Dialog Kentongan RRI Mataram Soroti Pembangunan Rendah Karbon di NTB

  • 14 Apr 2026 18:08 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram : Isu perubahan iklim yang kian nyata mendorong berbagai pihak untuk bergerak bersama mencari solusi. Hal ini menjadi fokus dalam Dialog Kentongan yang disiarkan dari Studio Pro 1 RRI Mataram, Selasa 14 April 2026 pukul 16.00–17.00 WITA, dengan mengangkat topik “Praktik Baik Aksi Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim di NTB.”

Dalam dialog menghadirkan dua narasumber, yakni Baiq Yulfia Yanuartati dari GEDSI Specialist Konsepsi NTB dan Suhupawati, M.Pd dari Gema Alam NTB. Keduanya berbagi pengalaman lapangan terkait upaya menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin dirasakan masyarakat.

Dalam dialog tersebut diungkapkan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan suhu bumi, cuaca yang tidak menentu, hingga kenaikan permukaan air laut menjadi fenomena yang berdampak langsung pada sektor pertanian dan kelautan.

Baiq Yulfia Yanuartati menjelaskan, pembangunan rendah karbon dan berketahanan iklim merupakan bagian dari inisiatif global sekaligus respons Indonesia dalam menghadapi krisis iklim. Menurutnya, upaya yang dilakukan tidak hanya sebatas bertahan dari dampak cuaca ekstrem, tetapi juga menitikberatkan pada mitigasi untuk menekan laju perubahan iklim.

“Intinya adalah bagaimana kita memitigasi atau mencegah agar perubahan iklim tidak semakin parah. Saat ini kita bahkan sudah memasuki fase kenaikan suhu bumi hingga 1,5 derajat Celsius yang berdampak besar terhadap keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekosistem,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa dampak perubahan iklim berpotensi lebih besar dibandingkan pandemi, sehingga diperlukan langkah konkret melalui pembangunan rendah karbon guna menekan emisi dan memperlambat kenaikan suhu global.

Sementara itu, Suhupawati dari Gema Alam NTB, menekankan bahwa pembangunan berketahanan iklim harus mengedepankan pengurangan emisi sekaligus memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan tersebut. Ia menyoroti pentingnya penggunaan energi bersih, perlindungan lingkungan, serta peningkatan peran kelompok rentan seperti perempuan dan penyandang disabilitas.

“Pembangunan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus memastikan lingkungan tetap terjaga dan masyarakat memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan bermitigasi,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi cuaca yang tidak menentu saat ini—panas ekstrem yang tiba-tiba disusul hujan—menjadi bukti nyata perubahan iklim yang memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan berbagai opsi dan langkah nyata agar masyarakat lebih tangguh menghadapi situasi tersebut.

Dialog Kentongan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran publik sekaligus mendorong aksi nyata dalam mendukung pembangunan rendah karbon dan ketahanan iklim, khususnya di Provinsi Nusa Tenggara Barat. (Joi/RRI)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....