Dianggarkan Rp25 Miliar, Sungai Ancar dan Unus Dibersihkan dari Sedimen

  • 26 Jun 2026 06:25 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID.Mataram-Upaya mengurangi risiko banjir di Kota Mataram mendapat dukungan besar dari pemerintah pusat melalui alokasi anggaran Rp25 miliar untuk normalisasi Sungai Ancar dan Sungai Unus. Dana tersebut digunakan untuk pengerukan sedimen yang selama ini menyebabkan pendangkalan alur sungai dan mengurangi kapasitas tampung air saat musim hujan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram, Lale Widiahning, mengatakan proyek tersebut ditangani langsung oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I. Dari total anggaran yang tersedia, Rp10 miliar dialokasikan untuk Sungai Ancar dan Rp15 miliar untuk Sungai Unus.

“Tahun ini pengerukan difokuskan di Sungai Ancar dan Sungai Unus. Untuk Ancar memang menjadi prioritas karena kondisi sedimentasinya paling tinggi dan cukup mengkhawatirkan,” ujarnya.Kamis 25 Juni 2026.

Menurut Lale, Sungai Ancar menjadi perhatian utama karena melintasi sejumlah kawasan padat penduduk dan pusat aktivitas ekonomi Kota Mataram. Sungai yang berhulu di kawasan Gunung Punikan tersebut mengalir melewati Selagalas, Sandubaya, Sweta, Gomong, hingga Kekalik Jaya sebelum bermuara di pesisir Ampenan dan Tanjung Karang.

"Tingginya endapan lumpur dapat berpotensi menghambat aliran air dan meningkatkan risiko banjir saat curah hujan tinggi." Katanya menerangkan.

Sementara itu, Sungai Unus yang mengalir di bagian selatan kota juga menjadi sasaran normalisasi karena melintasi kawasan permukiman dan lahan pertanian. Aliran sungai ini melewati sejumlah wilayah seperti Babakan, Pagutan, hingga Sekarbela sebelum bermuara di sekitar Pantai Loang Baloq.

"Pengerukan sedimen diharapkan dapat mengembalikan fungsi sungai sebagai saluran utama pengendali debit air." Ujarnya menambahkan.

Selain mengangkut endapan lumpur, proyek yang dibiayai pemerintah pusat tersebut juga mencakup penguatan struktur tebing sungai. Saat ini, petugas lapangan mulai merakit bronjong di sejumlah titik rawan longsor di sepanjang Sungai Ancar dan Sungai Unus.

“Pekerjaan tidak hanya fokus pada pengerukan, tetapi juga memperkuat badan sungai agar lebih aman dan mampu menahan erosi dalam jangka panjang,” kata Lale.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....