BMKG Tegaskan El Nino Godzilla Bukan Istilah Resmi, NTB Waspadai Kemarau Panjang

  • 02 Jun 2026 17:36 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nusa Tenggara Barat mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang pada tahun 2026. BMKG menegaskan, masyarakat tidak perlu panik dengan berbagai istilah yang beredar di media sosial, termasuk sebutan "El Nino Godzilla" yang belakangan ramai diperbincangkan.

Prakirawan Iklim BMKG Stasiun Klimatologi NTB, Nindya Kirana, S.Tr., menjelaskan istilah tersebut bukan merupakan terminologi resmi yang dikeluarkan BMKG.

"Perlu kami luruskan bahwa istilah El Nino Godzilla bukan istilah resmi dari BMKG. Kami hanya mengklasifikasikan El Nino dalam kategori lemah, sedang atau moderat, dan kuat," ujarnya. Selasa 2 Juni 2026.

Menurut Nindya, El Nino merupakan salah satu fenomena iklim global yang berpengaruh terhadap kondisi cuaca di Indonesia. Fenomena ini terjadi ketika suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik mengalami peningkatan di atas kondisi normal.

Dalam kondisi normal, angin di sekitar wilayah khatulistiwa mendorong massa air hangat menuju kawasan barat, termasuk Indonesia, sehingga mendukung pembentukan awan dan hujan. Namun saat El Nino terjadi, kekuatan angin tersebut melemah sehingga pusat pertumbuhan awan dan hujan bergeser ke wilayah Pasifik tengah dan timur.

"Akibatnya, curah hujan di Indonesia cenderung berkurang dan musim kemarau bisa berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal," katanya.

BMKG memprediksi fenomena El Nino masih berlangsung sepanjang tahun 2026 dengan berbagai tingkat intensitas. Berdasarkan hasil pemantauan terbaru, peluang terjadinya El Nino lemah mencapai 100 persen, El Nino moderat 95 persen, sedangkan El Nino kuat diperkirakan memiliki peluang sekitar 60 persen.

Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa prediksi ENSO (El Nino Southern Oscillation) umumnya memiliki tingkat akurasi tinggi hanya untuk tiga bulan ke depan sehingga pembaruan informasi akan terus dilakukan secara berkala.

"Masyarakat diharapkan terus mengikuti perkembangan informasi resmi dari BMKG karena dinamika atmosfer dapat berubah dan selalu diperbarui," katanya menegaskan.

BMKG menilai dampak utama El Nino yang bertepatan dengan musim kemarau adalah meningkatnya risiko kekeringan meteorologis maupun hidrologis. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan ketersediaan air permukaan dan air tanah di berbagai wilayah.

Debit sungai, waduk, embung, hingga sumber air masyarakat diperkirakan akan mengalami penurunan jika musim kemarau berlangsung lebih lama dari biasanya.

"Ketika curah hujan menurun dalam waktu panjang, cadangan air di waduk, sungai, embung, hingga air tanah akan ikut berkurang. Dampaknya dapat langsung dirasakan masyarakat dalam bentuk berkurangnya ketersediaan air bersih," ucapnya.

Di sejumlah daerah yang sangat bergantung pada sumber air lokal, sumur warga bahkan berpotensi mengalami pendangkalan hingga mengering saat puncak musim kemarau.

BMKG mengidentifikasi beberapa wilayah di NTB yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi terhadap dampak kemarau panjang. Di Pulau Sumbawa, daerah yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi Kabupaten Bima, Dompu, serta sebagian wilayah Kabupaten Sumbawa, terutama kawasan timur dan selatan.

Sementara di Pulau Lombok, wilayah selatan dan sebagian kawasan tengah dinilai lebih rentan karena memiliki karakteristik iklim yang relatif lebih kering dibandingkan wilayah utara.

"Wilayah-wilayah tersebut umumnya lebih cepat mengalami hari tanpa hujan dan banyak bergantung pada sumber air tanah maupun sumber air lokal sehingga dampak kemarau bisa lebih cepat dirasakan," katanya.

Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa dampak El Nino tetap berpotensi dirasakan di seluruh wilayah NTB apabila puncak musim kemarau berlangsung serentak.

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau tahun 2026 akan terjadi pada Agustus mendatang.

Sektor pertanian diprediksi menjadi bidang yang paling terdampak apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang. Berkurangnya pasokan air irigasi dapat memicu keterlambatan tanam, penurunan produktivitas, hingga gagal panen.

Di sejumlah wilayah Lombok Selatan maupun Pulau Sumbawa, kondisi serupa pernah terjadi pada musim kemarau sebelumnya ketika petani mengalami kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan lahan pertanian.

"Petani sering menghadapi keterlambatan tanam bahkan gagal panen karena ketersediaan air tidak mencukupi. Sebagian terpaksa mengurangi luas tanam atau mengganti komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi kering," ujarnya.

Selain mengancam pertanian, musim kemarau panjang juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan akibat vegetasi yang semakin kering.

BMKG menegaskan informasi dini harus diikuti langkah antisipasi sejak awal. Masyarakat diminta mulai melakukan penghematan penggunaan air tanpa harus menunggu kondisi kekeringan semakin parah.

Pada sektor pertanian, BMKG menyarankan penyesuaian pola tanam, pemilihan komoditas yang lebih tahan terhadap kekeringan, serta pemanfaatan informasi iklim sebagai dasar perencanaan usaha tani.

Sementara pemerintah daerah diharapkan mengoptimalkan tampungan air seperti embung, waduk, sumur resapan, dan memastikan distribusi air bersih dapat menjangkau wilayah yang berpotensi terdampak.

"Kunci utama menghadapi kemarau panjang adalah hemat air, adaptasi sektor pertanian, dan kesiapsiagaan terhadap dampak ekstrem. Jika dilakukan bersama-sama, dampak kemarau dapat ditekan," katanya menegaskan.

Di akhir keterangannya, BMKG kembali mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi dan selalu mengikuti perkembangan cuaca serta iklim melalui kanal resmi BMKG.

"Pantau terus informasi resmi BMKG dan jangan mudah terprovokasi oleh istilah-istilah yang tidak resmi. Yang terpenting adalah memahami potensi dampaknya dan melakukan langkah antisipasi sejak dini," katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....