Yachter Internasional Diharapkan Sebarkan Nama Harum Sumbawa
- 21 Sep 2026 17:54 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Sumbawa — Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P, meminta para yachter internasional yang mengikuti Sail Indonesia membawa cerita tentang Sumbawa ke berbagai negara setelah mengakhiri perjalanan mereka di daerah ini. Pesan tersebut disampaikan Jarot saat menyambut sekitar 50 yachter internasional di Pantai Saliper Ate, Senin 21 September 2026.
Pemerintah Kabupaten Sumbawa, memanfaatkan kedatangan peserta Sail Indonesia untuk memperkenalkan potensi wisata, budaya, ekonomi biru, hingga kehidupan masyarakat kepada wisatawan mancanegara.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Sumbawa, saya mengucapkan selamat datang di Sumbawa,” kata Jarot dalam sambutannya.
Menurut dia, perjalanan para yachter di perairan Indonesia tidak hanya menjadi agenda pelayaran. Kedatangan mereka juga membuka ruang bagi Sumbawa untuk memperkenalkan berbagai potensi daerah kepada masyarakat internasional.
Jarot berharap, para peserta tidak sekadar menikmati perjalanan dengan kapal, tetapi juga membawa pulang pengalaman dan cerita tentang Sumbawa.
“Saya berharap setelah beberapa hari berlayar di laut Indonesia, Bapak dan Ibu tidak hanya membawa kapal yang kembali berlayar, tetapi juga membawa pulang cerita tentang Sumbawa,” ujarnya.
Tahun ini, sekitar 15 kapal berpotensi singgah di Sumbawa dengan jumlah wisatawan sekitar 45 hingga 50 orang. Pemerintah daerah menyiapkan sejumlah pengalaman wisata yang dapat dinikmati para peserta, selama berada di Sumbawa.
Diantaranya wisata hiu paus di Teluk Saleh, tradisi Barapan Kebo, destinasi alam, kekayaan budaya, serta interaksi langsung dengan masyarakat.
Jarot mengatakan, kedatangan yachter menjadi bagian dari upaya memperkenalkan wajah Sumbawa kepada dunia. Pemerintah daerah ingin wisatawan mancanegara mengenal Sumbawa bukan hanya melalui keindahan pantainya, tetapi juga melalui kekayaan laut, tradisi, kuliner, dan keramahan masyarakat.
“Kami ingin setiap wilayah di Sumbawa memiliki cerita untuk dibawa ke dunia. Ada lautnya, ada alamnya, ada hiu pausnya, ada budayanya, ada kulinernya, dan tentu ada masyarakatnya yang ramah,” katanya.
Jarot juga mengaitkan kedatangan para yachter dengan pengembangan ekonomi biru di Sumbawa. Menurutnya, pemerintah daerah tidak ingin laut hanya menjadi jalur pelayaran, tetapi juga menjadi sumber kesejahteraan masyarakat.
Pengembangan ekonomi biru itu mencakup pariwisata bahari, perikanan, kelautan, usaha mikro kecil dan menengah, serta ekonomi kreatif.
Pemerintah Kabupaten Sumbawa juga terus mendorong pengembangan kawasan SAMOTA yang meliputi Teluk Saleh, Pulau Moyo, dan Tambora. Kawasan tersebut diarahkan menjadi kawasan strategis yang mampu berkembang sebagai pusat ekonomi dan pariwisata berskala dunia.
Jarot menyebut pemerintah pusat melihat SAMOTA memiliki peluang menjadi salah satu magnet investasi baru di kawasan Indonesia Timur. Potensi itu mencakup pariwisata, ekonomi biru, ekonomi hijau, agro-maritim, industri kreatif, hingga konektivitas logistik.
Selain sektor pariwisata, Sumbawa juga menyiapkan pengembangan sektor kelautan lainnya. Salah satunya pengembangan sentra garam sebagai bagian dari dukungan terhadap program swasembada garam nasional.
Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mengidentifikasi sejumlah lokasi potensial di Sumbawa. Salah satunya Labuhan Bontong, Kecamatan Tarano, yang diproyeksikan menjadi salah satu lokasi pengembangan sentra garam nasional.
