Musim Kemarau, Lombok Timur Perkuat Langkah Jaga Ketahanan Pangan
- 03 Agt 2026 07:52 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Timur - Memasuki puncak musim kemarau, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan ketahanan pangan akibat pengaruh fenomena iklim, terutama El Nino. Kondisi musim kering yang diperkuat monsun Australia dinilai berpotensi mengurangi ketersediaan air dan memengaruhi produksi pangan, khususnya di wilayah selatan yang didominasi lahan tadah hujan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Lombok Timur, Selamet Alimin, mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air, sementara para petani diminta memanfaatkan sumber air yang masih tersedia serta menyesuaikan pola tanam dengan kondisi musim kemarau. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko penurunan produksi pangan dan menjaga keberlanjutan hasil pertanian.
"Kami mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijak selama musim kemarau. Bagi para petani, manfaatkan sumber air yang masih tersedia dan sesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim agar risiko gagal panen dapat ditekan," ujar Selamet Alimin, Minggu, 2 Agustus 2026
Ia menjelaskan, apabila El Nino kembali mendominasi, musim kemarau akan berlangsung lebih panjang sehingga pasokan air irigasi berkurang. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan produksi berbagai komoditas pangan, terutama jagung yang menjadi salah satu komoditas unggulan Lombok Timur, disusul padi, kedelai, dan ubi kayu. Penurunan produksi juga dapat memicu kenaikan harga pangan serta meningkatkan risiko gagal panen akibat kekeringan.
Selain kekurangan air, cuaca panas dan kering juga berpotensi meningkatkan serangan hama dan penyakit tanaman seperti wereng, ulat grayak, dan kutu daun. Wilayah Keruak, Jerowaru, Sakra, serta kawasan selatan Lombok Timur menjadi daerah yang paling rentan karena bergantung pada curah hujan dan memiliki keterbatasan sumber air saat musim kemarau.
Selamet Alimin menambahkan, upaya mitigasi perlu dilakukan melalui pemilihan varietas tanaman yang sesuai dengan kondisi musim. Terdapat pula penerapan teknologi hemat air, pembangunan dan pemanfaatan embung maupun saluran penampung air, pemupukan berimbang, serta pemantauan informasi iklim dari BMKG melalui aplikasi Kalender Tanam (Katam) dan Siscrop.
"Kesiapsiagaan menjadi kunci. Dengan memanfaatkan informasi iklim, menerapkan teknologi hemat air, dan memperkuat cadangan pangan, kita dapat mengurangi dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian dan menjaga ketahanan pangan masyarakat," kata Selamet.
Pemerintah pusat juga telah memperkuat langkah antisipasi dengan meningkatkan Cadangan Pangan Pemerintah, memperluas program pompanisasi lahan pertanian, serta meminta pemerintah daerah memperkuat cadangan pangan daerah, memantau pasokan dan harga pangan, serta meningkatkan koordinasi dengan BMKG. Sebagai salah satu lumbung pangan nasional di kawasan timur Indonesia, NTB diharapkan mampu menjaga stabilitas produksi pangan meskipun menghadapi tantangan perubahan iklim.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....