Ditopang Hortikultura, Daya Beli Petani NTB Menguat
- 03 Jun 2026 07:13 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Daya beli petani di Nusa Tenggara Barat (NTB) menguat pada Mei 2026.
- Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 130,44 atau naik 1,91 persen dibanding April 2026.
- Kenaikan NTP dipicu meningkatnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 2,38 persen.
RRI CO.ID, Mataram - Daya beli petani di Nusa Tenggara Barat (NTB) menguat pada Mei 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 130,44 atau naik 1,91 persen dibanding April 2026.
Kenaikan NTP menunjukkan posisi ekonomi petani semakin membaik karena pendapatan yang diterima lebih tinggi dibandingkan pengeluaran rumah tangga maupun biaya produksi pertanian. Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan kenaikan NTP dipicu meningkatnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 2,38 persen. Sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) hanya naik 0,46 persen.
“Ini menunjukkan posisi tukar petani terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi maupun biaya produksi semakin baik dibanding bulan sebelumnya,” kata Wahyudin saat Rilis Berita Resmi Statistik di Aula Tambora BPS NTB, Selasa, 2 Juni 2026.
NTP merupakan indikator yang menggambarkan tingkat kemampuan atau daya beli petani. Semakin tinggi angkanya, semakin baik kemampuan petani memenuhi kebutuhan rumah tangga dan membiayai usaha pertaniannya.
Pada Mei 2026, seluruh subsektor pertanian di NTB mencatat NTP di atas 100. Subsektor hortikultura menjadi yang tertinggi dengan angka 240,49. Disusul tanaman pangan 119,50, peternakan 118,31, perikanan 109,53, dan tanaman perkebunan rakyat 100,71.
Selain NTP, BPS juga mencatat Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) naik menjadi 135,28 atau meningkat 1,28 persen dibanding April 2026. Angka itu menunjukkan usaha pertanian masih memberikan keuntungan dan kemampuan produksi yang baik bagi rumah tangga petani.
| Baca juga: Stok Melimpah, Harga Daging Ayam Melandai |
Juru Bicara Pemerintah Provinsi NTB Ahsanul Halik menilai kenaikan NTP menjadi sinyal positif bagi perekonomian daerah, terutama karena sektor pertanian masih menjadi penopang utama kehidupan masyarakat perdesaan.
“Kenaikan NTP menunjukkan daya beli petani NTB semakin baik. Ketika petani semakin sejahtera, ekonomi desa ikut bergerak dan ketahanan pangan daerah semakin kuat,” ujar Ahsanul Halik.
Menurut dia, pemerintah daerah terus mendorong peningkatan produktivitas pertanian melalui penguatan akses pasar, hilirisasi komoditas, pemanfaatan teknologi pertanian, hingga pengembangan ekosistem pangan berkelanjutan.
Di sisi lain, BPS mencatat Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) petani pada Mei 2026 naik tipis 0,04 persen. Kenaikan dipengaruhi bertambahnya pengeluaran pada kelompok perumahan, kesehatan, transportasi, komunikasi, serta makanan dan minuman.
Pemerintah Provinsi NTB menilai tren kenaikan NTP dan NTUP menjadi indikator penting bahwa sektor pertanian masih mampu menjaga daya beli masyarakat, mengurangi kemiskinan, dan menopang pertumbuhan ekonomi daerah di tengah tantangan ekonomi yang terus berkembang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....