Qana'ah: Merawat Syukur di Tengah Ambisi Dunia

  • 23 Jul 2026 06:20 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Setiap perjalanan hidup sejatinya adalah proses pencarian yang tiada henti. Di tengah riuh zaman yang serba cepat, manusia sering kali digerakkan oleh ambisi yang tak kunjung usai dan ekspektasi yang terus bertambah. Kita melangkah dari satu pencapaian ke pencapaian lainnya, tergesa-gesa membuktikan diri, hingga kadang kehilangan keheningan untuk sekadar mendengarkan bisikan nurani sendiri.

Padahal, di balik segala hiruk-pikuk dan riuhnya penilaian dunia, ada ruang teduh yang merindukan kedamaian. Ruang tempat kita berhenti sejenak untuk menengok ke dalam diri, mengevaluasi arah langkah, dan menyadari hakikat keberadaan kita di bumi ini.

Di bawah langit yang tak selalu terang, kita sering kali lelah mengejar apa yang belum ada, hingga lupa melihat betapa banyak nikmat yang telah tertata rapi di depan mata.

Manusia memang tempatnya ingin dan rindu. Ingin hidup seperti orang lain, rindu pada standar bahagia yang diciptakan oleh gemerlap dunia. Padahal, kebahagiaan sejati tidak pernah menuntut kita menjadi siapa-siapa atau memiliki segalanya.

Hiduplah apa adanya.

Bukan berarti berhenti berjuang, melainkan belajar melepaskan kelelahan karena berpura-pura. Berhentilah memaksa diri mengenakan topeng yang bukan milikmu hanya demi penilaian manusia. Ketika kita belajar menerima diri sendiri dengan segala kelebihan dan keterbatasan, di situlah kedamaian pertama kali singgah.

Menemukan Jejak Ketentuan di Antara Hal-Hal Kecil

Di balik riuhnya dunia yang menuntut kita terus berlari, ada keheningan yang kerap kita abaikan. Secangkir kopi hangat di pagi hari bukan sekadar pendorong stamina, melainkan sebuah jeda yang disengaja—sebuah ritus kecil untuk menyadari bahwa kita masih diberi nikmat waktu. Kepulan uapnya yang membumbung menjadi simbol halus betapa fana dan singkatnya setiap momen, sekaligus mengingatkan betapa berharganya setiap detik yang kita hirup.

Napas yang masih berhembus lancar acap kali menjadi nikmat paling tak terasa karena kehadirannya begitu konstan. Kita baru menyadari nilainya ketika ia terasa sesak. Padahal, setiap tarikan dan hembusan napas adalah bukti nyata kemurahan Allah SWT yang tak pernah berhenti menjaga kehidupan kita, bahkan saat kita lupa bersyukur.

Menemukan Makna dalam Setiap Skenario

"Setiap helai daun yang gugur telah tercatat garis edarnya. Maka, tidak ada satu pun hembusan angin, detik waktu, atau pertemuan yang hadir tanpa maksud."

Jika kita menarik garis makna lebih dalam, alur hidup manusia sesungguhnya tersusun dari mosaik-mosaik kecil yang saling bertautan.

Kehangatan yang Menjangkar

Tawa kecil keluarga di meja makan adalah benteng pertahanan terbaik dari kerasnya dunia luar. Dalam kesederhanaan itulah kasih sayang Ilahi mengambil bentuk yang paling nyata dan dapat kita rasakan.

Tempaan yang Mendewasakan

Ujian hidup, baik berupa kegagalan, penolakan, maupun keraguan, bukanlah bentuk hukuman. Ia adalah pahat takdir yang sedang membentuk karakter kita. Tanpa gesekan, batu permata tidak akan pernah mengilap. Tanpa ujian, jiwa kita tidak akan pernah berakar kuat.

Keharmonisan Semesta

Ketika kita menyadari bahwa tak sehelai daun pun jatuh secara kebetulan, rasa damai mulai menyusup ke dalam dada. Kekhawatiran terhadap masa depan perlahan luruh, berganti dengan kepercayaan penuh kepada Sang Arsitek Kehidupan.

Mengalir Bersama Takdir

Pada akhirnya, memahami bahwa tidak ada yang terjadi secara kebetulan melatih kita melihat hidup dengan cara yang berbeda. Kita tidak lagi membagi hari menjadi sekadar "baik" atau "buruk", melainkan memandang semuanya sebagai bagian dari skenario terbaik yang sedang dituliskan Allah SWT.

Setiap pahit kopi, setiap tawa, dan setiap tetes air mata saat menghadapi ujian adalah nada-nada yang menyusun simfoni pendewasaan diri. Kita hanya perlu belajar mendengarkannya dengan hati yang lapang.

Pesan Indah dalam Islam

Dalam Islam, hidup apa adanya dan senantiasa bersyukur merupakan wujud tertinggi dari rasa percaya (tawakal) seorang hamba kepada Sang Pencipta.

Rasulullah SAW memberikan resep agar hati tidak mudah gelisah dan senantiasa merasa cukup melalui sabdanya:

"Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang berada di atas kalian. Sebab, hal itu lebih layak agar kalian tidak memandang hina nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian."

(HR. Muslim)

Ketika hati merasa cukup, di situlah keberkahan sejati hadir. Allah SWT juga telah berjanji dalam Al-Qur'an:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu."

(QS. Ibrahim: 7)

Tambahan nikmat tidak selalu berarti bertambahnya harta. Sering kali Allah SWT menghadirkannya dalam bentuk kelapangan dada, ketenangan jiwa, dan rasa cukup (qana'ah) yang tak dapat dibeli dengan materi sebanyak apa pun.

Maka, istirahatlah sejenak dari riuhnya jalanan dunia. Hela napas dalam-dalam, tersenyumlah, lalu katakan kepada dirimu sendiri,

"Alhamdulillah, untuk hari ini. Untuk napas ini. Untuk rezeki yang cukup. Dan untuk takdir-Mu yang selalu menjadi pilihan terbaik."

Sebab pada akhirnya, yang membuat hidup ini indah bukanlah seberapa banyak yang kita genggam, melainkan seberapa dalam hati kita mampu mengucapkan syukur atas apa yang telah Allah anugerahkan.

Oleh: Solihin, S.H.

(Pengurus LPTQ NTB Bidang Humas, Publikasi, dan Dokumentasi)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....