Perkebunan Tebu Mengubah Wajah dan Masa Depan Desa Doropeti

  • 29 Mei 2026 12:56 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Dompu - Di bawah kaki megah Gunung Tambora, hamparan perkebunan tebu di Desa Doropeti, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, kini tumbuh menghijau dan menghadirkan harapan baru bagi masyarakat. Dalam dua tahun terakhir, desa yang sebelumnya sangat bergantung pada komoditas jagung itu perlahan mengalami perubahan besar menuju kawasan perkebunan tebu yang menjanjikan.

Kepala Desa Doropeti, Adam Malik, mengaku transformasi ekonomi masyarakat berlangsung sangat cepat sejak tanaman tebu mulai berkembang luas di wilayahnya. Menurutnya, dampak yang dirasakan warga tidak hanya sebatas meningkatnya hasil panen, tetapi juga menyentuh perubahan taraf hidup masyarakat desa.

“Perubahannya luar biasa,” ujarnya Jumat, 29 Mei 2026.

Adam Malik menuturkan, geliat ekonomi warga kini semakin terasa. Rumah-rumah permanen mulai berdiri di berbagai sudut desa menggantikan bangunan lama yang sebelumnya sederhana. Bahkan, banyak anak petani kini mampu melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi berkat meningkatnya pendapatan keluarga dari sektor perkebunan tebu.

“Sekarang rumah batu, rumah baru sudah banyak. Itu efek dari tebu,” katanya.

Secara luas wilayah, lahan jagung di Desa Doropeti masih mendominasi sekitar 1.300 hektare. Sementara itu, lahan tebu kini mencapai kurang lebih 1.200 hektare dan terus bertambah setiap musim tanam.

Besarnya minat masyarakat beralih ke tebu didorong oleh biaya produksi yang dinilai lebih ringan dibandingkan jagung. Selain itu, harga jual tebu dianggap lebih stabil sehingga memberikan kepastian ekonomi bagi petani.

“Kalau tebu ini hasilnya lebih standar. Harga juga sudah jelas, tidak turun naik,” jelasnya.

Kondisi tersebut membuat banyak warga mulai membuka lahan baru untuk ditanami tebu. Kehadiran perusahaan juga menjadi faktor penting dalam mempercepat pertumbuhan perkebunan tebu di kawasan tersebut melalui bantuan bibit gratis hingga bonus produksi bagi petani.

Pada musim panen sebelumnya, perusahaan memberikan bonus sebesar Rp50 ribu per ton kepada petani dengan hasil panen terbaik. Kebijakan itu dinilai mampu meningkatkan semangat masyarakat dalam mengembangkan perkebunan mereka.

“Karena hasil panennya bagus, masyarakat diberikan bonus. Itu yang membuat petani makin semangat,” ucapnya.

Di balik pertumbuhan pesat sektor tebu, Adam Malik mengakui masih ada sejumlah persoalan yang dihadapi para petani. Salah satu yang paling banyak dikeluhkan yakni keterbatasan alat mesin pertanian, terutama traktor atau jonder yang jumlahnya masih sangat minim.

“Yang masih sulit itu alat pertanian. Petani masih rebutan jonder,” katanya menegaskan.

Ia berharap Pemerintah Daerah melalui Dinas Pertanian dapat segera memberikan bantuan alat mesin pertanian untuk menunjang produktivitas warga. Selain itu, pihak perusahaan juga diharapkan dapat membantu penyediaan obat pembasmi rumput agar kualitas lahan tetap terjaga.

Tidak hanya persoalan pertanian, Desa Doropeti juga menghadapi ancaman serius berupa kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kebiasaan sebagian masyarakat membuka lahan dengan cara dibakar dinilai sangat berbahaya karena wilayah desa berbatasan langsung dengan kawasan hutan Tambora.

Adam Malik mengatakan pemerintah desa terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar menghentikan kebiasaan tersebut demi menjaga keselamatan lingkungan dan perkebunan warga.

“Kita terus sosialisasikan supaya masyarakat tidak membakar lahan,” ujarnya.

Meski masih menghadapi berbagai keterbatasan, optimisme masyarakat terhadap masa depan tebu terus tumbuh. Bahkan, menurut Adam Malik, hasil dari perkebunan tebu kini mulai membuka peluang baru bagi masyarakat untuk mewujudkan impian yang sebelumnya sulit dicapai, termasuk berangkat umrah ke Tanah Suci.

“Insya Allah beberapa tahun ke depan banyak yang bisa umrah dari hasil tebu,” katanya mengakhiri.

Fenomena berkembangnya perkebunan tebu tidak hanya terjadi di Desa Doropeti. Sejumlah desa lain di Kecamatan Pekat seperti Desa Beringin Jaya, Calabai, Nangamiro, Soritatanga, hingga Desa Tambora juga mulai bergerak menjadi kawasan perkebunan tebu baru di Kabupaten Dompu.

Kolaborasi antarwilayah itu kini menjadikan kawasan lereng Gunung Tambora sebagai salah satu sentra perkebunan tebu yang mulai diperhitungkan di Nusa Tenggara Barat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....