Wayang Botol Bongkar Krisis Sampah Plastik di Pantai Ampenan

  • 26 Mei 2026 19:41 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID.Mataran- Tumpukan sampah plastik yang terus muncul di pesisir Pantai Ampenan mulai memantik keresahan anak-anak. Lewat pertunjukan wayang botol bertajuk “Tuselak: Gurite Raksasa Pantai Ampenan”, mereka menyampaikan pesan keras tentang laut yang kian dipenuhi limbah.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Mataram, H. M. Ramadhani, menilai pendekatan edukasi melalui seni lebih efektif menyentuh masyarakat dibanding kampanye formal.

“Anak-anak punya cara yang jujur dan menyentuh dalam menyampaikan pesan. Ketika mereka berbicara tentang laut dan sampah plastik lewat cerita, pesan itu menjadi lebih mudah diterima masyarakat,” ujarnya.Selasa 26 Mei 2026.

Menurutnya, pemanfaatan ruang publik seperti Pantai Ampenan untuk kegiatan edukatif menjadi bagian penting membangun budaya kota yang lebih peduli lingkungan.

Menurutnya di balik pertunjukan sederhana itu, anak-anak pesisir sebenarnya sedang menyampaikan fakta yang jarang disuarakan sampah plastik di Pantai Ampenan belum benar-benar selesai ditangani.

Botol plastik bekas disulap menjadi tokoh cerita laut. Dari balik layar sederhana di tepi pantai, anak-anak Gerakan Literasi Paus Biru memainkan kisah tentang gurita raksasa yang hidup di tengah pencemaran pesisir.

"Pertunjukan itu bukan sekadar hiburan. Program bertajuk “Dari Sampah Plastik Menjadi Cerita" Katanya.

Edukasi Lingkungan dan Kreasi Reuse melalui Wayang Botol” katanya menjadi cara baru mengungkap persoalan sampah plastik yang selama ini dianggap biasa.Anak-anak pesisir dilibatkan langsung untuk merekam pengalaman mereka melihat sampah di pantai. Dalam sesi refleksi, mereka menulis keresahan di kertas origami berwarna.

“Menurut kamu plastik ini datangnya dari mana?” tulis salah seorang anak.Pertanyaan sederhana itu menggambarkan persoalan yang lebih besar, yakni sampah plastik yang terus kembali ke pesisir tanpa penanganan serius."ujarnya.

Project lead kegiatan, Amor, bersama komunitas Gerakan Literasi Paus Biru dan Archipelagic Research Center kemudian menyusun cerita berdasarkan pengalaman nyata anak-anak. Naskah dikembangkan bersama Sekolah Pedalangan Wayang Sasak dengan memadukan Bahasa Sasak dan Bahasa Indonesia.

"Selama hampir tiga bulan, anak-anak belajar mengolah limbah botol menjadi wayang, memahami dampak plastik terhadap laut, hingga berlatih tampil di depan publik dan ini luar biasa," Kata Dani sapaan akrabnya.

Pesan yang dibawa anaknak menurutnya sederhana namun kuat, karena laut sedang tidak baik-baik saja.Anak-anak yang tinggal di sekitar pantai mengaku terbiasa melihat sampah plastik tersangkut di pasir dan terbawa ombak setelah hujan.

"Kondisi itu menjadi pemandangan sehari-hari yang perlahan mungkin dianggap normal." Ujarnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....