Babinsa Perempuan di Karang Bayan, Inspirasi “Kartini Masa Kini” dari NTB
- 22 Apr 2026 14:37 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Barat - Tugas sebagai Bintara Pembina Desa (Babinsa) dikenal menuntut kesiapan fisik dan mental dalam menjaga keamanan serta ketertiban masyarakat. Namun di Desa Karang Bayan, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, sosok Babinsa perempuan justru menghadirkan warna baru sekaligus inspirasi bagi warga.
Ia adalah Nyoman Dewi Tri Ary Susanti, yang bertugas di Koramil 1608/Narmada, Kodim 1606/Mataram. Pelda (K) Dewi dikenal sebagai Babinsa perempuan pertama di Nusa Tenggara Barat (NTB), sebuah peran yang selama ini identik dengan laki-laki.
“Saya merupakan Babinsa perempuan pertama di NTB. Ini suatu kehormatan karena pimpinan memberikan kepercayaan kepada saya untuk mengemban tugas ini,” ujar Pelda Dewi, Selasa 21 April 2026.
Ia menuturkan, tugas sebagai Babinsa bukan hanya menjaga keamanan wilayah, tetapi juga terlibat langsung dalam kehidupan sosial masyarakat, mulai dari memahami persoalan hingga membantu penyelesaiannya.
“Menjadi Babinsa itu luar biasa. Kita tidak hanya bekerja dengan hati nurani, tapi juga harus langsung bersentuhan dengan masyarakat. Tantangannya pasti ada, karena di masyarakat banyak persoalan yang harus kita hadapi,” katanya.
Pelda Dewi mulai menjalankan tugasnya sejak 2025 dan telah mengabdi selama sekitar enam bulan. Dalam kurun waktu tersebut, ia mengaku memperoleh banyak pengalaman baru, terutama dalam berinteraksi dengan masyarakat desa.
Di Desa Karang Bayan, ia aktif menjalankan sejumlah program yang berfokus pada isu sosial. Salah satu perhatian utamanya adalah penanganan stunting yang masih menjadi tantangan di wilayah tersebut.
“Saya melihat masih banyak anak-anak yang kekurangan gizi. Itu yang menjadi fokus utama saya, bagaimana bisa membantu menurunkan angka stunting,” ujarnya.
Selain itu, ia juga mendorong penguatan ekonomi masyarakat melalui optimalisasi potensi desa, khususnya di sektor pariwisata dan pengolahan sumber daya alam.
Menurutnya, Karang Bayan memiliki potensi besar, mulai dari hasil pertanian seperti durian dan manggis hingga pohon aren yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
“Selama ini nira sering hanya dijadikan gula atau difermentasi. Padahal bisa diolah menjadi produk lain yang lebih bernilai dan tidak beralkohol. Ini yang ingin saya dorong,” jelasnya.
Desa Karang Bayan sendiri terdiri dari lima dusun dengan keberagaman masyarakat yang hidup berdampingan. Warga dari berbagai latar belakang agama, seperti Muslim, Hindu, dan Nasrani, hidup rukun dengan semangat gotong royong yang kuat.
“Yang luar biasa di sini adalah kebersamaan masyarakatnya. Tidak ada perbedaan. Mereka hidup rukun dan gotong royong sangat kuat,” kata Pelda Dewi.
Kehadiran Babinsa perempuan di wilayah tersebut juga mendapat respons positif dari masyarakat. Ia menyebut, keberadaannya menjadi motivasi bagi generasi muda, khususnya perempuan, untuk berani mengejar cita-cita.
“Selama ini masyarakat berpikir tentara itu hanya laki-laki. Sekarang mereka tahu perempuan juga bisa. Saya berharap ini bisa memotivasi anak-anak muda untuk mengejar cita-cita mereka,” ujarnya.
Dalam menjalankan tugas, Pelda Dewi harus selalu siap siaga kapan pun dibutuhkan, termasuk di luar jam kerja. Ia mengaku dukungan keluarga menjadi faktor penting dalam menjalankan tanggung jawab tersebut.
“Babinsa tidak mengenal waktu. Kapan pun dibutuhkan, kita harus siap. Saya bersyukur keluarga selalu mendukung,” katanya.
Meski menghadapi berbagai tantangan, ia tetap merasa bangga dapat menjalankan tugas sebagai Babinsa dan berharap kehadirannya memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Saya mungkin tidak bisa membantu banyak, tapi saya ingin kehadiran saya bisa memberi warna dan manfaat bagi desa,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....