Jorina Waworuntu Buktikan Aksi Nyata Lingkungan Selamatkan Generasi Masa Depan

  • 30 Jun 2026 14:24 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Sumbawa – Bagi Jorina Waworuntu, menjaga lingkungan bukan sekadar menjalankan aturan perusahaan atau memenuhi kewajiban administratif. Lingkungan merupakan ruang kehidupan yang menyatukan manusia, air, udara, tanah, dan seluruh makhluk hidup dalam satu ekosistem yang saling bergantung.

Pandangan itulah yang telah membentuk komitmennya selama lebih dari dua dekade mengabdikan diri di Site Batu Hijau. Sebagai Head of Environment Department AMMAN, Jorina memimpin berbagai upaya untuk memastikan seluruh aktivitas operasional perusahaan berjalan sesuai regulasi sekaligus terus meningkatkan standar pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Namun, menurutnya, keberhasilan menjaga lingkungan tidak pernah lahir dari kerja satu individu.

"Lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Yang membuat sebuah sistem berjalan adalah orang-orang yang memiliki komitmen dan konsistensi," ujarnya. Selasa 30 Juni 2026.

Pesan tersebut menjadi semakin penting bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang mengusung tema "Urgent Climate Action and Ecosystem Restoration." Menurut Jorina, perubahan iklim kini bukan lagi isu yang hanya dibahas dalam forum ilmiah, melainkan telah dirasakan langsung melalui cuaca yang semakin sulit diprediksi, meningkatnya intensitas hujan ekstrem, hingga musim kemarau yang berlangsung lebih panjang.

Kondisi tersebut, katanya, menjadi pengingat bahwa seluruh sektor, termasuk industri pertambangan, memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keberlanjutan bumi.

Di lingkungan AMMAN, komitmen tersebut dibangun dari fondasi paling mendasar, yakni kepatuhan terhadap seluruh ketentuan pengelolaan lingkungan. Namun kepatuhan, menurut Jorina, bukan sekadar memenuhi regulasi, melainkan menjadi dasar terciptanya operasional yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Karena itu, perusahaan terus memperkuat sistem pengelolaan lingkungan melalui perencanaan yang matang, penyediaan infrastruktur, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, hingga pelatihan yang dilakukan secara berkesinambungan.

Salah satu bukti nyata komitmen tersebut terlihat dari program reklamasi lahan yang terus dijalankan perusahaan. Hingga akhir 2025, AMMAN telah berhasil mereklamasi lahan seluas 859,61 hektare. Bahkan, sepanjang 2025 perusahaan mencatat capaian reklamasi tahunan terbesar sepanjang sejarah operasional Batu Hijau dengan luas mencapai 92,67 hektare.

Proses reklamasi itu tidak berhenti pada penanaman pohon semata. Tahapannya dimulai dari penyelamatan lapisan tanah, penataan kontur lahan, pengendalian erosi, penebaran tanaman penutup tanah, penanaman berbagai jenis vegetasi, hingga pemeliharaan secara berkelanjutan agar ekosistem dapat kembali tumbuh secara alami.

Komitmen menjaga lingkungan juga diperluas ke luar wilayah operasional perusahaan. Melalui berbagai program konservasi, AMMAN melaksanakan rehabilitasi daerah aliran sungai seluas sekitar 3.600 hektare, mendukung program perhutanan sosial, menjaga ekosistem laut Gili Balu melalui program Transformasea, serta berkontribusi dalam konservasi penyu di kawasan pesisir selatan Sumbawa.

Berbagai langkah tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan menjaga lingkungan hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat.

Di sisi lain, AMMAN juga terus mempercepat transisi menuju penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan. Sejak 2022, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 26,8 MWp telah beroperasi dan sepanjang 2025 mampu membantu menghindari emisi sekitar 34.794 ton CO₂e.

Selain itu, perusahaan tengah mengembangkan Combined Cycle Power Plant (CCPP) berkapasitas 450 MW berbahan bakar gas sebagai bagian dari strategi jangka panjang dalam menurunkan intensitas emisi karbon operasional perusahaan.

Pengelolaan sumber daya air pun menjadi perhatian utama. Untuk meningkatkan ketahanan menghadapi musim kemarau, AMMAN membangun fasilitas desalinasi di Benete dan Sejorong, sekaligus terus mengoptimalkan pemanfaatan kembali air dalam berbagai aktivitas operasional.

Tidak hanya mengandalkan infrastruktur, perusahaan juga memanfaatkan teknologi citra satelit untuk memantau perubahan kondisi lahan secara lebih cepat, akurat, dan berbasis data sehingga setiap langkah pengelolaan lingkungan dapat dilakukan secara lebih efektif.

Meski berbagai teknologi modern telah diterapkan, Jorina menegaskan bahwa faktor paling menentukan dalam menjaga kelestarian lingkungan tetap berada pada manusia.

"Kepedulian terhadap lingkungan dimulai dari kebiasaan sehari-hari, seperti menggunakan energi dan air secara bijak, mengurangi limbah, menjaga kebersihan area kerja, serta mematuhi seluruh prosedur lingkungan," tegasnya.

Ia mengaku terus berupaya memberi teladan melalui tindakan sederhana, salah satunya dengan rutin mengikuti kegiatan penanaman pohon setiap tahun sebagai bentuk komitmen yang dijalankan secara konsisten.

Menurut Jorina, perubahan besar selalu diawali dari langkah-langkah kecil yang dilakukan tanpa henti.

"Aksi iklim tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten justru menjadi fondasi lahirnya perubahan yang lebih luas," ucapnya.

Dari Batu Hijau, perjalanan Jorina Waworuntu menjadi gambaran bahwa keberlanjutan bukan sekadar target perusahaan ataupun angka dalam laporan tahunan. Keberlanjutan merupakan proses panjang yang dibangun melalui disiplin, kerja sama, inovasi, dan kepedulian seluruh pihak.

"Pada akhirnya, menjaga lingkungan berarti menjaga kehidupan hari ini, masa depan, dan warisan bagi generasi yang akan datang," katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....