Pabrik Porang di Lombok Timur Masih Bergantung Pasokan Luar Daerah

  • 26 Apr 2026 13:44 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Timur - Ketersediaan lahan budidaya porang di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pabrik pengolahan porang yang beroperasi di Kecamatan Pringgabaya. Akibatnya, pasokan utama porang saat ini masih didatangkan dari luar daerah, seperti Pulau Sumbawa, Lombok Utara (KLU), hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, mengakui bahwa keterbatasan lahan menjadi kendala utama dalam memenuhi kebutuhan industri lokal.

"Bahan baku yang diolah saat ini banyak berasal dari NTT, Pulau Sumbawa, dan Lombok Utara. Kita masih mengandalkan daerah lain karena lahan kita belum memadai. Saat ini kita baru memiliki sekitar 400 hektare,” ujarnya Minggu, 26 April 2026.

Meski demikian, dari sisi budidaya, tanaman porang dinilai relatif mudah dikembangkan. Menurutnya, porang tidak membutuhkan pupuk kimia maupun penyemprotan pestisida, sehingga budidayanya cenderung alami dibandingkan tanaman lain.

Keterbatasan pasokan dari Lotim juga dipengaruhi oleh siklus panen porang yang cukup lama, yakni sekitar 6 hingga 8 bulan, sehingga produksi bersifat musiman. Sementara itu, kebutuhan bahan baku pabrik mencapai sekitar 60 ton per hari.

Pemerintah Kabupaten Lombok Timur terus mendorong pengembangan komoditas ini. Salah satu langkah yang dilakukan adalah bekerja sama dengan kementerian terkait untuk memberikan pembinaan kepada petani, termasuk bantuan benih dan sarana budidaya lainnya.

Saat ini, harga bahan baku porang berada di kisaran Rp10.200 per kilogram. Kehadiran pabrik pengolahan porang di Pringgabaya juga telah memberikan dampak positif dengan menyerap puluhan tenaga kerja lokal.

Sementara itu, Manager Central Pengolahan Porang, Dian Rahardian, menyampaikan bahwa potensi pengembangan porang di Lotim sangat besar, namun membutuhkan waktu untuk membangun ekosistem yang berkelanjutan.

“Potensi kita sangat bagus, tetapi perlu waktu untuk membangun, terutama dalam pengembangan lahan. Saat ini kebutuhan kami mencapai 60 ton bahan baku per hari,” jelasnya.

Ia menambahkan, pihaknya siap menyerap bahan baku sebanyak mungkin agar operasional pabrik tetap berjalan optimal.

“Kami sebenarnya berharap sebagian besar bahan baku bisa berasal dari Lotim, karena pabriknya ada di sini. Tapi karena belum siap, kami mengambil dari mana saja, termasuk dari NTT,” ucapnya

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....