Energi Berkeadilan Terangi Jalan Transisi Energi di NTB
- 31 Mei 2026 07:03 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Energi berkeadilan di tengah periode transisi energi di NTB berpotensi terwujud melalui kolaborasi pemerintah dan NGO.
- Capaian energi terbarukan NTB di angka 25 persen. Masih ada pembangkit bergantung sama energi fosil.
- Energi berkeadilan menjadi harapan bersama dalam mendorong percepatan transisi energi di Nusa Tenggara Barat (NTB).
- Wonderfest 2026: Festival Perempuan dan Energi Menuju Net Zero Emission 2050
RRI.CO.ID, Mataram - Energi berkeadilan menjadi harapan bersama dalam mendorong percepatan transisi energi di Nusa Tenggara Barat (NTB). Melalui kolaborasi pemerintah, lembaga donor, organisasi non-pemerintah (NGO), komunitas, hingga perguruan tinggi, NTB dinilai memiliki potensi besar menjadi contoh praktik transisi energi yang inklusif dan berkelanjutan.
Semangat itu mengemuka dalam kegiatan Wonderfest 2026: Festival Perempuan dan Energi Menuju Net Zero Emission 2050 yang berlangsung di Taman Budaya NTB, Mataram, Sabtu-Minggu, 30-31 Mei 2026.

Festival dibuka dengan pertunjukan drama bertema energi bersih alternatif yang diperankan oleh ibu-ibu Sekolah Setara (Sekra) Gema Alam NTB. Drama tersebut menggambarkan pentingnya keterlibatan perempuan dalam transisi energi, tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai penggerak perubahan dan pengambil keputusan dalam kebijakan energi terbarukan.
Dalam pertunjukan itu, perempuan desa digambarkan aktif mendorong pemanfaatan energi bersih seperti biogas, kompos, dan panel surya demi mendukung kebutuhan rumah tangga dan lingkungan yang lebih sehat.
Turut hadir menyaksikan pertunjukan tersebut Direktur Jejaring Implementasi Yayasan Penabulu Sardi Winata, Sekretaris Daerah NTB Abdul Chair, dan Sekretaris Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB Niken Arumdati.
Wonderfest 2026 menghadirkan berbagai kegiatan seperti BINergy (Bincang Energy), Tutur Puan, Ngelasah, Mendadak Cinema, workshop daur ulang plastik, demo penggunaan biogas, hingga ruang ekspresi komunitas. Kegiatan ini diselenggarakan Pemerintah Provinsi NTB bersama lembaga donor, Gedsi JET NTB, Yayasan Penabulu, NGO di NTB, serta sejumlah universitas.

Direktur Jejaring Implementasi Yayasan Penabulu, Sardi Winata, menegaskan bahwa transisi energi tidak hanya berbicara tentang teknologi, investasi, dan kebijakan, tetapi juga menyangkut keadilan sosial.
“NTB memiliki peluang menjadi contoh praktik transisi energi yang inklusif. Perempuan tidak boleh hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga penggerak perubahan,” ujarnya.
Sementara itu, Sekda NTB Abdul Chair mengatakan energi sejatinya tidak hanya dimaknai sebagai listrik atau pembangkit tenaga, tetapi juga kekuatan manusia dalam menciptakan perubahan dan membangun kebersamaan. Menurutnya, transisi energi membuka peluang bagi masyarakat, khususnya perempuan, untuk tampil sebagai pemimpin dalam pembangunan berkelanjutan.
“Energi terbesar sebenarnya ada pada manusia yang mampu menggerakkan perubahan dan kebersamaan,” kata Abdul Chair.
Dalam sesi Tutur Puan, sejumlah narasumber seperti Sri Anim Padma dari Sekolah Setara Rarang, Isniati dari Komunitas Perempuan Lingkar Meninting, dan Sri Sukarni dari HDWI NTB menekankan bahwa energi bersih harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Pada sesi Bincang Energy bertajuk Energi untuk Semua: Menempatkan Keadilan di Jantung Transisi Energi, Sekdis ESDM NTB Niken Arumdati menyampaikan bahwa NTB menargetkan net zero emission pada tahun 2050 melalui pengembangan energi terbarukan.
Potensi energi baru terbarukan di NTB berasal dari tenaga surya, angin, biomassa, mikrohidro, hingga panas bumi. Saat ini, capaian bauran energi terbarukan NTB telah mencapai sekitar 25 persen, meski sebagian pembangkit masih bergantung pada energi fosil.
“Artinya, masih ada pembangkit yang bergantung pada energi fosil, sehingga transisi energi harus terus dipercepat,” ujar Niken.
Ia menjelaskan, sejumlah langkah konkret telah dilakukan Pemprov NTB, di antaranya pemasangan panel surya di SMKN 3 Mataram dan Kantor Bupati Dompu, pembangunan PLTS oleh PT Amman Mineral dengan kapasitas 26 MW untuk mendukung operasional smelter, serta pembangunan PLTMH di sejumlah wilayah di Lombok.
Selain itu, teknik co-firing biomassa juga telah diterapkan di PLTU Jeranjang, Lombok Barat, dan Taliwang, Sumbawa Barat.
Kemitraan juga dijalin bersama Universitas Mataram dan Universitas Teknologi Sumbawa untuk merakit panel surya bagi nelayan, termasuk kerja sama internasional dalam pembangunan PLTMH Pandan Duri di Lombok Timur dengan kapasitas 500 KW.
Sementara itu, Yuldi Astuti dari Sekra Gema Alam Tetebatu Selatan menceritakan keberhasilan pemanfaatan biogas di desanya. Menurutnya, penggunaan biogas mampu membantu masyarakat tetap memasak saat terjadi kelangkaan LPG di Lombok Timur.
“Ketika elpiji langka, justru warga yang memiliki biogas tetap bisa memasak. Pembangunan biogas dilakukan secara gotong-royong dan swadaya masyarakat,” katanya.
Dukungan terhadap transisi energi berkeadilan juga datang dari PLN UIW NTB. Nyoman Suparta mengatakan keadilan dalam transisi energi harus diiringi peningkatan keterampilan sumber daya manusia, khususnya pekerja sektor energi fosil yang terdampak perubahan teknologi.
Sementara itu, Baiq Dewi Anjani dari Gedsi JET NTB menilai terbitnya Pergub NTB Nomor 13 Tahun 2024 tentang energi hijau menjadi langkah penting dalam membuka ruang partisipasi perempuan dan kelompok inklusif dalam pembangunan energi berkelanjutan.
“Peluang perempuan harus didukung data, kebijakan afirmatif, jaminan teknis, serta kolaborasi lintas sektor,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....