Warige Pemandu Petani di Lombok
- 31 Jul 2026 17:15 WIB
- Mataram
Poin Utama
- penamaan tahun di Kalender Sasak dilihat dari hari apa jatuhnya tanggal 1 Muharram dan nilai Neptunya. Tahun ALIF, HE, IM AWAL, SE atau TSE, DAL, BE, WAU, JIM AKHIR.
- Musim kentaun berumur 92-112 hari berada di separuh bulan tujuh, bulan delapan, bulan sembilan, dan bulan sepuluh.
- Sedangkan musim kembalit berumur 253-273 hari berkisar pada bulan sebelas, bulan dua belas atau bulan suwung, bulan satu hingga bulan enam, ditambah separuh bulan tujuh.
RRI.CO.ID, Lombok Tengah - April 2026 berganti Mei lalu Juni. Waktu ketika musim hujan berangsur pergi dari Pulau Lombok, seiring bertiupnya angin Tenggara yang melintasi Nusa Tenggara BaratDi Bangket Parak, panen padi baru saja selesai, dan meninggalkan sisa-sisa tanaman di atas permukaan tanah yang berlumpur. Sekam padi tertumpuk rata di beberapa petak yang sudah dipanen, menyelimuti ladang yang siap menyambut siklus tanam berikutnya.
Geografis alam di Kecamatan Pujut, sama dengan beberapa daerah di Lombok Tengah lainnya, Lombok Timur, dan Lombok Barat bagian Selatan. Daerah yang rata-rata memiliki karakteristik alam lebih gersang daripada Lombok bagian utara. Seluruh tanahnya terdiri dari tanah liat yang minim air. Saking liatnya, mudah mengembang saat terkena air, dan cepat mengeras ketika kering. Perlu cangkul, gancu, dan linggis untuk membalikan tanah yang mirip lukisan abstrak para perupa kontemporer.
Mengolah sawah Selatan Lombok memang tak mudah. Oleh karena itu, ketepatan dalam menggerjakan sawah menjadi hal penting. Apakah jauh sebelum hujan pertama turun atau ketika hujan mulai menghilang? Untuk mencungkil tanah, petani biasa menggunakan linggis, baru dibiarkan terjemur matahari sampai tersiram air hujan. Benih padi yang ditanam terkadang merupakan jenis padi yang berumur pendek. Untuk memulai musim tanam, selain berpatokan pada informasi pemerintah, petani di Selatan Lombok berpedoman pada kalender tradisional Sasak atau yang disebut Warige. Semacam almanak tradisional yang berisi hari, dan tanggal. Warige menerangkan perhitungan karakteristik musim, termasuk hari yang dianggap baik untuk praktik keagamaan, tradisi, maupun adat istiadat. Lewat kepekaan para pembacanya, orangtua di Lombok Selatan mampu memperkirakan usaha baik dan tepat lewat tanda-tanda alam maupun perilaku ternak peliharaan.
Keinginan menilik langsung praktik membaca Warige membawa RRI ke Selatan Lombok, menembus Desa Teruwai menuju Desa Bangket Parak. Desa-desa tani di Lombok, bertipe tadah hujan. Lantas di sebuah rumah, di bawah gunung tunggal, empat orang tokoh adat Bangket Parak duduk bersila bersandar berugak. Dua orang diantaranya, Amaq Dedet, dan Pajarudin. Sedangkan Kiai Dalun dan Parnama Mustawa, adalah tuan rumah sekaligus sesepuh di Bangket Parak.
Tikar pun digelar, selaras penjelasan tentang Warige yang mengalir dari bibir Kiai Dalun. Ibarat bongkar pasang, jari-jemari Kiai Dalun sesekali mengutak-atik tiga batang bambu kecil yang terikat benang kasur di papan Warige. Kiai tidak fasih berbahasa Indonesia, sehingga banyak dibantu Amaq Dedet, Ketua Lembaga Adat Bangket Parak.
Menyimak penjelasan Kiai Dalun, dan dibantu Amaq Dedet, serta hasil telusur Pustaka yang ditulis Khaerul Anwar, tentang Gora, Sejarah Peradaban Pertanian di Lombok, kalender tradisional Warige berupa garis empat persegi yang digambar pada sebuah papan kayu. Gambar empat persegi itu dibagi menjadi enam kolom ke kiri-kanan serta lima kolom dari atas ke bawah. Kolom diberi tanda X, namun, ada kolom yang tidak terisi simbol atau kosong atau disebut sung. Kolom dari kiri ke kanan berisi jumlah hari dalam seminggu, dibaca dari kanan mulai hari Jumat.
