Taksi Bandara Mahal, Kunjungan ke Tambora Terhambat

  • 11 Apr 2026 09:28 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Dompu – Upaya peningkatan kunjungan wisata ke kawasan Taman Nasional Tambora masih menghadapi sejumlah kendala krusial. Salah satu hambatan utama yang dikeluhkan adalah tingginya tarif taksi bandara yang dinilai memberatkan wisatawan.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada minat kunjungan wisatawan, khususnya ke destinasi unggulan seperti Gunung Tambora. Banyak wisatawan yang memilih tidak kembali berkunjung karena biaya transportasi dari bandara ke lokasi wisata dianggap terlalu mahal.

Kepala Balai Taman Nasional Tambora, Abdul Azis Bakry, mengakui persoalan ini menjadi tantangan serius dalam pengembangan pariwisata di wilayah tersebut. Ia menilai, kurangnya komunikasi dan koordinasi antara pihak pengelola kawasan wisata dengan penyedia jasa transportasi turut memperparah situasi.

“Kami akan membuat konsep pelayanan taksi ke depan. Untuk tamu tertentu seperti pejabat, akan kami layani secara khusus. Sementara untuk tamu umum, kami akan berkoordinasi dengan pihak taksi di bandara agar mereka yang menangani penjemputan hingga ke sini,” ujarnya, Sabtu, 11 April 2026.

Menurutnya, langkah tersebut diharapkan dapat menciptakan pola kerja sama yang lebih terintegrasi antara pengelola wisata dan penyedia jasa transportasi.

Dengan begitu, wisatawan bisa mendapatkan layanan yang lebih nyaman dan terjangkau sejak tiba di bandara hingga menuju lokasi wisata.

Azis menambahkan, selama ini minimnya keterlibatan antara kedua pihak menyebabkan tidak adanya kepastian layanan yang berdampak pada kenyamanan pengunjung. Hal itu, kata dia, menjadi salah satu alasan wisatawan enggan berlama-lama atau kembali berkunjung.

“Kadang kita miris melihat wisatawan dari luar, bahkan dari Bali, hanya singgah sebentar lalu pergi. Ini menjadi koreksi bagi kita semua. Tidak bisa hanya menyalahkan satu pihak, tapi perlu kolaborasi,” katanya.

Ia mengibaratkan sinergi antar pihak sebagai perpaduan yang harus selaras.

“Selama ini seperti kopi dan susu yang terpisah. Kita perlu mencampurnya agar menjadi sesuatu yang lebih baik dan menarik bagi wisatawan,” tambahnya.

Azis juga menekankan pentingnya komitmen bersama, kesabaran, dan kerja sama lintas sektor dalam membangun destinasi wisata yang kompetitif.

Ia berkaca pada pengalamannya di daerah lain yang awalnya minim kunjungan, namun mampu berkembang berkat kolaborasi yang kuat.

“Memang butuh energi dan kesabaran. Mungkin hasilnya tidak hari ini, bisa jadi bulan depan atau tahun depan. Tapi kalau kita konsisten dan kompak, hasilnya pasti akan terlihat,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....