Bawaslu Lobar Jadikan Refleksi 8 Tahun sebagai Bekal Mengawal Demokrasi 2029

  • 20 Agt 2026 13:33 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat — Delapan tahun perjalanan pengawasan pemilu di tingkat kabupaten/kota menjadi momentum bagi Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Lombok Barat untuk melakukan evaluasi sekaligus menyiapkan langkah menghadapi Pemilu 2029.

Refleksi tersebut ditandai dengan peluncuran buku berjudul “Cegah Masalah, Jangan Rawat Krisis”, yang memuat catatan dan pengalaman pengawasan Bawaslu Lombok Barat selama menjalankan tugas menjaga proses demokrasi.

Ketua Bawaslu Lombok Barat, Rizal Umami, mengatakan perjalanan pengawasan selama ini telah memberikan sejumlah pelajaran penting. Salah satunya terlihat dari pelaksanaan Pemilu dan Pilkada yang berlangsung aman, damai, serta dapat dipertanggungjawabkan.

“Alhamdulillah, kami telah melaksanakan Pemilu dan Pilkada dengan aman, damai, dan dapat dipertanggungjawabkan. Capaian itu tentu menjadi bagian penting yang harus kami refleksikan,” ujar Rizal, Kamis 20 Agustus 2026.

Menurutnya, pengalaman dari setiap tahapan pemilu tidak cukup hanya menjadi catatan sejarah. Evaluasi tersebut harus diterjemahkan menjadi bahan perbaikan agar persoalan yang pernah muncul tidak kembali berulang pada kontestasi berikutnya.

Rizal menegaskan, refleksi menjadi penting untuk memetakan kekurangan sekaligus mempertahankan hal-hal yang sudah berjalan baik. Dengan begitu, Bawaslu Lombok Barat memiliki pijakan yang lebih kuat dalam menghadapi Pemilu 2029.

“Kami ingin capaian dan pengalaman sebelumnya menjadi acuan. Apa yang masih kurang harus dievaluasi, sementara hal-hal yang sudah baik harus terus dirawat agar ke depan bisa lebih baik lagi,” katanya menegaskan.

Salah satu pekerjaan yang dinilai penting dan harus terus dijaga adalah pemutakhiran data pemilih. Bagi Bawaslu, data pemilih bukan sekadar bagian dari tahapan teknis pemilu, melainkan salah satu fondasi penting dalam memastikan hak konstitusional masyarakat tetap terlindungi.

Rizal menyebut tugas Bawaslu juga tidak berhenti ketika sebuah tahapan pemilu berakhir. Lembaga pengawas pemilu, kata dia, memiliki tanggung jawab yang lebih luas sebagai bagian dari upaya merawat demokrasi.

“Kami bukan hanya pekerja pemilu yang bekerja ketika ada tahapan. Kami adalah pekerja demokrasi. Karena itu, pekerjaan kami juga mencakup kegiatan di luar tahapan, termasuk edukasi pemilu dan ikut merawat serta mengawasi pemutakhiran data pemilih,” ucapnya.

Dalam konteks itulah, peluncuran buku “Cegah Masalah, Jangan Rawat Krisis” diposisikan sebagai salah satu bentuk dokumentasi sekaligus refleksi perjalanan pengawasan Bawaslu Lombok Barat.

Buku tersebut tidak hanya merekam pengalaman personal para pengawas di lapangan, tetapi juga mengabadikan berbagai persoalan yang pernah dihadapi selama proses pengawasan. Catatan itu diharapkan dapat menjadi referensi dalam membaca potensi persoalan pada pemilu mendatang.

“Buku ini menjadi bahan refleksi kami. Pengalaman pengawasan di lapangan tidak hanya kami simpan sebagai pengalaman pribadi, tetapi kami tuangkan dalam bentuk tulisan agar bisa menjadi acuan dan pembelajaran untuk perbaikan ke depan,” kata Rizal.

Ia menambahkan, buku tersebut merupakan bagian dari sejumlah karya yang disiapkan Bawaslu Lombok Barat sebagai media edukasi dan dokumentasi. Salah satu perhatian yang terus didorong adalah bagaimana pengelolaan dan pemutakhiran data pemilih dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Bagi Rizal, demokrasi membutuhkan pengawasan yang berlangsung secara konsisten, bukan hanya ketika masyarakat datang ke tempat pemungutan suara. Kehadiran Bawaslu harus dirasakan melalui edukasi, pencegahan, pengawasan serta keterlibatan dalam menjaga kualitas demokrasi.

Karena itu, Bawaslu Lombok Barat berharap dukungan masyarakat, pemangku kepentingan, dan publik terus menguat. Kepercayaan publik dinilai menjadi modal penting agar kerja pengawasan dapat berjalan secara independen dan menyeluruh.

“Kami berharap masyarakat dan seluruh stakeholder melihat Bawaslu secara utuh. Bukan hanya melihat kami ketika hari pemungutan suara, tetapi juga melihat bagaimana lembaga ini hadir memberikan edukasi dan menjaga demokrasi,” ucapnya.

Rizal berharap Bawaslu tetap menjadi lembaga yang independen, dapat diandalkan, serta mampu berjalan bersama masyarakat dalam mengawal setiap proses demokrasi.

“Harapan kami ke depan Bawaslu tetap menjadi lembaga yang independen dan dapat diandalkan. Bersama masyarakat, kita menjaga demokrasi dan memastikan pemilu mendatang mampu menghasilkan pemimpin yang lebih baik,” katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....