Produksi Tebu Dompu Ditargetkan Capai 278 Ribu Ton

  • 10 Agt 2026 13:55 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Dompu – Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, menargetkan produksi tebu rakyat pada musim giling Juni hingga Oktober 2026 mencapai 278.000 ton.

Target tersebut ditopang areal tanaman tebu rakyat seluas 6.209 hektare yang tersebar di 10 desa di Kecamatan Pekat. Di tengah upaya meningkatkan produksi, petani tebu justru mendesak agar harga pembelian tebu dinaikkan untuk menjaga keberlanjutan usaha tani.

Kabid Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu, Abdul Khair, mengatakan areal tebu rakyat tersebut tersebar di Desa Soritatanga, Sorinomo, Doropeti, Nangakara, Beringin Jaya, Pekat, Calabai, Karombo, Kadindi Barat dan Nangamiro.

“Luas areal tebu rakyat sekitar 6.209 hektare. Itu di luar areal tebu di Desa Tambora dan Kadindi Timur,” katanya, Senin, 10 Agustus 2026.

Selain perkebunan tebu rakyat, terdapat pula areal tebu Hak Guna Usaha (HGU) milik PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS). Areal HGU yang terawat saat ini mencapai 1.876 hektare.

Pemerintah daerah juga terus mendorong peningkatan produktivitas melalui sejumlah program pengembangan tanaman tebu. Tahun ini, pemerintah melaksanakan program Rehabilitasi Tebu Rakyat melalui Bongkar Ratoon seluas 500 hektare.

Program tersebut dilengkapi dengan Perluasan Areal Tanam (PAT) seluas 500 hektare. Kementerian Pertanian juga memberikan tambahan program PAT melalui E-Bantuan Pemerintah (E-Banper) dengan luas areal mencapai 500 hektare.

Program tambahan tersebut mencakup pengembangan 200 hektare di Desa Riwo, Kecamatan Woja, serta 100 hektare yang berada di Desa Nangakara dan Desa Sorinomo.

Sementara 200 hektare lainnya dialokasikan di Kabupaten Bima, masing-masing direncanakan di Desa Piong, Kecamatan Sanggar, dan Desa Labuan Kananga, Kecamatan Tambora.

Di tengah dukungan program peningkatan produksi, persoalan harga menjadi perhatian petani tebu. Harga pembelian tebu saat ini telah disepakati antara Pabrik Gula Tambora dengan petani sebesar Rp550.000 per ton.

Namun, sejumlah kelompok petani tebu meminta adanya kenaikan harga menjadi Rp600.000 hingga Rp700.000 per ton. Tuntutan tersebut bahkan sempat disampaikan melalui aksi protes kepada manajemen Pabrik Gula Tambora.

Petani menilai kenaikan harga diperlukan untuk menjaga keberlanjutan usaha tani tebu, terutama di tengah meningkatnya berbagai biaya produksi yang harus ditanggung petani.

Perwakilan petani tebu bersama manajemen Pabrik Gula Tambora telah melakukan pertemuan untuk membahas tuntutan tersebut. Namun hingga kini, hasil pembahasan maupun keputusan mengenai usulan kenaikan harga belum diperoleh.

Pemerintah daerah berharap persoalan harga tersebut dapat segera menemukan titik temu antara petani dan pihak pabrik. Kepastian harga dinilai penting agar peningkatan produksi tebu di Dompu dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan petani.

Dengan luas areal tebu rakyat mencapai lebih dari 6.200 hektare dan dukungan berbagai program perluasan serta rehabilitasi tanaman, produksi tebu Dompu pada musim giling 2026 diharapkan mampu mencapai target 278.000 ton.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....