Maulid Nabi Momentum Meneladani Akhlak Rasulullah

  • 31 Agt 2026 08:39 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Setiap bulan Rabiul Awal, gema shalawat dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW menggema di berbagai penjuru dunia. Umat Islam menyambut kelahiran Rasulullah SAW sebagai wujud kecintaan dan rasa syukur atas hadirnya sosok pembawa rahmat bagi seluruh alam.

Namun, peringatan Maulid Nabi sejatinya tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial tahunan. Lebih dari itu, Maulid menjadi momentum untuk merenungkan kembali nilai-nilai perjuangan dan akhlak mulia yang dibawa Rasulullah SAW ke muka bumi.

Hal tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam Kabupaten Lombok Tengah, H. Syamsul Hakim, S.Sos., M.Sy., dalam program Renungan Senja di RRI Mataram, Senin 31 Agustus 2026.

Menurutnya, hakikat peringatan Maulid Nabi adalah membangkitkan kembali semangat untuk meneladani Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

“Peringatan Maulid bukan sekadar rutinitas tahunan, bukan pula seremoni budaya tanpa jiwa. Hakikatnya adalah merenungkan kembali dan membangkitkan nilai-nilai yang dibawa Rasulullah SAW ke muka bumi. Wujud syukur atas kelahiran beliau adalah dengan meneladani akhlaknya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Allah SWT telah memberikan karunia yang besar kepada umat manusia dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut dapat dimaknai melalui firman Allah SWT dalam Surat Yunus ayat 58:

“Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”

Menurut sejumlah ulama, salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah SWT kepada umat manusia adalah diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah Islam. Kehadiran Rasulullah menjadi cahaya yang mengubah kehidupan masyarakat dari masa jahiliyah menuju peradaban yang menjunjung kasih sayang, keadilan dan kemuliaan akhlak.

Syamsul Hakim mengatakan, umat Islam perlu bertanya kepada diri sendiri apakah kecintaan kepada Rasulullah SAW selama ini sudah diwujudkan dalam perilaku nyata.

“Apakah cukup kita hanya mengagungkan kisah beliau tanpa berusaha meniru akhlaknya? Hakikat Maulid mengajak kita untuk bercermin. Ketika kita mengaku cinta kepada Nabi, sejauh mana sikap dan perilaku kita sudah mencerminkan akhlak beliau?” katanya.

Allah SWT juga telah menegaskan bahwa Rasulullah SAW merupakan teladan terbaik bagi umat manusia sebagaimana termaktub dalam Surat Al-Ahzab ayat 21:

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”

Rasulullah SAW diutus ke muka bumi dengan salah satu misi utama untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia. Dalam hadis yang diriwayatkan Ahmad, Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Rasulullah dikenal sebagai pribadi yang santun dalam berbicara, jujur dalam bersikap, pemaaf, serta memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sesama. Bahkan, beliau tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.

Menurut Syamsul, nilai-nilai tersebut seharusnya menjadi bahan introspeksi bagi setiap muslim yang mengaku sebagai umat Nabi Muhammad SAW.

“Sudahkah kita memiliki sifat pemaaf seperti beliau, atau justru hati kita masih dipenuhi dendam, kesombongan dan iri hati? Apakah tutur kata kita sudah menjaga perasaan saudara kita, atau justru lidah kita masih mudah menyakiti dan memfitnah orang lain?” ungkapnya.

Ia menambahkan, dalam kehidupan sehari-hari masih banyak umat yang mengabaikan ajaran Rasulullah SAW. Kejujuran dalam berdagang sering kali ditinggalkan, etika dalam bertetangga mulai diabaikan, rasa hormat kepada orang tua berkurang, bahkan kasih sayang dalam keluarga kerap terlupakan.

Karena itu, peringatan Maulid Nabi harus menjadi momentum untuk membangun kesadaran akan pentingnya ittiba' atau mengikuti jejak Rasulullah SAW.

“Cinta kepada Rasulullah tidak boleh berhenti hanya di bibir. Cinta sejati adalah cinta yang menggerakkan seluruh anggota tubuh untuk taat kepada Allah dan mengikuti ajaran Rasulullah. Cinta yang mampu mengubah akhlak buruk menjadi akhlak yang mulia,” jelasnya.

Menurutnya, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW seharusnya tercermin dalam peningkatan kualitas ibadah dan perilaku sehari-hari. Shalat menjadi lebih khusyuk, kejujuran semakin terjaga, hubungan dengan sesama semakin baik, serta semangat menjalankan ajaran Islam semakin meningkat.

Syamsul Hakim mengingatkan agar umat Islam tidak hanya semarak dalam melantunkan shalawat, tetapi juga menjadikan ajaran Rasulullah SAW sebagai pedoman dalam kehidupan.

“Jangan sampai kita menjadi orang yang lantang bershalawat, tetapi dalam kehidupan bermasyarakat justru akhlak kita jauh dari ajaran Rasulullah. Maulid Nabi harus menjadi momentum perubahan, agar kecintaan kepada Rasulullah benar-benar tercermin dalam sikap, perkataan dan perbuatan,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....