Kemarau Panjang Belum Ganggu Produksi Pangan, Dompu Tetap Surplus Beras

  • 27 Jul 2026 11:05 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Dompu – Musim kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, belum memberikan dampak signifikan terhadap produksi tanaman pangan. Hingga saat ini, daerah berjuluk Nggahi Rawi Pahu ini, masih mampu mempertahankan produksi padi dan terus mencatat surplus beras setiap tahun.

Data Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu menunjukkan, setiap tahun luas tanam padi mencapai 37.135,9 hektare, dengan luas panen 32.682,5 hektare. Dari luasan tersebut, produksi gabah mencapai lebih dari 101.000 hingga 107.000 ton setiap tahun.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu, Syahrul Ramadhan, mengatakan kondisi tersebut menjadi bukti bahwa sektor pertanian di Dompu masih mampu bertahan meski menghadapi musim kemarau yang cukup panjang. Menurutnya, tingginya produksi padi ditopang oleh lahan sawah beririgasi teknis yang dapat ditanami hingga tiga kali dalam setahun.

Sistem irigasi tersebut menjamin ketersediaan air bagi petani sehingga produktivitas tetap terjaga. Lahan-lahan produktif tersebut berada di wilayah yang memiliki jaringan irigasi teknis, termasuk yang memperoleh pasokan air dari Bendungan Raba Baka Komplek.

"Dengan dukungan itu, petani dapat menanam padi hingga tiga kali dalam setahun," ujar Syahrul, Senin, 27 Juli 2026.

Ia menjelaskan, sentra produksi padi terbesar berada di Kecamatan Woja, Dompu, Pekat, dan Kempo. Keempat wilayah tersebut memiliki hamparan sawah beririgasi teknis yang menjadi tulang punggung produksi beras di Kabupaten Dompu. Sementara itu, empat kecamatan lainnya, seperti kecamatan Manggelewa, Kilo, Hu'undan Pajo, didominasi lahan pertanian tadah hujan.

Meski demikian, wilayah tersebut juga memiliki areal persawahan basah, namun luasnya tidak sebesar empat kecamatan sentra produksi. Bahkan, Kecamatan Pajo menjadi wilayah dengan luasan lahan sawah produktif yang relatif paling sedikit.

Syahrul menegaskan, kemarau bukan berarti lahan pertanian di wilayah tadah hujan dibiarkan tidak produktif. Petani justru memanfaatkan musim kering dengan menanam komoditas yang lebih sesuai dengan kondisi cuaca, seperti tembakau, jagung, dan kedelai.

Untuk mendukung kebutuhan air di lahan yang belum terjangkau irigasi teknis, pemerintah juga mengoptimalkan pemanfaatan pompa bor dalam yang telah dibangun beberapa tahun terakhir. Sarana tersebut menjadi sumber air alternatif bagi petani dalam mempertahankan produktivitas lahan selama musim kemarau. Dengan kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Dompu optimistis produksi tanaman pangan tetap terjaga hingga akhir tahun.

Ketersediaan air pada lahan beririgasi teknis, didukung diversifikasi komoditas di lahan tadah hujan, menjadi faktor utama yang membuat Dompu tetap mampu mempertahankan statusnya sebagai salah satu daerah surplus pangan di Nusa Tenggara Barat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....