MAN Lobar Bersama Panca Karsa Bangun Budaya Madrasah tanpa Kekerasan
- 18 Agt 2026 14:33 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Barat — Upaya membangun lingkungan pendidikan yang aman, setara, dan terbebas dari kekerasan mendapat penguatan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Lombok Barat. Sebanyak 30 siswa mengikuti Sosialisasi Penghapusan Kekerasan Berbasis Gender bagi Santri Pondok Pesantren dan Siswa Madrasah yang digelar di Laboratorium Komputer MAN Lombok Barat, Selasa 18 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ruang penyampaian materi. Sebanyak lima siswa yang telah ditetapkan sebagai Tutor Sebaya dipersiapkan untuk menjadi penggerak pesan kesetaraan, sementara 25 siswa lainnya mengikuti sosialisasi sebagai bagian dari upaya memperluas pemahaman mengenai perlindungan, keadilan, dan pencegahan kekerasan di lingkungan madrasah.
Kegiatan dihadiri Kepala MAN Lombok Barat H. Kemas Burhan, S.Pd., M.Pd., Waka Humas Sahimi, S.Pd., M.Pd., Pembina ORSIMA Muhammad Muzakki, S.Pd., serta Direktur Perkumpulan Panca Karsa Aprilina Itariyani, S.H., bersama tim.
Aprilina mengatakan kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari Training of Trainers (TOT) tingkat kabupaten yang sebelumnya telah dilaksanakan. Dari proses tersebut, peserta dipersiapkan agar mampu meneruskan pengetahuan dan pesan kesetaraan kepada lingkungan terdekatnya.
Menurutnya, kesetaraan gender tidak semata-mata berbicara mengenai relasi antara perempuan dan laki-laki. Lebih jauh, isu tersebut berkaitan dengan hak setiap orang untuk memperoleh penghormatan, perlindungan, perlakuan yang adil, serta kesempatan yang sama untuk berkembang.
“Melalui kegiatan ini kita ingin menyuarakan kesetaraan gender, perlindungan keluarga, dan keadilan. Kita mengajak seluruh elemen lembaga pendidikan untuk menjadi voice for equality, menjadi suara bagi kesetaraan,” ujarnya.
Aprilina berharap pengetahuan yang diterima 25 siswa peserta tidak berhenti setelah kegiatan berakhir. Mereka diharapkan mampu meneruskan pesan tersebut kepada teman sebaya, keluarga, maupun lingkungan sosial di sekitarnya.
“Dua puluh lima orang yang mengikuti kegiatan ini diharapkan bisa menyuarakan kesetaraan. Karena perubahan tidak bisa dilakukan oleh satu atau dua orang saja. Perlu keterlibatan seluruh elemen,” katanya menegaskan.
Aprilina juga menyoroti posisi lembaga pendidikan dalam membentuk karakter anak. Menurut dia, madrasah bukan hanya tempat untuk memperoleh pengetahuan akademik, melainkan ruang tempat siswa tumbuh, berinteraksi, membangun karakter, sekaligus belajar menghargai sesama.
Karena itu, lingkungan pendidikan harus mampu memberikan rasa aman kepada seluruh peserta didik tanpa membedakan latar belakang maupun kondisi mereka.
“Madrasah adalah rumah kedua bagi seluruh siswa. Karena itu, rumah kedua ini harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan memberikan perlindungan kepada semua siswa,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi semakin penting karena upaya pencegahan kekerasan tidak cukup hanya mengandalkan aturan. Kesadaran warga madrasah, termasuk siswa, menjadi bagian penting untuk membangun budaya yang saling menghormati.
Kepala MAN Lombok Barat H. Kemas Burhan menyambut positif pelaksanaan sosialisasi tersebut. Ia menilai edukasi mengenai penghapusan kekerasan berbasis gender sejalan dengan berbagai langkah yang telah dilakukan madrasah dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman, termasuk penguatan gerakan antibullying.
MAN Lombok Barat, kata Kemas, telah memiliki Satgas Antibullying yang secara berkala melakukan pembinaan dan menyampaikan kampanye pencegahan perundungan kepada siswa.
Pesan mengenai pentingnya menghargai perbedaan, menjaga perasaan teman, menghindari ejekan, serta tidak melakukan tindakan yang merendahkan orang lain juga terus disampaikan melalui berbagai kegiatan madrasah.
