Banjir Rob Intai Pesisir Lombok dan Bima 15 sampai 24 April 2026

  • 15 Apr 2026 08:52 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Pesisir Lombok dan Bima
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)
  • Waspada Banjir Rob

RRI.CO.ID, Mataram - Ancaman banjir rob kembali menghantui wilayah pesisir Nusa Tenggara Barat (NTB). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi pasang maksimum air laut yang dapat memicu genangan di sejumlah kawasan pesisir Lombok dan Bima pada 15–24 April 2026.

Kepala Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), Satria Topan Primadi, mengatakan fenomena ini dipicu oleh pasang air laut yang mencapai ketinggian hingga 2 meter. “Kondisi ini berpotensi menimbulkan banjir rob, terutama di wilayah pesisir yang rendah dan daerah bantaran sungai,” ujarnya, melalui keterangan tertulisnya, Rabu, 15 April 2026.

BMKG mencatat, kondisi cuaca di wilayah Lembar diperkirakan cerah hingga hujan ringan, dengan arah angin dari timur laut hingga selatan berkecepatan 5–20 knot. Tinggi gelombang berkisar antara 0,5 hingga 2,5 meter. Sementara itu, waktu pasang maksimum diprediksi terjadi pada pukul 09.00 hingga 15.00 WITA.

Adapun di wilayah Sape, Bima, cuaca diprakirakan cerah hingga hujan sedang, dengan karakteristik angin dan tinggi gelombang yang relatif serupa. Namun, durasi pasang maksimum diperkirakan lebih panjang, yakni hingga pukul 18.00 WITA.

Sejumlah wilayah pesisir yang masuk dalam kategori rawan terdampak antara lain Ampenan, Sekarbela, Gerung, Lembar, Pemenang, Jerowaru, hingga Labuhan Lombok di Pulau Lombok. Di Pulau Sumbawa, potensi serupa mengancam wilayah Sumbawa dan Labuhan Badas.

Sementara itu, di wilayah Bima, kawasan seperti Palibelo, Woha, Bolo, Langgudu, Soromandi, Sape, Rasanae Barat, Hu’u, dan Asakota masuk dalam daftar daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan.

Satria menekankan, masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan dataran rendah diharapkan tidak mengabaikan potensi risiko ini. “Kami mengimbau warga tetap siaga, terutama saat periode pasang maksimum. Genangan air laut bisa terjadi sewaktu-waktu,” katanya.

Ia juga meminta nelayan dan pengguna jasa transportasi laut untuk memperhatikan kondisi gelombang yang dapat mencapai 2,5 meter, meski masih dalam kategori sedang.

Menurut BMKG, fenomena banjir rob tidak hanya berdampak pada permukiman, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat pesisir, termasuk perikanan dan transportasi.

Karena itu, masyarakat diminta rutin memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG, termasuk situs maritim dan media sosial. Pembaruan informasi dinilai penting untuk mengantisipasi perubahan kondisi cuaca yang dapat terjadi secara cepat.

“Informasi resmi BMKG menjadi rujukan utama. Kami terus memperbarui data sesuai perkembangan dinamika atmosfer dan laut,” ujar Satria.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....