Cegah Kebakaran, Pengamanan Situs Budaya Sumbawa Diperketat
- 31 Agt 2026 14:18 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Sumbawa - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sumbawa terus memperketat pengamanan terhadap sejumlah bangunan dan situs bersejarah. Langkah tersebut dilakukan, untuk mencegah terjadinya kebakaran yang dapat mengancam keberadaan aset budaya daerah.
Kabid Kebudayaan Dinas Dikbud Kabupaten Sumbawa, Sutan Syahril, mengatakan pihaknya memberikan perhatian khusus terhadap keamanan setiap situs budaya, yang berada di wilayah Kabupaten Sumbawa. Pengamanan menjadi semakin penting, setelah sejumlah situs budaya di daerah lain mengalami musibah kebakaran.
“Pengamanan situs budaya kita tetap menjadi atensi kami, apalagi saat ini banyak situs budaya yang terdampak musibah kebakaran seperti Desa Adat Sade Kabupaten Lombok Tengah,” kata Sutan Syahril, Senin 31 Agustus 2026.
Menurutnya, pengalaman kebakaran pada sejumlah bangunan bersejarah menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Kabupaten Sumbawa sendiri pernah mengalami kebakaran pada Istana Bala Putih pada Juli 2017 lalu. Peristiwa tersebut menjadi pelajaran penting bagi pemerintah, dalam meningkatkan sistem pengamanan terhadap bangunan yang memiliki nilai sejarah dan budaya.
Untuk mencegah kejadian serupa, Dinas Dikbud Sumbawa telah meminta para juru pelihara di setiap situs budaya meningkatkan pengawasan. Mereka tidak hanya bertugas merawat kondisi fisik bangunan, tetapi juga harus memastikan lingkungan situs tetap aman dari berbagai potensi yang dapat memicu kebakaran.
“Kita punya juru pelihara dan kami sudah menginstruksikan kepada mereka untuk menjaga dan selalu waspada, terutama terhadap para pengunjung yang datang mengunjungi situs budaya,” ujarnya.
Sutan mengatakan, pengawasan juga mencakup penggunaan jaringan listrik di dalam maupun sekitar bangunan bersejarah. Para juru pelihara, diminta memastikan seluruh instalasi dan peralatan listrik berada dalam kondisi aman. Pemerintah juga meminta pengunjung tidak merokok, selama berada di kawasan situs budaya.
Larangan tersebut menjadi salah satu langkah pencegahan yang diterapkan pemerintah. Aktivitas pengunjung menjadi perhatian karena kelalaian kecil dapat memicu kebakaran, terlebih sebagian bangunan bersejarah memiliki material yang mudah terbakar.
| Baca juga: Mitigasi Pantai Mataram Diperkuat |
Dinas Dikbud Sumbawa juga menyiapkan alat pemadam api ringan (APAR) di sejumlah lokasi. Peralatan tersebut antara lain tersedia di Dalam Loka dan Istana Bala Kuning. Pemerintah menilai keberadaan APAR penting, untuk memberikan penanganan awal apabila muncul api sebelum kebakaran berkembang lebih besar.
“Kami juga menyediakan APAR, terutama di Dalam Loka termasuk Istana Bala Kuning. Jadi banyak hal yang perlu kita perhatikan untuk menekan terjadinya hal yang tidak diinginkan,” katanya.
Selain meningkatkan pengawasan, pemerintah mulai melakukan pembenahan terhadap jaringan listrik pada sejumlah situs budaya. Juru pelihara setiap hari mendapatkan pengingat, agar memperhatikan kondisi instalasi listrik serta melaporkan apabila menemukan gangguan atau kerusakan.
Dinas Dikbud juga merencanakan penggunaan energi surya untuk memenuhi kebutuhan listrik di Istana Dalam Loka. Rencana tersebut, menjadi bagian dari upaya pemerintah mengurangi risiko yang berasal dari jaringan listrik konvensional di dalam bangunan bersejarah.
“Kita rencanakan untuk Istana Dalam Loka listriknya akan menggunakan tenaga surya. Termasuk meteran listrik yang terpasang di dalam istana sudah kita turunkan,” tutur Sutan.
Meski demikian, pemerintah tetap harus menyediakan sumber listrik untuk berbagai kegiatan yang berlangsung di kawasan istana. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Dinas Dikbud menyiapkan tiga gardu listrik berukuran kecil di sekitar Istana Dalam Loka.
Penempatan gardu di luar bangunan menjadi salah satu langkah untuk mengurangi potensi gangguan listrik yang dapat memicu kebakaran di dalam istana. Sementara pada malam hari, pemerintah merencanakan pemanfaatan energi surya untuk kebutuhan penerangan dan aktivitas tertentu di kawasan situs.
Sutan menegaskan pihaknya akan terus memantau kondisi bangunan serta jaringan listrik secara berkala. Para juru pelihara juga tetap menjalankan pengawasan terhadap aktivitas pengunjung dan kondisi lingkungan di sekitar situs budaya.
“Pola antisipasi dan pengamanan situs budaya tetap menjadi atensi kami agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Kami juga tetap akan melakukan pemantauan secara berkala untuk memastikan kondisi jaringan listrik dalam keadaan aman,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....