Dosen STIE Bima Dampingi Kelompok Usaha Jamu Tradisional Khas Bima
- 18 Agt 2026 10:13 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Bima - Upaya meningkatkan kapasitas dan daya saing pelaku usaha mikro berbasis kearifan lokal terus dilakukan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat.
Tim dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Bima melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk "Pendampingan Kewirausahaan Berbasis Kemasan Produk, Pencatatan Keuangan dan Digital Marketing pada Kelompok Usaha Jamu Tradisional Khas Bima di Kelurahan Rabangodu Selatan Kota Bima."
Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis, 13 Agustus 2026, tersebut menyasar kelompok usaha jamu tradisional yang dikelola oleh Ibu Kalisom di RT 05/RW 02, Kelurahan Rabangodu Selatan, Kecamatan Raba, Kota Bima. Produk yang dikembangkan antara lain Obat Lo’i Pa’i Piri, Lo’i Kalo Goa, dan Lo’i Tamulawak, yang selama ini menjadi bagian dari warisan pengobatan tradisional masyarakat Bima sekaligus sumber pendapatan bagi pelaku usaha.
Ketua Tim Pelaksana PKM, Firmansyah Kusumayadi, S.Pd., MM mengatakan kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh besarnya potensi jamu tradisional khas Bima yang belum sepenuhnya dikelola secara profesional.
| Baca juga: Realisasi PAD Kota Bima Tumbuh 17 Persen |
“Kami melihat produk jamu tradisional Bima memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Namun, masih terdapat beberapa kendala utama, terutama dalam pengelolaan manajemen usaha dan pencatatan keuangan, desain serta kemasan produk, dan pemanfaatan platform digital untuk pemasaran,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, tim PKM memberikan pendampingan secara komprehensif melalui tiga aspek utama.
Pertama,penguatan manajemen usaha dan pencatatan keuangan. Para pelaku usaha diperkenalkan dengan sistem pencatatan keuangan sederhana agar mampu memisahkan keuangan pribadi dan keuangan usaha, memantau arus kas, menghitung laba dan rugi, serta menggunakan data keuangan sebagai dasar dalam mengambil keputusan bisnis.
Kedua, pendampingan desain dan kemasan produk. Peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya identitas merek, desain kemasan, label produk, informasi yang lengkap, serta tampilan yang menarik. Kemasan yang lebih informatif dan estetis diharapkan mampu meningkatkan nilai jual sekaligus memperkuat identitas jamu tradisional khas Bima.
Ketiga, pelatihan digital marketing. Para pelaku usaha dibimbing untuk memanfaatkan berbagai platform digital seperti Facebook, Instagram, TikTok, website, dan platform perdagangan elektronik sebagai media promosi dan pemasaran. Peserta juga mendapatkan pendampingan mengenai pembuatan konten, teknik pengambilan foto produk, serta strategi pemasaran secara daring.
Pemanfaatan teknologi digital diharapkan dapat membuka akses pasar yang lebih luas. Produk jamu tradisional yang selama ini dipasarkan secara konvensional diharapkan mampu menjangkau konsumen di luar Kota Bima hingga berbagai daerah lainnya.
Ketua kelompok usaha jamu, Kalisom menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang diberikan oleh tim PKM STIE Bima.
"Kami sangat terbantu dengan adanya pendampingan melalui seminar dan pelatihan, termasuk bantuan alat dan bahan produksi. Selama ini kami hanya berjualan secara konvensional. Sekarang kami memiliki harapan baru untuk mengembangkan usaha sekaligus melestarikan jamu tradisional Bima," ungkapnya.
Apresiasi juga disampaikan Lurah Rabangodu Selatan, Syamsul Bahri, S.Sos. Menurutnya, program tersebut memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro di wilayah Kelurahan Rabangodu Selatan.
“Kami berterima kasih atas perhatian dan bantuan nyata dari para akademisi. Program ini bukan hanya meningkatkan kapasitas wirausaha, tetapi juga memotivasi masyarakat untuk terus berinovasi. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat berkelanjutan dan menjadi contoh bagi pelaku usaha lainnya,” tuturnya.
Tim pelaksana PKM terdiri atas Firmansyah Kusumayadi, S.Pd., MM selaku ketua, bersama Nafisah Nurulrahmatia, M.Ak dan Nur Khusnul Hamida, MM sebagai anggota.
Program yang dilaksanakan melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Hibah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Tahun 2026 ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan semata.
Pendampingan tersebut diharapkan mampu mendorong kelompok usaha jamu tradisional khas Bima menjadi lebih tertata dalam pengelolaan usaha, memiliki kemasan yang lebih kompetitif, serta mampu memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar.
Melalui sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat, jamu tradisional khas Bima diharapkan tidak hanya tetap bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi produk ekonomi kreatif lokal yang modern, bernilai tambah, dan memiliki daya saing di pasar yang lebih luas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....