“Keberadaan kegiatan ini menjadi penguatan bagi kegiatan-kegiatan antibullying yang sudah kami lakukan sebelumnya. Di MAN Lombok Barat sudah terbentuk Satgas Antibullying dan secara rutin menyuarakan antibullying melalui kegiatan pembinaan berkala, kegiatan imtaq, dan berbagai kegiatan lainnya,” kata Kemas.
Menurutnya, pencegahan kekerasan akan lebih efektif apabila dibangun melalui kesadaran bersama. Aturan dan sanksi tetap diperlukan, tetapi pembentukan karakter dan kepedulian antarsiswa menjadi fondasi agar perilaku kekerasan maupun perundungan dapat dicegah sejak awal.
Kehadiran Tutor Sebaya menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut. Lima siswa yang ditunjuk diharapkan tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu menjadi penghubung pesan kesetaraan di tengah lingkungan siswa.
Pendekatan melalui teman sebaya dinilai memiliki ruang yang luas karena siswa berinteraksi intensif dengan sesamanya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pesan mengenai penghormatan, kesetaraan, perlindungan, dan pencegahan kekerasan diharapkan lebih mudah diterima dan diterapkan.
Kemas memberikan perhatian khusus kepada lima siswa yang telah dipercaya menjalankan peran tersebut. Mereka diharapkan mampu memberikan pengaruh positif kepada ratusan siswa lainnya.
“Lima tutor sebaya yang telah ditentukan kami harapkan bisa memberikan bias atau dampak positif dengan menyuarakan kesetaraan kepada sekitar 820-an siswa MAN Lombok Barat,” ujarnya.
Dengan jumlah siswa sekitar 820 orang, Kemas melihat terdapat ruang besar untuk memperluas gerakan positif tersebut. Pesan yang dimulai dari lima Tutor Sebaya diharapkan dapat menyebar melalui interaksi antarsiswa sehingga tidak berhenti di ruang sosialisasi.
Konsep Tutor Sebaya dalam kegiatan tersebut diarahkan lebih dari sekadar penyampai materi. Mereka diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang dapat mengenali bentuk-bentuk kekerasan, memahami prinsip kesetaraan, serta berani menyuarakan perlindungan bagi teman yang membutuhkan dukungan.
Pemahaman itu juga penting untuk membantu siswa membedakan antara candaan dengan perilaku yang berpotensi merendahkan atau melukai orang lain. Ejekan, pelabelan, diskriminasi, maupun perundungan yang dilakukan berulang tidak semestinya dianggap sebagai bagian biasa dari pergaulan.
Kemas mengapresiasi Perkumpulan Panca Karsa yang telah memilih MAN Lombok Barat sebagai salah satu lokus kegiatan. Ia berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat terus dikembangkan melalui program edukasi yang menyentuh lebih banyak siswa.
“Atas nama keluarga besar MAN Lombok Barat, kami menyampaikan terima kasih kepada Ibu Direktur dan tim Panca Karsa yang telah memilih madrasah kami sebagai lokus sosialisasi,” ucapnya.
Ia menilai penciptaan lingkungan pendidikan yang aman merupakan tanggung jawab bersama. Guru, tenaga kependidikan, pimpinan madrasah, dan siswa memiliki peran masing-masing dalam menjaga agar ruang belajar tetap menjadi tempat yang nyaman untuk berkembang.
Sosialisasi penghapusan kekerasan berbasis gender di MAN Lombok Barat akhirnya tidak hanya berbicara tentang materi yang disampaikan dalam satu ruangan. Kehadiran lima Tutor Sebaya dan 25 peserta menjadi langkah untuk membawa pesan kesetaraan keluar dari Labkom dan memasukkannya ke dalam kehidupan sehari-hari di madrasah.
Harapannya, nilai penghormatan, keadilan, perlindungan, dan kesetaraan dapat tumbuh sebagai budaya. Dengan begitu, MAN Lombok Barat tidak hanya menjadi tempat siswa mengejar prestasi akademik, tetapi juga ruang aman bagi setiap anak untuk belajar, bersosialisasi, membangun karakter, dan berkembang tanpa rasa takut terhadap kekerasan maupun diskriminasi.
“Ketika seluruh warga madrasah memiliki kesadaran dan komitmen yang sama, budaya positif akan lebih mudah tumbuh,” katanya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....