Kebakaran Lombok Barat Capai 88 Kasus, Cas HP Jadi Pemicu yang Diwaspadai

  • 12 Agt 2026 06:56 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat — Ancaman kebakaran di Kabupaten Lombok Barat (Lobar) menunjukkan tren yang patut diwaspadai. Hingga Juni 2026, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Lobar telah menangani 88 kejadian kebakaran, angka yang bahkan telah melampaui total kasus sepanjang 2025.

Kepala Dinas Damkarmat Lobar, H. Suherman, S.IP., mengatakan sepanjang 2025 tercatat sebanyak 77 peristiwa kebakaran. Sementara pada periode yang sama, petugas juga menangani 175 kejadian nonkebakaran yang membutuhkan tindakan penyelamatan.

Memasuki 2026, peningkatan terlihat cukup signifikan. Baru sampai Juni, jumlah kebakaran sudah mencapai 88 kejadian. Pada periode tersebut, kasus penyelamatan akibat kejadian nonkebakaran juga meningkat menjadi 177 kejadian.

“Kalau kita evaluasi dari tren kejadian, tahun 2025 ada 77 peristiwa kebakaran dalam satu tahun. Tetapi sampai Juni 2026 saja sudah 88 kejadian,” ujar Suherman saat ditemui RRI di kantornya Gerung, Lombok Barat, Selasa 11 Agustus 2026.

Menurutnya, kejadian yang ditangani Damkarmat tidak sebatas kebakaran. Tim penyelamatan juga kerap diterjunkan untuk menangani berbagai situasi darurat, mulai dari evakuasi ular dan biawak, cincin yang sulit dilepas, hingga telepon seluler yang terjatuh di lokasi tertentu.

Suherman menilai peningkatan kejadian tersebut perlu mendapat perhatian serius karena berlangsung di tengah kondisi cuaca yang dinilai semakin tidak menentu. Peringatan mengenai perubahan cuaca dan potensi kondisi ekstrem juga menjadi salah satu faktor yang terus diantisipasi pemerintah daerah.

“Memang trennya agak meningkat. Kondisi cuaca juga menjadi salah satu hal yang harus kita waspadai. Kita sudah mendapatkan peringatan terkait perubahan cuaca yang rawan,” katanya menegaskan.

Dari keseluruhan kejadian kebakaran yang ditangani hingga Juni 2026, Suherman menyebut tidak ada satu jenis lokasi yang benar-benar mendominasi. Kebakaran terjadi relatif tersebar, baik di kawasan permukiman maupun area terbuka.

Untuk kebakaran lahan, ia menjelaskan bahwa kasus yang dimaksud bukan hanya lahan produktif. Sebagian kejadian justru berasal dari pembakaran sampah maupun kebun rakyat yang tidak diawasi hingga api membesar dan sulit dikendalikan.

Kebiasaan membakar sesuatu tanpa memastikan api benar-benar padam menjadi salah satu persoalan yang masih ditemukan di lapangan. Ketika api kemudian meluas, masyarakat baru menghubungi petugas pemadam untuk melakukan penanganan.

“Kadang masyarakat membakar dan tidak ditunggu. Ketika api membesar dan mulai panik, baru Damkar dihubungi,” ucapnya.

Damkarmat Lobar juga mencatat sejumlah kejadian yang dipicu kelalaian manusia. Salah satu contohnya terjadi di wilayah Lingsar, ketika dupa yang digunakan untuk keperluan ibadah ditinggalkan dalam kondisi masih menyala hingga memicu kebakaran.

Kasus serupa juga dapat terjadi akibat aktivitas rumah tangga sehari-hari. Kompor yang lupa dimatikan, alat pemanas yang masih menyala, maupun perangkat elektronik yang ditinggalkan saat penghuni rumah bepergian dapat berubah menjadi sumber bahaya.

Selain kelalaian, persoalan instalasi kelistrikan rumah juga menjadi perhatian Damkarmat. Salah satu kasus kebakaran di Narmada disebut berkaitan dengan aktivitas pengisian daya telepon seluler.

Menurut Suherman, kondisi instalasi listrik yang sudah lama dan tidak mendapat peremajaan dapat meningkatkan risiko. Bahaya juga muncul ketika satu titik colokan digunakan secara berlebihan untuk memasok banyak perangkat sekaligus.

“Kalau satu colokan digunakan untuk tiga atau empat perangkat sekaligus, tentu beban arus listriknya harus diperhatikan. Tingkat panasnya juga berpengaruh,” jelasnya.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap sepele penggunaan perangkat listrik, khususnya ketika meninggalkan rumah. Pemeriksaan terhadap instalasi yang sudah berusia lama juga dinilai penting untuk mencegah terjadinya hubungan arus pendek maupun panas berlebih.

Di antara berbagai kejadian yang ditangani, terdapat pula peristiwa yang menjadi perhatian masyarakat karena tampilannya cukup mencolok di media sosial.

Suherman menyebut kejadian pohon beringin tumbang di kawasan Batu Bolong sebagai salah satu peristiwa yang banyak mendapat perhatian warganet. Meski secara visual menarik perhatian, ia menegaskan bahwa setiap kejadian yang berpotensi membahayakan tetap merupakan bagian dari kondisi darurat yang harus ditangani serius.

“Kalau di media sosial memang kelihatannya menarik dan banyak yang memperhatikan. Tetapi yang namanya bencana tetap bencana, bukan sesuatu yang bisa dianggap menarik semata,” katanya.

Menghadapi peningkatan kasus, Damkarmat Lobar tidak hanya mengandalkan respons setelah kebakaran terjadi. Edukasi mengenai pencegahan dan penanganan awal juga terus dilakukan dengan menyasar masyarakat di tingkat desa.

Petugas memberikan imbauan sekaligus menyampaikan tata cara penanganan awal ketika terjadi kebakaran. Langkah tersebut dinilai penting agar masyarakat tidak panik dan dapat mengambil tindakan yang tepat sebelum petugas tiba di lokasi.

Suherman mengatakan penyebab kebakaran yang ditemukan di lapangan cukup beragam. Selain korsleting listrik dan kelalaian masyarakat, terdapat pula kejadian yang dipicu faktor alam atau kondisi tidak terduga.

“Petugas sudah turun ke desa-desa untuk memberikan imbauan dan tata cara penanganan pertama apabila terjadi kebakaran,” ujarnya.

Dengan jumlah kebakaran yang sudah mencapai 88 kasus hanya dalam enam bulan, Damkarmat Lobar mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap penggunaan listrik, aktivitas memasak, pembakaran sampah, serta berbagai sumber api yang ditinggalkan tanpa pengawasan.

“Yang paling penting adalah jangan meninggalkan sumber api atau peralatan listrik dalam kondisi menyala. Pencegahan jauh lebih baik sebelum api menjadi bencana,” katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....