaan yang mempertahankannya tetap perlu diperhatikan setelah kembali ke rumah.

Pandangan tersebut sejalan dengan perkembangan industri wellness. Global Wellness Institute (GWI) memasukkan Sleep Tourism and the Growing Sleep Divide sebagai salah satu tren utama kesehatan dan wellness 2026. GWI mencatat bahwa hotel dan resort semakin mengembangkan pengalaman yang berfokus pada tidur, mulai dari pencahayaan yang disesuaikan dengan ritme sirkadian hingga konsultasi dan teknologi pemantauan tidur.

Menariknya, sleep tourism juga berkaitan dengan persoalan yang lebih luas. GWI mengingatkan bahwa kesempatan mendapatkan lingkungan tidur yang tenang, gelap, nyaman, dan sesuai kebutuhan biologis belum tentu dimiliki semua orang. Artinya, tidur berkualitas bukan hanya persoalan kemewahan, tetapi juga bagian penting dari kesehatan dan kualitas hidup.

Tren ini semakin terlihat dalam industri perhotelan. Condé Nast Traveller melaporkan bahwa semakin banyak hotel dan destinasi wellness menawarkan pengalaman yang secara khusus diarahkan untuk membantu tamu beristirahat, sementara laporan CN Traveller pada Februari 2026 juga menyoroti berbagai hotel dan sleep retreat yang menawarkan program khusus tidur.

Lalu, apakah sleep tourism berarti kita harus pergi jauh hanya untuk tidur?

Tidak selalu. Esensi dari tren ini sebenarnya bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, menciptakan kamar yang lebih tenang, mengurangi paparan gadget menjelang tidur, menjaga jadwal tidur yang konsisten, serta memberikan tubuh kesempatan untuk benar-benar beristirahat.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....