Sultan Manuru Kupa, Sang Penantang Kolonial yang Menanti Pengakuan Negara

  • 30 Jul 2026 13:53 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Dompu – Hampir satu dekade terakhir, elemen masyarakat Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, terus memperjuangkan Sultan Muhammad Sirajuddin atau yang lebih dikenal dengan gelar Sultan Manuru Kupa, agar ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Perjuangan tersebut digawangi oleh Kelompok Kerja (Pokja) Pengusulan Sultan Muhammad Sirajuddin yang terdiri dari pegiat budaya, pemerhati sejarah, tokoh masyarakat, serta keturunan langsung sang sultan.

Berbagai upaya terus dilakukan, mulai dari penelusuran naskah sejarah, pengumpulan dokumen pendukung, hingga penyusunan biografi resmi Sultan Muhammad Sirajuddin sebagai salah satu syarat administrasi pengusulan gelar Pahlawan Nasional kepada pemerintah pusat.

Pegiat budaya dan sejarah Dompu, Nurhaedah, yang juga anggota Pokja, mengatakan Sultan Muhammad Sirajuddin merupakan Sultan Dompu ke-20 yang dikenal sebagai pemimpin yang gigih mempertahankan martabat kerajaan dan menolak dominasi pemerintah kolonial Belanda.

Menurutnya, Sultan Muhammad Sirajuddin merupakan sosok yang sangat merepotkan pemerintah kolonial. Sikap kritisnya terhadap berbagai kebijakan Belanda membuat dirinya dipandang sebagai ancaman politik yang dapat membangkitkan semangat perlawanan rakyat maupun kerajaan-kerajaan lain di Nusantara.

"Beliau tidak pernah begitu saja menerima dominasi Belanda. Berbagai bentuk intervensi terhadap pemerintahan Kesultanan Dompu selalu mendapat penolakan. Mulai dari pengawasan perdagangan, pengurangan kewenangan politik, penarikan pajak hingga campur tangan dalam urusan pemerintahan kesultanan," ujar Nurhaedah, Kamis, 30 Juli 2026.


Perlawanan tersebut akhirnya berujung pada pengasingan Sultan Muhammad Sirajuddin ke Kota Air Mata, Kupang. Peristiwa itu menjadi salah satu babak penting dalam sejarah benturan antara kekuasaan kolonial dengan kerajaan-kerajaan lokal di Nusantara.

Di balik pengasingannya, tersimpan kisah seorang pemimpin yang berusaha mempertahankan hak rakyat, kedaulatan kerajaan, serta harga diri masyarakat Dompu di tengah tekanan kontrak-kontrak kolonial yang semakin membatasi ruang gerak kesultanan.

Dalam perspektif pemerintah kolonial, sikap Sultan Muhammad Sirajuddin dianggap berbahaya karena berpotensi menginspirasi kerajaan lain untuk menolak hegemoni Belanda. Karena itu, pengasingan menjadi strategi yang digunakan Belanda untuk melemahkan pengaruh tokoh-tokoh lokal yang sulit dikendalikan.

Nurhaedah menjelaskan, proses pengasingan Sultan Muhammad Sirajuddin juga sarat dengan tipu daya politik kolonial. Hingga awal 1932, Belanda belum mampu menaklukkannya melalui konfrontasi langsung. Baru ketika usia Sultan semakin lanjut dan muncul rencana turun takhta, pemerintah kolonial kembali memperkuat intervensinya terhadap Kesultanan Dompu.

Pegiat budaya dan sejarah Dompu, Nurhaedah. (foto.dok Nurhaedah)

Dengan berpegang pada kontrak politik yang telah dibuat sebelumnya, Belanda mulai mencampuri proses penentuan calon sultan berikutnya. Sejumlah kalangan istana dipengaruhi agar berpihak kepada pemerintah kolonial, sehingga perlahan posisi Sultan Muhammad Sirajuddin semakin terdesak hingga akhirnya diasingkan.

Selain dikenal karena perjuangannya, masyarakat Dompu juga mewarisi berbagai kisah yang menggambarkan kecerdikan Sultan Manuru Kupa dalam menghadapi kolonialisme. Salah satu cerita yang masih hidup secara turun-temurun menyebutkan, ketika pemerintah kolonial meminta sebidang tanah untuk membangun markas, sang sultan hanya memberikan tanah seluas yang dapat ditampung dalam sebuah tempurung kelapa. Kisah tersebut dimaknai sebagai simbol penolakan halus terhadap upaya penguasaan wilayah Dompu oleh Belanda.

Saat ini, Pokja Pengusulan Sultan Muhammad Sirajuddin tengah menyusun berbagai dokumen yang dipersyaratkan pemerintah. Salah satu yang menjadi fokus adalah penyusunan biografi lengkap Sultan Muhammad Sirajuddin yang didukung berbagai sumber sejarah dan bukti akademik.

Bupati Dompu, Bambang Firdaus, memberikan apresiasi atas semangat para pegiat budaya yang tanpa lelah memperjuangkan pengakuan negara terhadap jasa Sultan Muhammad Sirajuddin.

Menurutnya, upaya tersebut bukan sekadar mengusulkan seorang tokoh menjadi Pahlawan Nasional, tetapi juga merupakan bagian dari ikhtiar mengembalikan jati diri masyarakat Dompu yang menjunjung tinggi falsafah "Nggahi Rawi Pahu", yakni keselarasan antara ucapan dan perbuatan, serta semangat patriotisme yang diwariskan para pendahulu.

Meski proses pengusulan memerlukan waktu panjang dan berbagai persyaratan yang ketat, para pegiat budaya tetap optimistis perjuangan tersebut akan membuahkan hasil. Bagi masyarakat Dompu, Sultan Manuru Kupa bukan hanya seorang raja, melainkan simbol keberanian melawan penjajahan, mempertahankan kedaulatan daerah, serta menjaga kehormatan rakyatnya.

Perjuangan hampir satu dekade itu pun menjadi bukti bahwa semangat untuk mengangkat jasa Sultan Muhammad Sirajuddin tidak pernah surut. Harapannya, pengorbanan dan keteladanan Sultan Manuru Kupa kelak memperoleh pengakuan resmi dari negara sebagai Pahlawan Nasional, sekaligus memperkuat posisi Dompu dalam khazanah sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....