Ekraf Mania Festival 2026 Jadi Langkah Awal Bangkitkan Ekonomi Kreatif NTB
- 15 Agt 2026 05:34 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Ekraf Mania Festival 2026 menjadi langkah awal Disparekraf NTB membangun ekosistem ekonomi kreatif yang lebih kolaboratif dan berkelanjutan.
- Disparekraf NTB menyiapkan Creative Hub dan Ekraf Satu Data untuk memetakan serta memperkuat pelaku 21 subsektor ekonomi kreatif.
RRI.CO.ID, Matram — Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Nusa Tenggara Barat mulai membuka ruang lebih luas bagi pelaku ekonomi kreatif. Salah satunya melalui Ekraf Mania Festival 2026 yang digelar di halaman Kantor Disparekraf NTB, Kamis malam, 13 Agustus 2026.
Festival ini tidak sekadar menjadi ajang seremonial. Disparekraf NTB ingin menjadikannya pintu masuk untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang lebih terhubung antara pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha.

Sekretaris Disparekraf NTB Muhamad Erwan mengatakan komunikasi langsung dengan pelaku ekraf menjadi kunci agar kebijakan pemerintah tidak berjalan tanpa memahami persoalan di lapangan.
“Tanpa komunikasi yang baik, kita tidak bisa memitigasi persoalan-persoalan yang dihadapi para pelaku ekraf,” kata Erwan.
Ia mengatakan Kantor Disparekraf NTB ke depan akan diarahkan menjadi Creative Hub. Berbagai komunitas, mulai fotografi, film, musik hingga subsektor kreatif lainnya, akan diberi ruang untuk memamerkan karya dan membangun jejaring.
“Bukan hanya persoalan event. Setiap hari harus ada yang kita coba untuk tampilkan dan kita fasilitasi,” ujarnya.
Disparekraf NTB juga tengah menyiapkan konsep Ekraf Satu Data. Data ini akan digunakan untuk memetakan pelaku ekonomi kreatif berdasarkan kapasitas dan tingkat perkembangannya.
Dengan pemetaan tersebut, pemerintah dapat memberikan dukungan yang lebih tepat sasaran. Pelaku yang masih merintis akan mendapat intervensi berbeda dengan mereka yang sudah berkembang dan siap masuk pasar yang lebih luas.
Dalam jangka panjang, Disparekraf NTB menargetkan terbentuknya Nusa Tenggara Creative Hub yang menaungi 21 subsektor ekonomi kreatif.
Konsep ini dinilai penting untuk memperkuat karakter NTB sebagai destinasi pariwisata, termasuk sport tourism. Pemerintah juga akan mendorong regulasi agar kreativitas komunitas tetap berjalan tanpa berbenturan dengan aturan.
Erwan mencontohkan komunitas otomotif yang membutuhkan ruang untuk melakukan modifikasi dan berkarya.
“Jangan sampai gara-gara modifikasi, orang masuk penjara. Itu yang menjadi ketakutan teman-teman pelaku ekraf,” katanya.
Menurut Erwan, kritik dari pelaku ekonomi kreatif justru dibutuhkan pemerintah untuk memperbaiki kebijakan.
“Sebagai pemerintah ini tidak mudah, kritikan itu pasti banyak. Tapi kritikan bagi pemerintah haruslah membuat rakyat bisa terfasilitasi dengan baik,” ujarnya.
Salah satu peserta Ekraf Mania Festival, Khaeril, mengatakan kegiatan tersebut memberinya pengalaman baru. Pemuda asal Lombok Timur yang berprofesi sebagai konten kreator itu mengikuti Digital Creative Academy bersama sekitar 40 pelaku dan komunitas kreatif.
Ia mengaku mendapat pengetahuan baru tentang fotografi, digital marketing, sinematografi hingga blogging.
“Acara ini keren, dimentor orang yang kompeten di bidangnya. Dalam proses belajar realistis, kita praktik langsung,” kata Khaeril.
Diskusi Ngopi Ekraf dalam Ekraf Mania Festival 2026 dipandu Wakil Ketua Kadin NTB Lalu Anas Amrullah. Sejumlah narasumber turut hadir, di antaranya Direktur Semesta Network M. Hafidullah, Ketua Gekrafs NTB Yeyen Seprian, dosen Fisipol Unram Aurelius Teluma, serta pelaku Longitara Creative Vhio Trevie.
Melalui festival tersebut, Disparekraf NTB menargetkan ruang kolaborasi tidak berhenti pada satu kegiatan. Pemerintah ingin ekosistem ekonomi kreatif tumbuh dari komunitas, berkembang menjadi industri, dan ikut menggerakkan ekonomi NTB.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....