Pancasila Diuji Arus Digital, MTsN 2 Lombok Barat Perkuat Karakter Siswa
- 30 Sep 2026 13:16 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Barat — Nilai-nilai Pancasila menghadapi tantangan baru seiring derasnya perubahan zaman. Di lingkungan pendidikan, tantangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemahaman terhadap lima sila, tetapi juga bagaimana nilai persatuan, toleransi, spiritualitas, dan tanggung jawab diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala MTs Negeri 2 Lombok Barat, H. Abdul Azis Faradi, S.Pd., M.Pd., mengatakan Pancasila harus ditempatkan sebagai pedoman hidup yang tetap relevan di tengah perkembangan globalisasi dan teknologi informasi.
Menurutnya, Pancasila bukan sekadar materi pembelajaran di ruang kelas. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu diterjemahkan melalui sikap dan perilaku peserta didik, termasuk dalam membangun hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, lingkungan, serta bangsa dan negara.
“Pancasila kita pahami sebagai way of life, sebagai pandangan hidup dan sebagai sumber dari segala sumber hukum di Republik Indonesia. Nilai persatuan dan kesatuan itu harus tercermin dalam kehidupan, termasuk di lingkungan pendidikan,” ujarnya, Rabu 30 September 2026.
Abdul Azis menilai sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, menjadi salah satu fondasi penting dalam pembentukan karakter siswa. Pendidikan agama dan pembinaan akhlak, kata dia, tidak cukup berhenti pada pemahaman teori, tetapi harus terlihat dalam kebiasaan peserta didik.
“Anak-anak kita ajarkan bagaimana taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Di mana pun mereka berada, nilai itu harus tercermin melalui pembentukan akhlakul karimah dan pelaksanaan ibadah, baik habluminallah maupun habluminannas,” katanya.
Penerapan nilai tersebut kemudian diintegrasikan dengan pendidikan karakter di madrasah. Abdul Azis menyebut pendekatan yang diterapkan tidak hanya mendorong kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi juga membangun kepedulian terhadap ilmu pengetahuan, lingkungan dan tanah air.
Di sisi lain, perkembangan teknologi informasi menjadi tantangan yang tidak dapat diabaikan. Kemudahan siswa memperoleh informasi melalui perangkat digital membuka peluang pembelajaran, namun sekaligus menghadirkan risiko ketika informasi yang diterima tidak diverifikasi.
“Perkembangan teknologi informasi menjadi tantangan terbesar karena anak-anak kadang belum mampu menjaring apakah informasi yang diterima itu benar atau tidak. Karena itu, mereka harus dibina agar bijak menggunakan teknologi,” ucapnya.
Ia menegaskan, siswa perlu membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Guru juga diarahkan menjadi tempat konsultasi ketika siswa menemukan informasi yang diragukan kebenarannya.
“Setiap informasi harus dipahami, diteliti, dan kalau perlu dikonsultasikan kepada Bapak dan Ibu Guru. Jangan sampai informasi yang diterima ternyata hoaks,” menegaskan.
Sebagai langkah preventif, penggunaan telepon seluler di lingkungan madrasah juga dibatasi. Pemanfaatan perangkat tersebut hanya diperbolehkan dalam kondisi tertentu, terutama ketika berkaitan dengan kebutuhan pembelajaran dan dilakukan berdasarkan arahan serta pengawasan guru.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya madrasah menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan pembentukan karakter. Teknologi tetap dapat digunakan sebagai sarana belajar, tetapi penggunaannya harus berada dalam koridor pendidikan.
Abdul Azis berharap pembiasaan tersebut dapat membentuk siswa yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mempunyai karakter kuat, mampu menghargai perbedaan, menjaga persatuan dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi.
“Nilai-nilai Pancasila harus hadir dalam kehidupan nyata. Anak-anak bukan hanya memahami Pancasila sebagai pelajaran, tetapi mampu mengamalkannya dalam sikap, perilaku, dan kehidupan sehari-hari,” katanya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....