Aruna Senggigi Buka Strategi Pariwisata Lombok Berbasis SDGs dan AI
- 02 Okt 2026 09:14 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Pariwisata modern tidak lagi diukur hanya dari jumlah wisatawan tetapi dari kualitas sumber daya manusia, keterlibatan masyarakat, pemanfaatan teknologi, dan keberlanjutan lingkungan.
- Aruna Senggigi Resort & Convention menjalankan program Aruna Goes to Campus untuk menyebarkan pengetahuan tentang transformasi industri hospitality kepada calon profesional pariwisata.
- Program ini diselenggarakan di Universitas Mataram pada Selasa 29 September 2026, menunjukkan komitmen industri untuk berkolaborasi dengan institusi pendidikan dalam mengembangkan talenta pariwisata.
RRI.CO.ID, Mataram — Masa depan pariwisata tidak lagi cukup diukur dari jumlah wisatawan yang datang ke suatu destinasi. Kualitas sumber daya manusia, keterlibatan masyarakat, pemanfaatan teknologi, hingga keberlanjutan lingkungan kini menjadi bagian penting dalam menentukan arah pertumbuhan industri hospitality.
Persoalan tersebut menjadi salah satu bahasan utama dalam program Aruna Goes to Campus yang digelar Aruna Senggigi Resort & Convention di Theatre Room, Gedung C, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram, Selasa 29 September 2026.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian 10th Anniversary Tentastic: 10 Years of Amazing Journey, sekaligus momentum memperingati Hari Pariwisata Sedunia atau World Tourism Day yang diperingati setiap 27 September.
Mengangkat tema “Integrating Destination Management and Hospitality for the SDGs”, forum tersebut mempertemukan kalangan industri perhotelan dengan akademisi dan mahasiswa untuk membicarakan tantangan pariwisata masa kini.
General Manager Aruna Senggigi Resort & Convention, Yeyen Heryawan, S.Tr.Par., M.Par., menjadi salah satu narasumber bersama akademisi sekaligus dosen D-III Pariwisata Universitas Mataram, Ihana Hufla, M.Par. Diskusi dipandu Bq. Nikmatul Ulya, M.M.
Di hadapan mahasiswa, Yeyen menjelaskan bahwa perkembangan industri hospitality berjalan beriringan dengan perubahan perilaku wisatawan. Kemajuan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) turut mengubah cara industri memberikan pelayanan sekaligus mengelola bisnis.
Namun, menurut dia, transformasi tersebut tetap harus diimbangi dengan perhatian terhadap manusia dan lingkungan.
“Pertumbuhan pariwisata tidak hanya berbicara mengenai berapa banyak wisatawan yang datang. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana pertumbuhan itu memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” ujar Yeyen.
Ia menegaskan, kualitas destinasi sangat dipengaruhi oleh kualitas orang-orang yang berada di dalam ekosistem pariwisata tersebut. Karena itu, industri memiliki tanggung jawab untuk ikut membangun kapasitas sumber daya manusia, membuka ruang bagi masyarakat lokal, serta menjaga karakter dan lingkungan destinasi.
“Industri hospitality memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan sumber daya manusia, memberdayakan masyarakat lokal, menjaga lingkungan, sekaligus mempertahankan identitas destinasi,” katanya.
Menurut Yeyen, hubungan antara perguruan tinggi dan industri juga tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Kolaborasi tersebut perlu diarahkan untuk mempertemukan teori yang diperoleh mahasiswa dengan kebutuhan nyata dunia kerja.
“Kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri sangat penting untuk menyiapkan generasi muda yang mampu menjawab kebutuhan pariwisata pada masa mendatang,” tegasnya.
Dalam forum tersebut, Yeyen juga memaparkan sejumlah pendekatan yang dilakukan Aruna Senggigi Resort & Convention dalam menerjemahkan prinsip Sustainable Development Goals (SDGs) ke dalam kegiatan operasional.
Menurut dia, keberlanjutan dapat dimulai dari aktivitas sederhana yang dilakukan secara konsisten. Salah satunya melalui pengembangan kompetensi karyawan, program magang, hingga pertukaran pengetahuan bersama institusi pendidikan.
Langkah tersebut berkaitan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 8 mengenai Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Di sisi lain, keterlibatan masyarakat menjadi bagian dari upaya membangun rantai ekonomi pariwisata yang lebih luas. Tenaga kerja lokal, pelaku usaha, pemasok, serta pemangku kepentingan yang bergerak di bidang budaya ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem destinasi Lombok.
Pendekatan tersebut diarahkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus mendukung pembangunan kawasan yang berkelanjutan, sejalan dengan SDG 8 dan SDG 11.
Sementara pada sektor lingkungan, perhatian diarahkan pada efisiensi penggunaan energi, pengelolaan sisa makanan, serta pemanfaatan air dan berbagai sumber daya secara lebih bertanggung jawab.
Upaya tersebut berkaitan dengan SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab serta SDG 13 mengenai Penanganan Perubahan Iklim.
Aruna Senggigi juga menempatkan lingkungan pesisir dan ekosistem laut sebagai bagian dari aset penting pariwisata Lombok. Pelestarian alam dan budaya dinilai tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga identitas destinasi.
“Penerapan SDGs harus dimulai dari hal-hal yang dapat kita lakukan dalam operasional sehari-hari. Mulai dari mengembangkan karyawan, memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar, melibatkan masyarakat dan pemasok lokal, sampai menggunakan sumber daya dengan lebih bijaksana,” ucap Yeyen.
Ia menambahkan, agenda keberlanjutan membutuhkan kerja bersama. Pemerintah, dunia usaha, komunitas, lembaga konservasi, dan perguruan tinggi dinilai memiliki peran masing-masing dalam membangun pariwisata yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi.
“Keberlanjutan merupakan proses yang membutuhkan konsistensi dan kolaborasi agar manfaatnya dapat dirasakan bukan hanya oleh industri, tetapi juga masyarakat dan lingkungan,” katanya mengakhiri.
Program Aruna Goes to Campus mendapat respons positif dari mahasiswa Universitas Mataram. Salah satunya Yuliani yang menilai forum tersebut memberikan gambaran lebih luas mengenai hubungan antara teori perkuliahan dengan praktik industri pariwisata.
Ia mengatakan, perspektif yang disampaikan pelaku usaha memberikan pengalaman berbeda bagi mahasiswa yang selama ini lebih banyak memahami konsep melalui pembelajaran akademik.
“Acara ini menarik dan bermanfaat karena kami dapat melihat perkembangan pariwisata dan sustainability dari sisi akademisi maupun bisnis melalui pengalaman langsung Aruna Senggigi Resort & Convention,” ungkap Yuliani.
Menurut dia, pengalaman tersebut membantu mahasiswa memahami bahwa konsep keberlanjutan bukan hanya materi yang dipelajari di ruang kuliah, melainkan dapat diterapkan dalam aktivitas industri.
Aruna Goes to Campus sekaligus menjadi bagian dari perjalanan satu dekade Aruna Senggigi Resort & Convention melalui kampanye Tentastic: 10 Years of Amazing Journey.
Melalui kegiatan tersebut, peringatan satu dekade tidak hanya dikemas sebagai perayaan internal, tetapi juga diarahkan menjadi ruang berbagi pengetahuan dan memperkuat hubungan antara industri pariwisata dengan dunia pendidikan.
Momentum Hari Pariwisata Sedunia pun dimanfaatkan untuk kembali menempatkan pariwisata sebagai sektor yang memiliki keterkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, serta penguatan identitas budaya daerah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....