Gadget Jadi ‘Penenang’ Anak, Psikolog Ingatkan Dampak Jangka Panjang

  • 29 Mei 2026 17:59 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Kebiasaan memberikan gadget kepada anak saat menangis atau rewel dinilai dapat memicu masalah emosional di masa depan. Pola tersebut tanpa disadari membentuk ketergantungan emosional terhadap gadget.

Psikolog Klinis BNNP NTB, Wahyu Hasni Ilmi, mengatakan Fenomena penggunaan gadget sebagai alat penenang anak kini semakin sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang tua memilih memberikan ponsel agar anak diam dan tidak mengganggu aktivitas di rumah.

“Daripada anak menangis, diberikan gadget. Lama-kelamaan itu menjadi reward yang salah kepada anak,” ungkapnya, Jumat 29 Mei 2026.

Menurutnya, anak yang terbiasa mendapatkan gadget setiap kali menangis akan menganggap benda tersebut sebagai sumber utama kesenangan. Kondisi itu membuat anak sulit belajar mengelola emosi secara sehat.

Ketika gadget diambil, anak berpotensi mengalami ledakan emosi karena kehilangan sesuatu yang dianggap memberikan kenyamanan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi perilaku agresif.

“Ketika sesuatu yang membuat dia senang diambil, anak akan mudah tantrum. Ke depannya bisa terjadi peningkatan agresivitas karena anak sulit mengontrol diri,” katanya.

Wahyu menjelaskan perkembangan emosi anak pada usia dini masih sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan. Karena itu, pola pengasuhan yang keliru dapat memberikan dampak besar terhadap perilaku anak saat dewasa.

Ia menilai orang tua perlu membangun komunikasi dan pendekatan emosional yang lebih sehat dibandingkan menjadikan gadget sebagai solusi instan. Anak perlu diajarkan cara mengelola emosi tanpa bergantung pada hiburan digital.

“Anak harus dibiasakan belajar menghadapi rasa kecewa dan bosan. Kalau semuanya selalu diselesaikan dengan gadget, anak tidak belajar mengontrol emosi,” jelasnya.

Selain berdampak pada emosi, penggunaan gadget secara berlebihan juga dinilai dapat mengurangi interaksi sosial anak dengan lingkungan sekitar. Anak menjadi lebih fokus pada layar dibandingkan berkomunikasi dengan keluarga maupun teman sebaya.

Wahyu mengatakan kondisi tersebut berpotensi menghambat perkembangan kemampuan sosial anak. Padahal, interaksi sosial menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter.

Ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi tidak boleh menggantikan peran orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Kehadiran dan komunikasi keluarga dinilai tetap menjadi faktor utama dalam pembentukan mental anak.

“Teknologi boleh berkembang, tetapi peran orang tua tidak bisa digantikan oleh gadget. Anak tetap membutuhkan perhatian dan interaksi secara langsung,” ungkapnya.

Ia berharap masyarakat mulai lebih bijak dalam mengenalkan gadget kepada anak sejak usia dini. Dengan pola pengasuhan yang tepat, anak diharapkan mampu tumbuh dengan kondisi emosional yang lebih stabil.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....