Sedangkan, kolom dari atas ke bawah adalah penunjuk waktu. Penentuan baik-buruknya waktu dimulai atau dibaca dari bawah pada kolom penunjuk waktu yang terdiri atas sung diterangkan berupa sepi-tidak terisi simbol, prangbakat dilambangkan tanda X, kale dijelaskan berupa satu titik, lampan menjelaskan mulai kerja, dijelaskan berupa tiga titik, dan rame atau ramai, dijelaskan berupa enam titik.
Melihat dari dekat cara membaca Warige bagi RRI mendapat satu informasi ke informasi lainnya, dan sampai ke hal yang rumit, aneh, dan tak teduga. Banyak istilah hari, minggu, dan bulan yang harus dihafal dan dipahami maknanya. Oleh karena itu pula, berbekal pertemuan beberapa tahun sebelumnya, RRI menemui Pak Ismail Yasin, pakar Ilmu Tanah dan Iklim dari Universitas Mataram. Pak Ismail adalah seorang peneliti El Nino, dan mempelajari Warige. Ia menerjemahkan Warige ke dalam konteks ilmiah.
Ismail mengatakan, penamaan tahun di Kalender Sasak dilihat dari hari apa jatuhnya tanggal 1 Muharram dan nilai Neptunya. Tahun ALIF, HE, IM AWAL, SE atau TSE, DAL, BE, WAU, JIM AKHIR. penamaan tahun ini, merupakan tahun WINDU, tahun ke-1 sampai ke-8. Nilai penamaan ini, nantinya berguna untuk menetapkan sifat tahun basah secara keseluruhan. Sedangkan sifat kebasahan musim ditetapkan berdasarkan tanggal dengan menetapkan sifat hujan pada musim hujan, yakni mulai bulan November sampai dengan Maret.
Penentuan awal tahun Warige dimulai ketika Bintang Rowot atau dalam Bahasa ilmiah disebut gugus Pleiades.
Kembali ke penelusuran Pustaka milik Khaerul Anwar, tentang Gora, Sejarah Peradaban Pertanian di Lombok, Kedelapan tahun sebagaimana aturan Warige, ada 12 pembagian bulan dalam perhitungan Sasak. Terdiri dari musim kembalit atau kemarau, dan musim kentaun atau hujan.
Pembagian dua musim ini berdasarkan jumlah hari hujan. Musim kentaun berumur 92-112 hari berada di separuh bulan tujuh, bulan delapan, bulan sembilan, dan bulan sepuluh. Sedangkan musim kembalit berumur 253-273 hari berkisar pada bulan sebelas, bulan dua belas atau bulan suwung, bulan satu hingga bulan enam, ditambah separuh bulan tujuh.
Membaca Warige ikut memperhatikan waktu tumbuk, yaitu kuluminasi matahari di atas Pulau Lombok, dan Nyale. Peristiwa yang diistimewakan oleh masyarakat Sasak di Lombok. Cacing nyale erat kaitannya dengan legenda puteri Mandalika yang menceburkan diri di Laut Selatan. Nyale adalah sejenis cacing wawo yang berwarna-warni. Tanggal, hari bulan nyale juga memiliki peNgaruh terhadap prakiraan sifat hujan lokal di Lombok terutama di sepanjang Pantai Selatan. Sehingga ketika muncul di Pantai Selatan Lombok, dirayakan secara besar-besaran lewat tradisi menangkap nyale.
Membaca atau menghitung sifat tahun berdasarkan Warige secara tradisional seperti yang dipahami Pak Ismail, nyatanya merupakan praktik ilmiah yang terhubung pula dengan sains. Warige adalah bukti nyata kecermatan sekaligus kearifan luhur masyarakat Sasak dalam membaca fenomena alam kemudian menjadikannya semacam metode untuk memprediksi cuaca. Tidak dipungkiri, kekayaan budaya ini berpotensi luntur ketika dihadapkan pada jumlah pembacanya yang semakin sedikit karena dianggap rumit. Lebih lagi, di zaman sekarang yang serba instan, leluhur Suku Sasak telah mewariskan satu peninggalan budaya yang dapat dibenarkan, dan telah membawa masyarakat sasak pada pengertian survive di tengah kesulitan. Bahkan tangguh secara efisien dalam bercocok tanam sebagai mata pencaharian penduduk Lombok Selatan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....