Dari Pelosok Lombok Utara, Dimas Raih Beasiswa LPDP ke UI

  • 30 Sep 2026 14:48 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Utara– Mimpi melanjutkan pendidikan ke jenjang magister dengan beasiswa sudah ditanamkan Dimas Erlangga sejak duduk di bangku SMA. Berasal dari Selebung, wilayah pelosok di bagian selatan Kabupaten Lombok Utara, ia kini berhasil mewujudkan mimpi tersebut melalui beasiswa LPDP Dalam Negeri untuk melanjutkan studi di Universitas Indonesia.

Kisah perjalanan Dimas itu dibagikan saat menjadi salah satu narasumber dalam Alumni Back To Campus (ABC) yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro (BEM FISIP Undip), Jumat, 25 September 2026.

Talk show yang berlangsung di Auditorium Gedung A FISIP Undip tersebut mengangkat tema “The Scholarship Journey: Learning, Growing, and Achieving”. Dimas tampil bersama Ayu Sabrina, awardee LPDP Luar Negeri, dan Sapen Sartika, penerima beasiswa PMDSU.

Di hadapan lebih dari 50 peserta, Dimas menceritakan bahwa perjalanan memperoleh beasiswa tidak dimulai ketika dirinya hendak mendaftar program magister. Keinginan tersebut telah tumbuh sejak SMA.

Saat masih duduk di kelas 12, Dimas tercatat sebagai penerima beasiswa Adik Asuh dari Suryanara Foundation. Program tersebut merupakan beasiswa yang diberikan oleh perkumpulan alumni LPDP kepada siswa SMA untuk mempersiapkan mereka melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Pertemuan dengan mentor yang merupakan alumni LPDP saat itu menjadi pengalaman yang membekas bagi Dimas. Dari sanalah muncul tekad untuk suatu hari mendapatkan kesempatan serupa.

“Suatu hari saya harus S2 dengan beasiswa LPDP,” kata Dimas.

Tekad tersebut kemudian dibarengi dengan perjuangan saat menempuh pendidikan sarjana di FISIP Undip. Ia diterima melalui jalur undangan rapor dan selama menjadi mahasiswa memperoleh sejumlah dukungan pendidikan, antara lain Beasiswa Afirmasi Dikti 3T, Smartscholarship YBM BRI, serta beasiswa aktivis dari Ikatan Keluarga Alumni FISIP Undip.

Menurut Dimas, berbagai beasiswa yang pernah diterimanya tidak serta-merta datang tanpa proses. Di balik sejumlah keberhasilan tersebut terdapat pula berbagai penolakan yang tidak terlihat dalam perjalanan akademiknya.

Karena itu, ia mengajak mahasiswa untuk tidak menjadikan kegagalan dalam memperoleh beasiswa sebagai alasan untuk berhenti mencoba.

“Sebab terkadang penolakan terbesar bukan datang dari orang lain, tetapi dari diri sendiri—self rejection, ketika kita merasa tidak mampu bahkan sebelum mencoba,” ujarnya.

Dimas menilai keberanian mencoba menjadi salah satu modal penting bagi anak muda yang ingin mendapatkan beasiswa. Menurut dia, kesempatan akan semakin terbuka ketika seseorang mulai mengenali persyaratan program yang dituju dan mempersiapkan dirinya jauh sebelum masa pendaftaran.

Baginya, beasiswa bukan sekadar bantuan pembiayaan pendidikan, tetapi bagian dari perjalanan untuk membuka akses pendidikan yang lebih luas.

“Beasiswa adalah nafas perjuangan pendidikan,” ujarnya.

Perjalanan tersebut akhirnya mengantarkan Dimas sebagai awardee LPDP Dalam Negeri dan melanjutkan pendidikan magister di Universitas Indonesia.

Ia berharap kisahnya dapat menjadi gambaran bagi anak-anak muda, khususnya dari daerah, bahwa keterbatasan latar belakang bukan alasan untuk membatasi cita-cita pendidikan.

“Jangan pernah perkecil mimpimu. Namun, daya juang dan semangatmulah yang harus diperbesar,” tutup Dimas.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....