Komisi V DPR RI Usulkan Sumur Bor untuk Atasi Kekeringan Kuripan Selatan

  • 31 Agt 2026 18:14 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat – Kekeringan yang melanda Dusun Tugu Lawang Barat, Desa Kuripan Selatan, Kabupaten Lombok Barat, telah berlangsung sekitar tiga bulan. Warga di wilayah tersebut kini masih bergantung pada bantuan distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Melihat langsung kondisi masyarakat, Senin 31 Agustus 2026. Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PKS dari Daerah Pemilihan NTB 2 Pulau Lombok, H. Abdul Hadi, SE., MM., turun ke lokasi untuk memastikan persoalan kekurangan air bersih yang selama ini berulang di wilayah tersebut.

Abdul Hadi mengatakan, Dusun Tugu Lawang merupakan salah satu wilayah yang cukup sering mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, terutama saat musim kemarau berlangsung.

“Iya, alhamdulillah kita baru masuk ke wilayah Desa Kuripan Selatan, salah satunya di Dusun Tugu Lawang. Ini adalah salah satu dusun yang memang sering kesulitan air,” ujarnya.

Menurutnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) selama ini telah melakukan dropping air bersih secara rutin untuk membantu memenuhi kebutuhan warga.

Namun, kata dia, langkah tersebut masih menjadi solusi jangka pendek yang harus terus dilakukan selama sumber air permanen belum tersedia.

“Rekan-rekan BPBD sudah men-dropping air bersih hampir rutin. Mudah-mudahan komunikasi terus dibangun agar untuk jangka pendek kebutuhan masyarakat pada masa sulit air ini tetap bisa terpenuhi,” katanya.

Abdul Hadi menegaskan, masyarakat kemungkinan masih membutuhkan bantuan air bersih hingga datangnya musim hujan. Berdasarkan perkiraan yang disampaikan BMKG, musim hujan diperkirakan baru akan mulai terjadi sekitar November.

Karena itu, pemerintah diminta tetap memastikan distribusi air bersih tidak terhenti selama warga belum memiliki sumber air yang dapat dimanfaatkan secara mandiri.

“Selama belum ada titik temu sumber airnya, pemerintah harus tetap membantu penyediaan dan dropping air bersih untuk masyarakat,” ucapnya.

Selain bantuan darurat, Abdul Hadi menilai persoalan kekeringan di Dusun Tugu Lawang Barat membutuhkan solusi jangka panjang. Sebab, distribusi air menggunakan kendaraan tangki secara terus-menerus membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit.

Salah satu alternatif yang dinilai dapat dikaji adalah pembangunan sumur bor, khususnya apabila wilayah tersebut tidak memiliki sumber mata air yang dapat dialirkan atau ditampung untuk kebutuhan masyarakat.

“Nah, untuk jangka panjang, kalau dropping air dilakukan terus hampir setiap waktu tentu membutuhkan biaya yang besar. Kenapa tidak dicarikan solusi, salah satunya sumur bor, kalau memang tidak ada sumber mata air yang bisa diarahkan untuk ditampung di tempat ini,” katanya menegaskan.

Ia juga membuka peluang pembangunan sistem penyediaan air minum berbasis masyarakat melalui program Pamsimas. Menurut Abdul Hadi, program tersebut dapat menjadi salah satu solusi apabila memenuhi persyaratan dan kondisi wilayah memungkinkan.

Dalam skema tersebut, masyarakat memiliki peran penting, mulai dari pembangunan hingga pengelolaan fasilitas air bersih secara berkelanjutan.

“Kalau nanti ada sumur bor kemudian ada Pamsimas, mudah-mudahan kelompok masyarakat siap mengelola airnya, termasuk pola distribusi, perawatan mesin dan pembiayaan operasionalnya,” ujarnya.

Abdul Hadi mengingatkan bahwa keberadaan infrastruktur air bersih tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila tidak dibarengi dengan pengelolaan yang baik.

Menurutnya, sejumlah fasilitas Pamsimas yang pernah dibangun di beberapa wilayah kerap menghadapi persoalan pemeliharaan karena tidak dikelola secara optimal.

“Kita hampir menemukan Pamsimas yang ada di beberapa titik itu jarang terawat dengan baik. Oleh karena itu, kalau nanti ada program ke depan, kelompok masyarakat harus benar-benar siap untuk mengelolanya,” katanya.

Terkait kemungkinan pembangunan sumur bor, Abdul Hadi mengatakan diperlukan kajian teknis untuk memastikan keberadaan cadangan air tanah di wilayah tersebut.

Keberhasilan pembangunan sumur bor, menurutnya, tidak hanya ditentukan oleh kedalaman pengeboran, tetapi juga keberadaan cekungan air tanah yang memiliki debit cukup untuk dimanfaatkan masyarakat.

“Sumur bor ini harus dipastikan apakah memang ada air di bawah atau tidak. Rekan-rekan dari BBWS biasanya melihat cekungan air tanahnya. Kalau cekungan air tanahnya cukup untuk disedot, tentu memungkinkan,” ujarnya.

Sebaliknya, apabila kondisi geologis tidak memiliki cadangan air tanah yang memadai, pengeboran hingga kedalaman tertentu pun belum tentu menghasilkan sumber air.

“Kalau memang tidak ada cekungan air tanah, berapa meter pun dilakukan pengeboran tentu akan sulit mendapatkan air,” katanya menegaskan.

Abdul Hadi berharap pemerintah daerah bersama instansi teknis dapat melakukan kajian lebih lanjut terhadap kondisi geografis Dusun Tugu Lawang Barat.

Dengan demikian, solusi yang dipilih tidak hanya bersifat sementara, tetapi mampu memberikan kepastian ketersediaan air bersih bagi masyarakat dalam jangka panjang.

Untuk saat ini, bantuan distribusi air bersih tetap menjadi kebutuhan mendesak yang harus dipastikan keberlangsungannya selama warga belum menemukan sumber air permanen.

“Harapannya, kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi sekarang, sementara untuk jangka panjang kita carikan solusi yang benar-benar bisa menjawab persoalan kekeringan di wilayah ini,” katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....