Sekda Lombok Timur Dorong Ekowisata Berkelanjutan di Sugian
- 06 Apr 2026 08:02 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Timur - Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Timur, H. Muhammad Juaini Taofik, menyebut rimbunnya hutan mangrove sebagai refleksi kehidupan yang sarat makna. Hal tersebut ia sampaikan saat mengunjungi kawasan TWA Keramat Suci Ekowisata di Desa Sugian, Kecamatan Sambalia.
Menurutnya, rimbunnya mangrove tidak hanya menghadirkan keindahan alam, tetapi juga mengajarkan filosofi kehidupan yang mendalam. Ia menilai kesederhanaan yang terpancar dari hutan mangrove membawa pesan bahwa cinta sejati adalah tentang menjaga dan melindungi, bukan sekadar memiliki.
“Di balik rimbunnya mangrove, ada kesan sederhana. Cinta yang baik adalah melindungi, bukan memiliki,” ujarnya, Senin, 6 April 2026.
Filosofi ini, lanjutnya, menjadi fondasi penting dalam membangun rumah tangga yang harmonis dan terbebas dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Lebih jauh, Sekda menegaskan bahwa prinsip tersebut juga relevan dalam menjaga alam. Kesadaran untuk melindungi, bukan sekadar memiliki, dinilai sebagai kunci utama dalam menjaga keberlanjutan ekosistem.
Ia mengibaratkan, sebagaimana rumah tangga yang harmonis terbangun atas dasar saling menjaga, demikian pula alam akan tetap lestari jika dijaga dengan penuh tanggung jawab. Dalam kesempatan itu, ia turut mengapresiasi peran Wahana Visi Indonesia (WVI) yang dinilai telah menunjukkan komitmen nyata dalam mendukung pengembangan ekowisata mangrove di wilayah tersebut.
Ia menyebut langkah ini sebagai pintu awal menuju kolaborasi yang lebih luas.
"Tujuan akhirnya bukan sekadar merestorasi mangrove, tetapi memastikan denyut ekonomi masyarakat Desa Sugian terus berputar melalui penguatan variasi ekonomi di wilayah Sambalia,” katanya.
Mengingat pentingnya mangrove dalam mencegah abrasi, Sekda juga mengapresiasi pendekatan pembangunan ekowisata yang melibatkan masyarakat secara langsung. Namun, ia mengingatkan agar para pengelola tetap menjaga komitmen dan tidak melupakan akar awal perjuangan.
Ia juga menekankan pentingnya pemisahan antara manajemen pengelolaan dan hak kepemilikan destinasi. Menurutnya, banyak destinasi wisata mengalami kemunduran akibat kegagalan dalam mengelola kedua aspek tersebut secara profesional.
Selain itu, ia mengajak seluruh pihak untuk tetap optimistis dan menghindari persaingan tidak sehat.
“Semakin banyak pelaku wisata, maka semakin luas pasar yang kita dapatkan,” ujarnya.
Dalam pengembangan destinasi, Sekda menyoroti tiga pilar utama yang harus diperkuat, yakni aksesibilitas, komunikasi, dan atraksi. Ia mendorong kreativitas kelompok sadar wisata (Pokdarwis) untuk menghadirkan atraksi yang menarik tanpa mengganggu kelestarian mangrove.
Menurutnya, keaktifan Pokdarwis menjadi kunci utama keberhasilan destinasi, sementara peran pemerintah daerah dan pihak seperti WVI lebih sebagai pendamping dan pendukung. Sekda berharap Desa Sugian dapat berkembang menjadi desa mandiri dengan kesejahteraan yang kokoh, layaknya akar mangrove yang menopang kehidupan di wilayah pesisir.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....