Betabeq Sambut Pocari Run, Budaya Sasak Perkuat Sport Tourism NTB

  • 31 Mei 2026 07:09 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Ritual Betabeq merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Sasak sebagai bentuk permohonan izin, restu, keselamatan, dan perlindungan kepada Allah SWT sebelum melaksanakan kegiatan penting.
  • Pembangunan pariwisata dan penyelenggaraan event internasional di NTB harus berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan penguatan identitas lokal.
  • Betabeq mengandung makna menyambut tamu dengan hati terbuka sekaligus mendoakan keselamatan dan keberkahan bagi seluruh pihak yang hadir.
  • Pemprov NTB gelar tradisi Betabeq jelang pelaksanaan Pocari Sweet Run Lombok 2026.

RRI.CO.ID, Lombok Tengah - Nuansa adat berpadu dengan semangat olahraga dalam Ritual Betabeq yang digelar di Desa Adat Ende, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Sabtu, 30 Mei 2026. Tradisi masyarakat Sasak tersebut menjadi simbol penghormatan budaya sekaligus doa bersama menyambut pelaksanaan Pocari Sweat Run Lombok 2026 yang akan berlangsung pada 11–12 Juli mendatang.

Kegiatan yang difasilitasi Pemerintah Provinsi NTB bersama Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah dan masyarakat adat Sasak itu berlangsung khidmat dengan melibatkan tokoh adat, pemerintah daerah, pelaku pariwisata, hingga masyarakat setempat.

Ritual Betabeq merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Sasak sebagai bentuk permohonan izin, restu, keselamatan, dan perlindungan kepada Allah SWT sebelum melaksanakan kegiatan penting. Tradisi ini juga menjadi simbol penghormatan terhadap alam, masyarakat, serta nilai-nilai leluhur yang membentuk identitas budaya Sasak hingga kini.

Pelaksanaan tahun ini menjadi kali kedua Ritual Betabeq digelar dalam rangka menyambut Pocari Sweat Run Lombok. Tradisi tersebut sekaligus menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi NTB agar setiap event nasional maupun internasional yang diselenggarakan di daerah tetap menghormati budaya lokal, melibatkan masyarakat adat, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, dalam sambutan yang dibacakan Sekretaris Daerah NTB, H. Abul Chair, menegaskan bahwa pembangunan pariwisata dan penyelenggaraan event internasional di NTB harus berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan penguatan identitas lokal.

Menurutnya, Ritual Betabeq bukan sekadar prosesi adat, tetapi representasi nilai-nilai luhur masyarakat Sasak yang menjunjung penghormatan, persaudaraan, penerimaan, dan doa keselamatan bagi setiap tamu yang datang ke Bumi Gora.

“Kita tidak hanya berkumpul menyambut sebuah event olahraga besar, tetapi juga mempertemukan semangat olahraga dengan kekayaan budaya yang menjadi identitas masyarakat NTB melalui Ritual Betabeq,” ujar Abul Chair membacakan sambutan Gubernur.

Ia menjelaskan, dalam tradisi Sasak, Betabeq mengandung makna menyambut tamu dengan hati terbuka sekaligus mendoakan keselamatan dan keberkahan bagi seluruh pihak yang hadir.

“Kita ingin menyampaikan pesan sederhana kepada seluruh tamu yang datang ke NTB: datanglah sebagai tamu dan pulanglah sebagai keluarga,” katanya.

Gubernur juga menilai kekuatan NTB tidak hanya terletak pada keindahan alam maupun keberhasilannya menghadirkan berbagai event internasional, tetapi juga pada budaya, keramahan masyarakat, serta nilai kebersamaan yang terus dijaga lintas generasi.

“Kalau olahraga menguatkan fisik, maka budaya menguatkan jiwa. Ketika keduanya bertemu, lahirlah persaudaraan yang akan dikenang sepanjang masa,” tegasnya.

Pemprov NTB turut mengapresiasi seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan Pocari Sweat Run Lombok. Event tersebut dinilai tidak hanya mendorong gaya hidup sehat, tetapi juga menggerakkan sektor ekonomi masyarakat, mulai dari UMKM, transportasi, pariwisata, hingga perhotelan.

Sementara itu, Marketing Director Pocari Sweat, Puspita Winawati, mengapresiasi inisiatif Pemprov NTB yang menghadirkan Ritual Betabeq sebagai ruang mempererat hubungan antara penyelenggara event dengan masyarakat lokal.

“Tahun 2026 merupakan tahun kedua Pocari Sweat Run Lombok. Tahun lalu peserta mencapai 8.400 pelari dan sekitar 70 persen berasal dari luar Lombok,” ungkapnya.

Menurut Puspita, kehadiran para pelari bersama keluarga dan pendamping memberikan dampak ekonomi signifikan bagi masyarakat karena mereka menginap, berwisata, menikmati kuliner, hingga berbelanja produk UMKM lokal.

“Tahun ini kami menargetkan 10.000 peserta. Karena itu kami berharap dukungan dan sambutan hangat dari seluruh masyarakat NTB,” katanya.

Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Tengah, Lalu Firman Wijaya, menegaskan pemerintah daerah berkomitmen mendukung penuh pelaksanaan Pocari Sweat Run 2026 karena manfaat ekonominya dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Kita ingin penyelenggaraan tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya karena dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Dukungan serupa datang dari masyarakat Desa Kuta, pelaku UMKM, dan para relawan yang pernah terlibat dalam penyelenggaraan event tahun sebelumnya. Mereka menilai kehadiran ribuan peserta tidak hanya memperkuat citra Lombok sebagai destinasi sport tourism, tetapi juga memberi manfaat langsung bagi perekonomian masyarakat.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, pelaku usaha, dan komunitas lokal, Pocari Sweat Run Lombok 2026 diharapkan menjadi lebih dari sekadar ajang olahraga. Event ini menjadi ruang perjumpaan antara budaya, pariwisata, dan ekonomi masyarakat yang semakin memperkuat posisi NTB sebagai destinasi sport tourism kelas dunia yang tetap berakar pada budaya lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....