MTQ XXXII Lingsar Perkuat Persatuan Menjelang Pilkades 2026
- 03 Okt 2026 15:23 WIB
- Mataram
Poin Utama
- MTQ XXXII Kecamatan Lingsar di Desa Batu Kumbung, Lombok Barat, berlangsung Jumat malam, 2 Oktober 2026, dengan suasana religius yang kuat.
- Acara MTQ tahun ini membawa pesan sosial yang lebih luas tentang pentingnya menjaga persaudaraan dan kohesi masyarakat di tengah proses Pilkades Serentak 2026.
- Di balik kompetisi tilawah dan pencapaian peserta, MTQ menjadi platform untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan masyarakat pada masa pemilihan kepala desa.
RRI.CO.ID, Lombok Barat – Suasana religius menyelimuti Desa Batu Kumbung, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Jumat malam, 2 Oktober 2026. Namun, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXII Kecamatan Lingsar tahun ini tidak sekadar berbicara tentang tilawah dan prestasi peserta.
Di balik lantunan ayat suci Al-Qur’an, terselip pesan sosial yang jauh lebih luas: menjaga persaudaraan ketika masyarakat memasuki tahapan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak 2026.
Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan Pj Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Barat, H. Saepul Akhkam, ketika membuka MTQ XXXII Kecamatan Lingsar. Mengusung tema “Gaungkan Al-Qur’an Menuju Sejahtera dari Desa, Sukseskan Pilkades Serentak Tahun 2026”, kegiatan itu mempertemukan ratusan peserta dari desa-desa se-Kecamatan Lingsar.
Saepul mengatakan, momentum MTQ menjadi ruang yang tepat untuk mengingatkan masyarakat bahwa perbedaan pilihan politik tidak semestinya menghapus hubungan sosial yang telah terbangun di lingkungan desa.
Menurut dia, Pilkades merupakan bagian dari proses demokrasi yang memberi kesempatan kepada masyarakat memilih pemimpin sesuai pertimbangan masing-masing. Karena itu, setiap perbedaan pilihan harus ditempatkan sebagai bagian dari kehidupan demokratis, bukan sumber perpecahan.
“Pilkades bukan hanya tentang siapa yang memperoleh suara terbanyak, tetapi juga tentang ikhtiar masyarakat mendapatkan pemimpin yang memiliki kemampuan secara intelektual maupun spiritual,” ujarnya.
Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh kepala desa yang mengirimkan peserta terbaik untuk memperkuat kafilah Kecamatan Lingsar dalam MTQ tersebut.
Bagi Saepul, keterlibatan desa dalam pengiriman kafilah memiliki arti strategis. Desa tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kehidupan masyarakat, tetapi juga memiliki peran penting dalam menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an serta membina generasi yang memiliki kemampuan keagamaan.
Terlebih, pelaksanaan MTQ tahun ini berlangsung beriringan dengan persiapan menuju Pilkades Serentak 2026. Dua momentum tersebut, kata dia, harus sama-sama dijalankan dengan mengedepankan tanggung jawab, kejujuran dan penghormatan terhadap sesama.
“Syiar Al-Qur’an dan proses demokrasi desa dapat berjalan beriringan apabila keduanya dibangun di atas integritas, tanggung jawab dan penghormatan terhadap sesama,” katanya.
Tidak hanya menyoroti peserta, Saepul juga mengingatkan pentingnya peningkatan kapasitas dewan hakim. Menurutnya, para hakim harus terus memperbarui pengetahuan dan memahami perkembangan cabang maupun materi perlombaan agar kualitas MTQ di tingkat kecamatan dapat terus meningkat dan mampu menjadi bekal menuju kompetisi pada jenjang yang lebih tinggi.
Dari sisi tata kelola, penyelenggaraan MTQ juga mulai memanfaatkan sistem pendaftaran elektronik atau e-MTQ. Penggunaan sistem tersebut diarahkan untuk membuat administrasi peserta lebih tertib sekaligus mempersempit ruang terjadinya ketidaksesuaian data maupun potensi kecurangan.
Sebelum acara resmi dimulai, Saepul terlebih dahulu berdialog dengan sejumlah unsur yang hadir. Pertemuan itu melibatkan unsur legislatif, kepala desa, tokoh masyarakat hingga kepolisian.
Pembicaraan tidak lepas dari situasi menjelang Pilkades, terutama mengenai hak masyarakat menentukan pilihan secara bebas serta pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) selama seluruh tahapan pemilihan berlangsung.
Sementara itu, Camat Lingsar Marzuki melihat MTQ bukan sebagai perlombaan yang semata-mata berorientasi pada perolehan juara. Menurutnya, esensi utama kegiatan tersebut adalah bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an dapat hadir dalam perilaku sehari-hari masyarakat.
Ia menilai pesan tersebut menjadi semakin penting menjelang Pilkades. Sebab, kontestasi di tingkat desa berpotensi menghadirkan perbedaan pilihan di tengah masyarakat yang sehari-hari hidup dalam lingkungan sosial yang sama.
Karena itu, Marzuki mengajak seluruh pihak tidak menjadikan perbedaan politik sebagai alasan untuk merusak hubungan antarmasyarakat.
“Perbedaan pilihan merupakan sesuatu yang wajar. Yang harus kita jaga adalah integritas proses dan persaudaraan masyarakat,” tegasnya.
MTQ XXXII Kecamatan Lingsar diikuti sebanyak 295 peserta yang merupakan perwakilan terbaik dari desa-desa di wilayah tersebut. Mereka ambil bagian dalam berbagai cabang perlombaan yang menjadi bagian dari proses pembinaan generasi sekaligus penguatan tradisi keagamaan di tingkat desa.
Penyelenggaraan tahun ini juga mengalami perkembangan dengan hadirnya unsur Hadis, sehingga pelaksanaannya berkembang menjadi MTQH. Penambahan cabang tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi peserta, dewan hakim maupun panitia untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan.
Lebih jauh, MTQ XXXII Lingsar memperlihatkan bahwa kegiatan keagamaan dapat menjadi ruang perjumpaan berbagai unsur masyarakat. Pemerintah daerah, legislatif, pemerintah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda dan kepolisian hadir dalam satu momentum yang membawa pesan tentang agama, persatuan serta kehidupan sosial yang damai.
Dari Batu Kumbung, pesan yang disampaikan menjadi relevan dengan situasi desa menjelang Pilkades 2026: masyarakat boleh berbeda dalam menentukan pilihan, tetapi hubungan persaudaraan tetap harus dipertahankan.
Sebab, setelah seluruh tahapan Pilkades selesai, warga tetap kembali ke lingkungan yang sama. Mereka tetap menjadi tetangga, hidup berdampingan dan memiliki tanggung jawab bersama untuk membangun desa serta Lombok Barat.
Dengan demikian, semangat MTQ tidak berhenti ketika perlombaan berakhir. Nilai Al-Qur’an diharapkan justru menjadi pedoman ketika masyarakat menghadapi perbedaan, termasuk dalam menentukan arah kepemimpinan desa.
“Persaudaraan harus tetap menjadi kekuatan masyarakat, meskipun pilihan dalam demokrasi berbeda,” katanya mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....