Teknologi Uji Tanah Buka Jalan Warga Binaan Lapas Lobar Jadi Petani Produktif

  • 20 Apr 2026 14:10 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat — Upaya meningkatkan produktivitas pertanian berbasis data ilmiah mulai diterapkan di lingkungan Lapas Kelas IIA Lombok Barat. Melalui uji kelayakan tanah yang dilakukan bersama PT Pupuk Indonesia, langkah ini menjadi fondasi penting dalam merancang pembinaan pertanian yang lebih terarah dan berkelanjutan.

Agronomis PT Pupuk Indonesia, Azis Satria Putra, S.P., M.P., menegaskan kegiatan ini merupakan bagian dari layanan gratis perusahaan kepada petani di seluruh Indonesia, termasuk di lingkungan lembaga pemasyarakatan.

“Ya kami dari Pupuk Indonesia memang memberikan layanan uji tanah secara gratis kepada petani di seluruh Indonesia, salah satunya di Lapas Kelas IIA Lombok Barat,” ujarnya, Senin 20 April 2026.

Ia menjelaskan, proses pengambilan sampel tanah dilakukan secara sistematis dengan metode diagonal. Sampel diambil dari beberapa titik, yakni sudut dan bagian tengah lahan, kemudian digabungkan agar homogen sebelum diuji.

“Kemudian beberapa sampel yang sudah diambil dalam satu hamparan dijadikan satu supaya homogen, lalu kita jadikan sampel untuk diuji tanahnya,” katanya.

Dalam pengujian, digunakan dua metode berbeda untuk memastikan hasil yang akurat. Metode pertama menggunakan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) dengan pendekatan reaksi kimia yang menghasilkan indikator warna untuk membaca kondisi tanah secara kualitatif.

“Dari warna itu sudah bisa menentukan kondisi pH, kandungan nitrogen, fosfor, kalium, dan juga bahan organik,” ucapnya.

Selain itu, pengujian juga diperkuat dengan alat digital berbasis Internet of Things (IoT) yang mampu memberikan data kuantitatif secara langsung.

“Dengan alat digital ini kita bisa mengetahui angka pasti pH serta kandungan nitrogen, fosfor, dan kalium,” katanya menegaskan.

Azis menekankan, hasil uji tanah menjadi dasar utama dalam menentukan rekomendasi pemupukan yang tepat sesuai kondisi lahan atau yang dikenal sebagai pemupukan spesifik lokasi.

“Harapannya dari hasil uji tanah ini kita bisa merekomendasikan pupuk yang tepat sesuai lokasi,” ujarnya.

Menurutnya, tingkat produktivitas lahan tidak bisa ditentukan secara kasat mata, melainkan harus berdasarkan hasil analisis laboratorium. “Produktif atau tidaknya lahan itu kita lihat dari hasil uji tanah, nanti hasilnya yang akan berbicara langsung,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya keseimbangan unsur hara seperti nitrogen, fosfor, dan kalium. Jika salah satu unsur rendah, maka perlu dilakukan penyesuaian jenis pupuk. Selain itu, faktor pH tanah menjadi penentu utama keberhasilan panen.

“pH ini sangat penting, karena seringkali menentukan berhasil atau tidaknya panen. Kalau pH rendah, tanaman bisa sakit, jadi harus diantisipasi,” ucapnya.

Sementara itu, Kasubsi Bimbingan Kerja dan Pengelolaan Hasil Kerja (Bimker dan PHK) Lapas Lombok Barat, I Putu Ganesa Cakrawanasis, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam mendukung program ketahanan pangan di dalam lapas.

“Kami dibantu oleh PT Pupuk Indonesia untuk menguji tanah pertanian, karena untuk mendapatkan hasil maksimal tentu harus diawali dengan uji tanah,” ujarnya.

Ia menambahkan, hasil uji ini akan menjadi acuan dalam menentukan pola pembinaan pertanian yang tepat bagi warga binaan. “Ini untuk menentukan pola pembinaan pertanian yang akan kita laksanakan di Lapas Lombok Barat,” katanya.

Ke depan, Lapas Lombok Barat berkomitmen mengembangkan berbagai program pertanian, mulai dari tanaman padi hingga hortikultura. Menariknya, lahan yang digunakan merupakan bekas tempat pembuangan sampah yang kini disulap menjadi area produktif.

“Brengang ini dulunya tempat pembuangan sampah, sekarang kami jadikan lahan pertanian,” ucapnya.

Untuk saat ini, uji tanah masih dilakukan dengan metode sampling di beberapa titik lahan. Pihak lapas pun masih menunggu hasil analisis laboratorium sebagai dasar pengambilan kebijakan selanjutnya.

“Kita menguji beberapa titik lokasi dan menunggu hasil uji lab dari PT Pupuk Indonesia,” katanya.

Ia berharap, program ini mampu meningkatkan kualitas pembinaan sekaligus mendorong warga binaan menjadi lebih produktif. “Harapannya ke depan, warga binaan bisa lebih produktif dan tidak mengulangi tindak pidana kembali,” katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....