“Dari laut ada ekonomi biru. Dari darat ada pertanian dan agrobisnis. Dari bawah tanah ada sumber daya mineral. Dan di tengah semuanya ada masyarakat Sumbawa yang harus menjadi penerima manfaat,” ujar Jarot.
Dalam kesempatan tersebut, Jarot juga memperkenalkan Teluk Saleh sebagai salah satu destinasi unggulan Sumbawa. Kawasan itu memiliki populasi hiu paus yang menjadi daya tarik wisata bahari.
Sehari sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Sumbawa menggelar Festival Hiu Paus di Desa Labuhan Jambu, Kecamatan Tarano. Kegiatan tersebut dibuka Menteri Hukum Republik Indonesia.
Jarot menyebut pemantauan terbaru mencatat sedikitnya 174 individu hiu paus telah teridentifikasi di Teluk Saleh. Data tersebut menunjukkan pentingnya kawasan itu bagi keberadaan hiu paus, termasuk sebagai habitat bagi hiu paus muda.
Karena itu, pemerintah daerah mendorong masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan menjaga kebersihan laut serta ekosistem Teluk Saleh.
Menurut Jarot, keberadaan hiu paus tidak hanya berkaitan dengan konservasi. Satwa tersebut juga memiliki kaitan langsung dengan pengembangan pariwisata dan perekonomian masyarakat di sekitar kawasan wisata.
Dalam Festival Hiu Paus, Menteri Hukum juga menyampaikan komitmen membantu pendanaan penataan dan kebersihan Desa Wisata Labuhan Jambu. Dukungan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kenyamanan kawasan wisata hiu paus.
Pemerintah juga mendapat komitmen fasilitasi dukungan tanggung jawab sosial perusahaan, atau CSR untuk menata lapak UMKM di kawasan wisata tersebut.
Jarot berharap pengembangan wisata hiu paus dapat memberikan ruang ekonomi lebih besar bagi masyarakat Labuhan Jambu. Wisatawan yang datang tidak hanya menikmati atraksi hiu paus, tetapi juga berinteraksi dengan masyarakat dan membeli produk UMKM lokal.
Di hadapan para yachter, Jarot kembali mengajak mereka menikmati dan mengenal Sumbawa lebih jauh.
“Enjoy Sumbawa. Explore Sumbawa. And please, tell the world about Sumbawa,” kata Jarot.
Ia meminta para yachter menceritakan pengalaman mereka setelah kembali ke negara masing-masing, terutama mengenai kekayaan alam, budaya, keramahan masyarakat, dan perkembangan ekonomi Sumbawa.
Sementara itu, Promotor Sail Indonesia Raymond T. Lesmana mengatakan para yachter telah datang ke Sumbawa sejak 2017. Dalam perjalanan tersebut, para peserta telah melewati sejumlah kawasan pesisir di Pulau Sumbawa.
Raymond menyebut para peserta mengenal sejumlah titik persinggahan, seperti Labuhan Jambu, Labuhan Badas, Pantai Goa, dan Gelora.
Menurut dia, panjang garis pantai utara Sumbawa menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan untuk mendukung kegiatan wisata bahari.
Ia berharap Sail Indonesia dapat menjadi pemicu pembangunan fasilitas wisata bahari yang lebih memadai, termasuk pelabuhan wisata yang mampu menerima kapal dan wisatawan dari berbagai negara.
Raymond juga menyampaikan apresiasi terhadap pelayanan Pemerintah Kabupaten Sumbawa selama kegiatan berlangsung. Ia berharap penyelenggaraan kegiatan serupa dapat berjalan lebih baik pada masa mendatang.
Yachter asal Selandia Baru, Perry, mengaku menikmati kunjungannya selama berada di Sumbawa. Ia telah mengunjungi sejumlah destinasi, termasuk lokasi wisata hiu paus dan Istana Dalam Loka.
Namun, tradisi Barapan Kebo menjadi salah satu pengalaman yang paling menarik perhatiannya. Perry berencana mengunjungi lokasi pelaksanaan Barapan Kebo setelah mendengar tradisi tersebut memiliki keunikan tersendiri.
Pengalaman serupa dirasakan Nancy, yachter asal Amerika Serikat. Ia bahkan sempat mencoba menjadi joki dalam tradisi Barapan Kebo.
Nancy mengaku menikmati rangkaian kegiatan selama berada di Sumbawa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....