PMI Bangun Desa Tangguh Bencana, Warga Dilatih Hadapi Situasi Darurat

  • 02 Jul 2026 20:34 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat – Upaya membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana terus diperkuat Palang Merah Indonesia (PMI) melalui pembentukan relawan desa yang melibatkan berbagai unsur masyarakat. Program tersebut diharapkan mampu menciptakan desa yang mandiri dalam menghadapi berbagai potensi bencana, bahkan setelah pendampingan resmi berakhir.

Staf Divisi Penanggulangan Bencana PMI Pusat, Bramantio Bagus W, menjelaskan langkah awal yang dilakukan PMI adalah membentuk relawan desa yang bertugas memberikan edukasi sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman bencana.

"Program ini diawali dengan membentuk relawan-relawan desa yang bertugas memberikan informasi kepada masyarakat mengenai apa itu bencana, bagaimana cara meresponsnya, serta apa yang harus dilakukan ketika bencana datang," ujarnya. Kamis 2 Juli 2026.

Menurut Bramantio, para relawan tersebut berasal dari berbagai unsur masyarakat. Mulai dari warga, ketua RT, hingga perangkat pemerintah desa dilibatkan agar memiliki kemampuan yang sama dalam menghadapi situasi darurat.

"Mereka merupakan bagian dari masyarakat sendiri yang kami latih agar siap menghadapi berbagai kemungkinan bencana. Dengan demikian, desa memiliki sumber daya manusia yang memahami langkah-langkah penyelamatan sejak awal," katanya.

Ia menjelaskan, program penguatan kapasitas masyarakat tersebut mendapat dukungan dari Australian Red Cross (Palang Merah Australia). Pelaksanaannya di Kabupaten Lombok Barat dimulai pada tahun 2025 dan akan berlangsung hingga November 2027.

"Harapan kami, setelah program ini selesai, masyarakat sudah mampu menjalankan seluruh sistem kesiapsiagaan secara mandiri dan swadaya tanpa harus selalu bergantung pada pendampingan dari luar," tegasnya.

Bramantio menilai, perubahan positif mulai terlihat di sejumlah desa dampingan. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mitigasi bencana semakin meningkat, terutama melalui terbentuknya Sistem Informasi Berbasis Masyarakat (SIBAT) yang mendorong warga lebih cepat merespons setiap potensi ancaman.

"Di lapangan kami melihat masyarakat sudah mulai memiliki gerakan sadar bencana. Sistem yang dibangun berjalan dengan baik sehingga respons masyarakat menjadi jauh lebih cepat ketika menghadapi situasi darurat," ucapnya.

Tidak berhenti pada pembentukan relawan, PMI juga akan memberikan pelatihan lanjutan kepada masyarakat untuk menyusun peta risiko bencana di masing-masing desa. Pemetaan tersebut akan menjadi pedoman penting dalam proses evakuasi ketika terjadi bencana.

"Masyarakat nantinya akan mengetahui titik kumpul evakuasi, memetakan wilayah yang berisiko, hingga mendata jumlah warga penyandang disabilitas. Data itu sangat penting agar saat evakuasi dilakukan, kelompok rentan dapat diprioritaskan sehingga proses penyelamatan menjadi lebih cepat dan tepat sasaran," katanya mengakhiri.

Program ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi terwujudnya desa-desa tangguh bencana di Lombok Barat, di mana masyarakat tidak hanya menjadi objek penanggulangan bencana, tetapi juga berperan sebagai pelaku utama dalam menjaga keselamatan lingkungan dan sesamanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....