Transformasi Digital dan Sustainability Jadi Kunci Bisnis Hotel Lombok
- 08 Agt 2026 10:37 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Barat — Industri perhotelan di Lombok dituntut tidak sekadar mengikuti perkembangan teknologi digital, tetapi juga mampu membangun praktik bisnis yang berkelanjutan. Persoalan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Transformasi Digital dan Sustainabilitas dalam Penciptaan Kinerja Bisnis Perhotelan di Lombok”.
Kegiatan yang menjadi bagian dari penelitian disertasi Program Doktor Bisnis Pariwisata Politeknik Negeri Bali itu berlangsung di Ballroom Hotel Holiday Resort Lombok, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Dalam forum tersebut, I Ketut Murta Jaya Kusuma, M.Tr.Par., CHA, memaparkan bahwa peningkatan kinerja bisnis hotel berbintang di Lombok tidak bisa ditempuh secara instan hanya dengan mengandalkan penerapan teknologi digital maupun narasi mengenai keberlanjutan.
Menurutnya, transformasi bisnis membutuhkan proses bertahap dengan memperhatikan hubungan antara stimulus, kesiapan internal, hingga respons yang dihasilkan. Kerangka tersebut mengacu pada pendekatan Stimulus-Organism-Response (SOR).
“Penguatan kinerja bisnis perhotelan berbintang di Lombok tidak dapat dicapai secara instan melalui teknologi digital atau jargon keberlanjutan semata, melainkan melalui proses bertahap sesuai kerangka SOR,” ujarnya.
Hasil penelitian menunjukkan sustainability awareness atau kesadaran terhadap keberlanjutan menjadi stimulus yang dominan, khususnya pada kelompok All dan Customer. Sementara itu, kesiapan karyawan (employee readiness) serta komitmen manajemen (management commitment) menjadi unsur internal yang menentukan keberhasilan proses tersebut.
Kusuma menegaskan, keberlanjutan dalam bisnis hotel tidak cukup berhenti pada kesadaran. Komitmen internal perusahaan menjadi faktor penting agar prinsip keberlanjutan benar-benar diterjemahkan menjadi praktik bisnis.
“Management commitment adalah kunci utama realisasi sustainable practice,” katanya menegaskan.
Temuan penelitian juga memperlihatkan adanya peran komitmen pemerintah dalam memperkuat kesiapan karyawan. Pengaruh tersebut terlihat pada kelompok All, Karyawan, dan Masyarakat. Namun, komitmen pemerintah tidak ditemukan memoderasi komitmen manajemen puncak pada kelompok penelitian mana pun.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa dukungan pemerintah memiliki pengaruh tertentu terhadap kesiapan sumber daya manusia, tetapi keberhasilan penerapan praktik berkelanjutan tetap sangat bergantung pada kekuatan komitmen internal perusahaan.
Lebih jauh, praktik berkelanjutan yang berhasil diwujudkan melalui komitmen manajemen kemudian berkaitan dengan terbentuknya pengalaman pelanggan (customer experience). Pengalaman tersebut berlanjut pada loyalitas pelanggan (customer loyalty) dan pada akhirnya memberikan kontribusi terhadap kinerja bisnis (business performance).
Rangkaian hubungan itu ditemukan berjalan secara signifikan dan konsisten dalam hasil penelitian.
Penelitian tersebut sekaligus menguatkan integrasi Teori Stimulus-Organism-Response (SOR) dengan konsep Triple Bottom Line, yang menempatkan keberlanjutan tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan lingkungan.
Menariknya, penelitian juga menemukan adanya perbedaan persepsi atau persepsi asimetris di antara kelompok All, Customer, Karyawan, dan Masyarakat Sekitar.
Perbedaan pandangan tersebut menjadi catatan penting bagi pengelola hotel dalam merancang strategi transformasi digital dan keberlanjutan. Sebab, keberhasilan bisnis perhotelan tidak hanya ditentukan oleh apa yang dilakukan manajemen, tetapi juga bagaimana kebijakan tersebut dipersepsikan oleh karyawan, pelanggan, serta masyarakat di sekitar kawasan hotel.
Dengan demikian, transformasi digital dan sustainabilitas bukan dua agenda yang berdiri sendiri. Keduanya membutuhkan kesiapan sumber daya manusia, kepemimpinan manajemen, dukungan kebijakan pemerintah, serta kemampuan industri menciptakan pengalaman pelanggan yang berujung pada loyalitas dan peningkatan kinerja bisnis.
“Keseluruhan temuan ini menunjukkan pentingnya melihat transformasi bisnis perhotelan secara terintegrasi, mulai dari kesadaran keberlanjutan, kesiapan internal, praktik berkelanjutan, hingga dampaknya terhadap pelanggan dan kinerja bisnis,” ucapnya.
FGD tersebut menjadi bagian penting dalam menggali perspektif berbagai kelompok terkait transformasi digital dan sustainabilitas industri perhotelan di Lombok. Temuan penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran lebih utuh mengenai faktor-faktor yang menentukan daya tahan dan kinerja bisnis perhotelan di tengah perubahan industri pariwisata.
“Transformasi yang kuat membutuhkan proses, komitmen, dan keterlibatan berbagai pihak secara berkelanjutan,” katanya mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....