Didominasi Usia Muda, Berikut Titik Rawan Kecelakaan di NTB

  • 08 Sep 2026 19:43 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Kecelakaan lalu lintas di NTB hingga Agustus 2026 banyak melibatkan laki-laki dan kelompok usia 18-24 tahun, sementara kecelakaan malam hari memiliki tingkat fatalitas lebih tinggi.
  • Pemprov NTB bersama Jasa Raharja memetakan titik rawan dan mendorong edukasi serta pengawasan untuk menekan angka kecelakaan dan korban meninggal dunia.

RRI.CO.ID, Mataram — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memperkuat sinergi dengan PT Jasa Raharja Kantor Wilayah NTB untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas dan fatalitas korban. Pemetaan titik rawan hingga Agustus 2026 menjadi salah satu dasar pemerintah menentukan langkah pencegahan.

Hal itu dibahas dalam audiensi Jasa Raharja NTB bersama Pemprov NTB di Ruang Rapat Sekretaris Daerah NTB, Selasa, 8 September 2026. Dalam pertemuan tersebut, Jasa Raharja memaparkan karakteristik kecelakaan lalu lintas di NTB.

Sejumlah wilayah menjadi perhatian karena memiliki angka kecelakaan cukup tinggi. Di antaranya Kecamatan Cakranegara dan Selaparang di Kota Mataram, Narmada di Lombok Barat, serta Pujut di Lombok Tengah.

Berdasarkan waktu kejadian, kecelakaan paling banyak terjadi pada pukul 12.00-18.00 WITA dengan 662 kejadian. Namun, kecelakaan pada malam hari justru memiliki tingkat fatalitas lebih tinggi.

“Siang hari kecelakaan lebih banyak karena mobilitas masyarakat tinggi. Tetapi malam hari, meskipun mobilitas lebih sedikit, fatalitasnya justru lebih tinggi,” demikian pemaparan Jasa Raharja.

Dari jenisnya, kecelakaan tunggal menjadi yang paling dominan. Disusul kecelakaan depan-depan dan depan-samping.

Kelompok usia muda juga menjadi perhatian. Korban kecelakaan didominasi laki-laki dengan persentase sekitar 70 persen. Sementara kelompok usia 18-24 tahun menjadi kelompok korban terbanyak.

Padahal, kelompok tersebut merupakan usia produktif yang banyak terdiri dari pelajar dan mahasiswa.

Dari sisi domisili, korban paling banyak berasal dari Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Timur. Kondisi ini menunjukkan tingginya mobilitas masyarakat antardaerah di NTB.

Selain itu, pejalan kaki juga cukup banyak menjadi korban, termasuk warga lanjut usia yang beraktivitas pada sore hari.

Tingkat fatalitas juga menjadi perhatian di sejumlah wilayah. Kecamatan Batu Kliang tercatat memiliki fatalitas sekitar 24 persen, sementara Narmada menjadi salah satu wilayah dengan tingkat fatalitas tinggi.

Sekda NTB, Abul Chair menegaskan keselamatan lalu lintas merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, data pemetaan kecelakaan dari Jasa Raharja dinilai penting untuk menentukan intervensi di lapangan.

“Keselamatan di jalan bukan hanya persoalan pemerintah atau aparat. Data ini harus menjadi dasar untuk menentukan langkah yang lebih tepat,” ujarnya.

Pemprov NTB dan Jasa Raharja selanjutnya mendorong langkah konkret, mulai dari edukasi keselamatan berlalu lintas, penguatan pengawasan di titik rawan, hingga peningkatan kesadaran masyarakat agar lebih disiplin saat menggunakan jalan.

“Kita ingin masyarakat NTB bukan hanya semakin produktif dan mobile, tetapi juga semakin aman ketika berada di jalan,” tegasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....