Menapaki Telaga Biru, Wisata Alam yang Tumbuh dari Kreativitas Warga
- 20 Agt 2026 09:34 WIB
- Mataram
Poin Utama
- telaga biru desa perian
- wisata alam telaga biru desa perian lombok timur
- kuliner viral desa perian montong gading lombok timur
rri.co.id-mataram: Sahabat Sasambo, dalam Obrolan Budaya Pro 4 RRI Mataram yang tayang melalui channel YouTube RRI Mataram Official, saya, Dika Swara, berkesempatan berkunjung langsung ke Wisata Alam Telaga Biru bersama Hasbi, Ketua Pengelola Wisata Alam Telaga Biru. Destinasi ini berada di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Dusun Gunung Paok, Desa Perian, Kecamatan Montong Gading, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Suasana sejuk langsung menyambut perjalanan kami ketika memasuki kawasan yang selama bertahun-tahun dibangun secara perlahan oleh masyarakat setempat.
Sahabat Sasambo, begitu tiba saya langsung disambut Hasbi. Setelah bersalaman dan bertukar kabar, saya diajak masuk melalui pintu masuk Telaga Biru. Ada sesuatu yang langsung menarik perhatian saya, yakni tampilan pintu masuk yang terlihat masih baru. Ketika saya bertanya kapan fasilitas tersebut dibuat, Hasbi menjawab singkat bahwa pembangunannya baru dilakukan beberapa waktu sebelumnya. Dari sana saya mulai melihat bahwa pengelola terus melakukan penambahan dan inovasi agar kawasan Telaga Biru semakin nyaman dikunjungi.
Kami kemudian berjalan lebih jauh memasuki areal Telaga Biru. Hasbi menunjukkan sejumlah fasilitas yang sudah tersedia, salah satunya beruga, tempat yang dapat digunakan pengunjung untuk duduk dan beristirahat. Yang membuat saya semakin tertarik, Sahabat Sasambo, fasilitas-fasilitas itu bukan muncul begitu saja dari proyek besar. Hasbi menjelaskan bahwa sebagian besar masih dibangun secara swadaya, bahkan kreativitas pembuatan berbagai fasilitas banyak berasal dari teman-teman pengelola sendiri.
Saya pun melihat semangat yang kuat dari orang-orang di balik Telaga Biru. Mereka bukan sekadar menjaga tempat wisata, tetapi ikut memikirkan bentuk fasilitas, membuatnya, lalu menatanya sedikit demi sedikit. Hasbi menegaskan bahwa pengerjaan berbagai sarana di kawasan tersebut banyak dilakukan dari kreativitas teman-temannya. Dari cerita itu saya mulai memahami bahwa Telaga Biru sebenarnya bukan hanya menawarkan pemandangan alam, tetapi juga menyimpan kisah tentang gotong royong masyarakat.
Hasbi lalu mengajak saya menuju salah satu bagian yang disebutnya menjadi tempat paling banyak dicari pengunjung. Saya pun mengajak Sahabat Sasambo dalam perjalanan ini seolah ikut berjalan bersama kami. Begitu tiba di dekat telaga, saya bertanya kepada Hasbi tentang tawaran wisata yang membuat orang tertarik datang, mulai dari tempat bersantai, kuliner, hingga lokasi yang menjadi favorit pengunjung. Hasbi menjawab bahwa saat ini salah satu yang paling banyak dicari adalah spot di sekitar Telaga Biru, tempat yang memang sedang ramai diburu pengunjung.
Namun, sebelum berbicara lebih jauh tentang pesona Telaga Biru hari ini, Hasbi mengingatkan saya bahwa semua yang terlihat sekarang merupakan hasil perjalanan panjang. Ketika saya bertanya tentang awal mulanya, ia mengatakan proses membangun dan mengenalkan kawasan tersebut telah berlangsung sekitar tujuh, delapan, bahkan sembilan tahun. “Prosesnya sangat panjang sekali,” kurang lebih demikian cerita Hasbi. Setelah melalui perjalanan selama itu, barulah kawasan tersebut bisa terlihat seperti yang kami saksikan sekarang.
Nah, Sahabat Sasambo, dari titik itulah rasa penasaran saya semakin besar. Kalau sekarang kita melihat genangan air berwarna menarik, beruga, pintu masuk, serta orang-orang yang berdatangan, bagaimana rupa tempat ini sekitar sembilan tahun lalu? Hasbi kemudian mengungkapkan fakta yang menarik: kawasan yang sekarang dikenal sebagai Telaga Biru dahulunya bukan tempat wisata. Masyarakat mengenalnya sebagai “reban”, sebuah bendungan sederhana yang dibuat untuk kebutuhan air. Cerita mengenai reban inilah yang akan membawa kita lebih jauh pada awal perjalanan Telaga Biru.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....